Rabu, 02 November 2011

APAKAH ANDA BEKERJA TERLALU KERAS?



ARTIKEL ini membantu kita untuk menghindari kelelahan dan menjaga keseimbangan, jangan menukar kesehatan, kebugaran fisik, mental serta hubungan keluarga dengan bekerja terlalu keras!

A man working late

Are You Working
Too Hard?

Are You Stressed Out?

DI SELURUH dunia, konflik antara pekerjaan dan kehidupan keluarga telah menjadi masalah besar. Seperti diperlihatkan oleh sebuah sumber, ’globalisasi, teknologi baru, dan ekonomi 24/7 (bisnis yang dijalankan 24 jam nonstop selama 7 hari seminggu) yang sangat menuntut, telah mengaburkan batas-batas tradisional antara rumah dan pekerjaan’. Perubahan-perubahan ini telah menghasilkan kemakmuran yang luar biasa. Namun, keberhasilan ini bukannya tanpa tumbal. Menurut seorang penulis, ”Jutaan dari kita bekerja terlalu keras, dengan jadwal yang terlalu padat dan terlalu banyak. Kita benar-benar kelelahan.”


Kini, ditambah lagi dengan resesi ekonomi baru-baru ini, yang dampaknya amat mematahkan semangat. Para pekerja di seluruh dunia, baik buruh kasar maupun karyawan kantor, telah kehilangan pekerjaan dan rumah mereka. Mereka mungkin menyesal tidak bekerja lebih keras.
Mari kita perhatikan seberapa luas permasalahan ini:

  • Di Eropa, 6 dari 10 pekerja menderita stres karena pekerjaan.
  • Di Amerika Serikat, 1 diantara 3 karyawan sering merasa bekerja melewati batas.
  • Lebih di antara 2 di antara 3 orang Kanada merasa sulit menyeimbangkan kehidupan kelarga dengan pekerjaan.
  • It Diperkirakan bahwa lebih dari 600 juta pekerja, atau 22 persen dari tenaga kerja global, bekerja lebih dari 48 jam seminggu.
Angka statistik tersebut memperlihatkan betapa parahnya kesukaran manusia. Beberapa penelitian mengaitkan jam kerja yang panjang dan tidak teratur dengan kesehatan yang memburuk, hubungan yang tidak harmonis, pengasuhan anak yang buruk, perpisahan, dan perceraian.


THE “SECOND SHIFT”

A stressed mother
“Sepulang kerja,” kata seorang karyawati, ”saya harus menyiapkan makan malam, membersihkan rumah, mencuci pakaian, menjemput anak-anak, membantu mereka mengerjakan PR, dan memastikan bahwa mereka sudah mandi serta siap untuk tidur. Setelah itu, capeknya setengah mati.” Jutaan dari pekerja wanita di seluruh dunia yang diperkirakan banyaknya 1,2 miliar menghadapi ”dua pekerjaan” yang menciutkan hati ini, seperti yang juga dialami banyak kaum pria. Namun, survei memperlihatkan bahwa kaum pria sering menolak melakukan pekerjaan rumah tangga. Biasanya kaum wanita yang melakukan kebanyakan tugas ini, tidak soal mereka bekerja di luar rumah atau tidak.
Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda bekerja terlalu keras? Atau, apakah Anda termasuk di antara jutaan orang yang sekarang menganggur? Apakah Anda ingin lebih seimbang dalam pekerjaan dan kehidupan keluarga? Jika demikian, bagaimana caranya?


Baca lebih lanjut klik disini.
Appeared in Awake!  January 2010 
  Salinan parafrasa untuk pembaca situs ini © 2011 @ Copyright © 2010 Watch Tower Bible and Tract Society 
  of Pennsylvania. All rights reserved.

Senin, 31 Oktober 2011

Uang dan Moral—Hikmah dari Sejarah

Sejarah masa lalu yang buruk jika di ambil hikmahnya untuk perubahan akan membangun suatu masyarakat adil dan makmur alih-alih masyarakat yang keos dan terdisintegrasi karena keburukan perilaku dan penyalahgunaan kekuasaan dan uang. Namun apakah itu bisa dicapai melalui penguasa manusia yang tidak sempurna? Bagaimana Uang dan Moral dapat dikendalikan? Bagaimana kita belajar dan mengambil hikmahnya? Pertimbangkan beberapa contoh sejarah di masa lampau dari orang-orang yang mempelopori suatu pengejaran kekuasaan dan kekayaan dengan menjalankan prinsip dunia: "manusia yang satu menguasai manusia yang lain ......." walaupun pencapaian mereka menjadi sejarah berdirinya negara besar dan berkuasa. Namun apakah esensi moralnya tercapai?

A scale balancing a Bible and money

Money and Morals—Can You Have Both?

A Lesson From History

PADA tanggal 7 April 1630, sekitar empat ratus orang berlayar dengan empat kapal dari Inggris ke Dunia Baru (sebutan untuk Benua Amerika kala itu). Banyak di antara mereka berpendidikan tinggi. Yang lain-lain adalah pengusaha yang sukses. Ada juga anggota parlemen. Keadaan ekonomi di Inggris sedang merosot, dan diperburuk oleh Perang Tiga Puluh Tahun yang sedang berkecamuk di Eropa (1618-48). Jadi, mereka mengambil risiko dengan meninggalkan rumah, usaha, dan kaum kerabat dan pergi demi mencari peluang yang lebih baik.

Sailing shipsNamun, rombongan yang penuh harap ini bukanlah sekadar para pedagang yang hanya mencari keuntungan. Mereka adalah orang Puritan, kelompok agama yang bergairah, yang melarikan diri dari penindasan.* Tujuan mereka yang sesungguhnya ialah membentuk masyarakat yang saleh agar mereka dan keturunan mereka dapat hidup makmur secara materi tanpa harus mengkompromikan standar Alkitab. Segera setelah berlabuh di Salem, Massachusetts, mereka mengklaim sebidang tanah di dekat pantai. Tempat tinggal mereka yang baru itu mereka namai Boston.


Sulit Menjaga Keseimbangan

John Winthrop, pemimpin dan gubernur mereka, berupaya sebisa-bisanya untuk memajukan kekayaan pribadi dan kesejahteraan umum di koloni yang baru ini. Dia ingin agar orang-orang memiliki uang sekaligus moral. Namun, menjaga keseimbangan terbukti sulit. Untuk mengantisipasi tantangan, ia berbicara panjang lebar kepada para rekannya tentang peranan kekayaan dalam suatu masyarakat yang saleh.

Seperti para gubernur Puritan lainnya, Winthrop percaya bahwa mengejar kekayaan itu sendiri tidaklah salah. Fungsi utama kekayaan, menurut pendapatnya, ialah untuk membantu orang-orang lain. Jadi, semakin kaya seseorang, semakin banyak hal baik yang dapat dilakukannya. ”Kekayaan adalah pokok yang paling meresahkan orang-orang Puritan,” komentar sejarawati Patricia O’Toole. ”Kekayaan bisa menjadi tanda berkat Allah dan godaan yang kuat untuk melakukan dosa kesombongan . . . dan dosa perbuatan daging.”

Untuk menghindari dosa-dosa yang ditimbulkan oleh kekayaan dan kemewahan, Winthrop menganjurkan kesahajaan dan pengekangan diri. Namun, tak lama kemudian, hasrat sesama warga koloni untuk mencari untung cenderung bertolak belakang dengan upayanya mendesak mereka untuk mempraktekkan kesalehan dan mengasihi satu sama lain. Timbullah perlawanan terhadap apa yang mereka anggap sebagai campur tangan Winthrop yang keterlaluan dalam urusan pribadi mereka. Beberapa orang mulai menghasut orang-orang untuk memilih majelis yang akan ikut membuat keputusan. Yang lain-lain lebih memilih hengkang ke Connecticut untuk mengejar kepentingan diri mereka sendiri.

”Kesempatan, kemakmuran, demokrasi,” kata O’Toole, ”semua merupakan daya pendorong yang kuat dalam kehidupan orang-orang Puritan Massachusetts, dan semua cenderung mengobarkan ambisi pribadi tanpa mempedulikan cita-cita Winthrop untuk menggunakan kekayaan demi kesejahteraan umum.” Pada tahun 1649, Winthrop meninggal pada usia 61 tahun, boleh dikata dengan kantong kosong. Meskipun koloni yang rapuh itu masih dapat bertahan di tengah banyak kesukaran, Winthrop tidak pernah melihat cita-citanya terwujud..


Pencarian Berlanjut

John Cita-cita John Winthrop yang idealistis untuk mewujudkan suatu dunia yang lebih baik tidak mati bersamanya. Setiap tahun, ratusan ribu orang pindah dari Afrika, Asia Tenggara, Eropa Timur, dan Amerika Latin, berharap mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Beberapa dari mereka terdorong melakukan hal ini karena pengaruh ratusan buku baru, seminar, dan situs Internet yang dihasilkan setiap tahun yang berjanji memberikan kunci untuk mendapatkan kekayaan. Jelaslah, banyak yang masih berupaya mendapatkan uang, dengan harapan tidak mengorbankan nilai-nilai moral.

Namun terus terang, hasilnya ternyata mengecewakan. Orang yang mencari kekayaan sering kali pada akhirnya mengorbankan prinsip-prinsip mereka dan kadang-kadang bahkan iman mereka pada mezbah Mamon. Oleh karena itu, sepatutnyalah Saudara bertanya, ”Dapatkah seseorang menjadi penyembah Allah yang sejati [karena rupanya Allah itu tergantikan dengan uang] dan sekaligus kaya? Bisakah tercipta suatu masyarakat yang saleh dan makmur secara materi maupun rohani?” [Selengkapnya di] artikel berikut.


*  Nama Puritan diberikan pada abad ke-16 kepada sekelompok orang Protestan dalam Gereja Inggris yang ingin memurnikan gereja mereka dari segala bentuk pengaruh Katolik Roma.
Appeared in The Watchtower  February 1, 2006