Selasa, 07 Juni 2011

Bagaimana Perasaan Banyak Orang? Apa Jawabannya?




Hukum manusia tidak menjamin keadilan dan pemerataan kesejahteraan sosial, misalnya di negeri ini masih belum menemukan solusi penegakan hukum, issue besarnya tentang kepastian hukum, ketika lembaga legislatif mendapati persoalan korupsi issue publisitas kemudian dilemparkan ke lembaga yudikatif  sementara penguasa ekskutif pun menemui jalan buntu karena terlilit kasus-kasus hukum yang tak kunjung tuntas, ternyata didapati tiga lembaga ini terus tersandera dalam siklus penyuapan. 

Secara emosi pun banyak orang tidak kunjung menemukan keamanan.  Sungguh menyedihkan, banyak orang yang berharap menemukan kedamaian dan kepuasan dalam perkawinan dan kehidupan keluarga akhirnya mengalami kekecewaan. Secara rohani, banyak orang yang pergi ke [tempat-tempat ibadat] malah menjadi bingung dan gundah. Mereka meragukan manfaat dari bimbingan yang mereka terima, apalagi sewaktu melihat tingkah laku yang tercela dan ajaran yang tidak berdasarkan Alkitab dari pemimpin agama mereka. Itu sebabnya, banyak orang merasa tidak punya pilihan kecuali berharap pada sains atau niat baik serta akal sehat sesama mereka. Tidak mengherankan, orang-orang di sekitar kita merasa sangat tidak aman atau memilih untuk tidak terlalu memusingkan masa depan mereka. Parafrasa dari w2011 6/15. gambar dari feelingfaces.com

Tentu kita tidak ingin generasi mendatang tambah rusak secara mental karena pendahulu mereka tidak mampu mengatasi persoalan diatas. Contohnya hakim: kehilangan panutan munusia, sehingga tidak sanggup memastikan penegakan hukum. Sebenarnya tidak salalu hakim tetapi semua unsur dalam kekuasaan perlu rukun dengan anutan tertinggi~ sesungguhnya anutan yang sangat dilupakan adalah Pencipta mereka sendiri yang kini di abaikan, rasa takut akan Penguasa Yang Mahatingggi (Mazmur 83:18) di alam semesta ini telah pudar.

 Maka apa yang dibutuhkan anak-anak kita atau generasi berikut? Semua Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas terjawab dalam majalah digital ini. Powered by GoogleDoc. Harap bersabar untuk menampilkannya docviever google membutuhkan waktu.







Bagaimana Perasaan Anda Melihat Orang-Orang Melakukan Apa yang Buruk?

Mengapa Orang Melakukan Hal-Hal yang Buruk?

A man being arrested

BANYAK orang akan menyetujui satu hal ini: Kita semua tidak sempurna dan karena itu berbuat salah dan melakukan hal-hal yang belakangan kita sesali. Sekalipun benar, apakah itu yang menjadi penyebab banyak perbuatan buruk, besar dan kecil, yang kita lihat atau dengar hampir setiap hari, secara langsung atau melalui media?

Meskipun tidak sempurna, manusia pada umumnya mengakui bahwa ada batasan moral yang tidak boleh dilanggar dan bahwa manusia sanggup menahan diri untuk tidak melakukan tindak kejahatan. Biasanya, orang-orang juga setuju bahwa ada perbedaan antara memfitnah dan mengatakan apa yang tidak benar karena khilaf, antara melakukan pembunuhan terencana dan mencederai orang secara tidak sengaja. Meskipun demikian, perbuatan yang mengejutkan sering kali dilakukan oleh orang yang tampak biasa-biasa saja di masyarakat. Mengapa? Mengapa orang melakukan hal-hal buruk?
A woman shoplifting
Alkitab membantu kita mengerti hal ini. Alkitab dengan tepat menunjukkan alasan-alasan utama mengapa orang melakukan hal-hal yang mereka tahu buruk. Perhatikan apa yang dikatakannya.
  • “Karena penindasan, orang berhikmat dapat bertindak gila.”—PENGHOTBAH 7:7.
    Alkitab mengakui bahwa adakalanya, karena dipaksa keadaan, orang melakukan hal-hal yang biasanya tidak akan mereka lakukan. Ada yang bahkan melakukan tindak kriminal dalam upaya mewujudkan apa yang mereka anggap sebagai solusi untuk penderitaan dan ketidakadilan. ”Dalam banyak kasus,” kata buku Urban Terrorism, ”motivasi utama seorang teroris adalah frustrasi murni terhadap kekuatan politik, sosial dan ekonomi yang tampaknya tidak dapat berubah.”
  • “Akar segala kejahatan ialah cinta uang.”—1 TIMOTIUS 6:10TERJEMAHAN BARU.
    Ada yang mengatakan bahwa semua orang bisa dibeli, yang menyiratkan bahwa bahkan orang baik mau melanggar peraturan dan prinsip moral jika disodori banyak uang. Orang yang kelihatannya ramah dan baik hati di bawah keadaan normal seakan-akan berubah total menjadi menyebalkan dan garang kalau sudah menyangkut uang. Bayangkan banyaknya kejahatan yang berakar pada ketamakan—pemerasan, penipuan, penculikan, dan bahkan pembunuhan.
  • “Karena hukuman atas perbuatan jahat tidak segera dilaksanakan, itulah sebabnya hati putra-putra manusia berkeras sepenuhnya untuk melakukan yang buruk”—PENGHOTBAH 8:11.
    Ayat tersebut menunjukkan kecenderungan manusia untuk berpikir bahwa orang dapat lolos dari hukuman jika tidak ketahuan oleh yang berwenang. Begitulah halnya dengan orang yang mengebut di jalan tol, menyontek saat ujian, menggelapkan uang rakyat, dan yang lebih buruk lagi. Jika hukum tidak diterapkan secara konsisten atau jika tidak ada lagi rasa takut ketahuan, orang yang biasanya taat hukum mungkin akan menjadi berani melakukan hal-hal yang biasanya tidak akan ia lakukan. ”Karena mudahnya penjahat lolos dari hukuman,” komentar majalah Arguments and Facts, ”warga biasa tampaknya terdorong untuk melakukan kejahatan yang paling brutal.”
  • “Masing-masing dicobai dengan ditarik dan dipikat oleh keinginannya sendiri. Kemudian apabila keinginan itu telah menjadi subur, ia akan melahirkan dosa.”—YAKUBUS 1:14, 15.
    Semua orang bisa memiliki pikiran yang salah. Setiap hari, kita dibombardir dengan banyak sekali ajakan dan godaan untuk berbuat salah. Alkitab memberi tahu orang Kristen masa awal, ”Godaan yang menimpa kamu hanyalah apa yang umum bagi manusia.” (1 Korintus 10:13) Sekalipun demikian, hasil akhirnya bergantung pada pilihan yang dibuat—segera menepis pikiran buruk atau terus memikirkannya dan membiarkannya berkembang. Ayat tadi, kutipan dari surat terilham Yakobus, memperingatkan bahwa jika seseorang membiarkan keinginan yang salah ”menjadi subur”, tindakan yang buruk pasti menyusul.
  • “Ia yang berjalan dengan orang-orang berhikmat akan menjadi berhikmat, tetapi ia yang berurusan dengan orang-orang bebal akan mengalami kemalangan.”—AMSAL 13:20.
    Jangan pernah meremehkan pengaruh teman atas diri kita—entah itu baik atau buruk. Sering sekali, orang melakukan hal-hal yang awalnya tidak mereka niatkan—semuanya mereka lakukan karena tekanan teman atau, seperti kata banyak orang, karena pergaulan buruk, dan bencanalah yang mereka tuai. Dalam bahasa Alkitab, ’orang bebal’ tidak memaksudkan orang yang bodoh secara intelektual, tetapi orang yang mengabaikan nasihat yang bijaksana dari Firman Allah. Tua atau muda, jika kita tidak memilih teman bergaul dengan bijaksana, yaitu, menurut standar yang baik dari Alkitab, kita bisa mengantisipasi ”kemalangan.”
Ayat-ayat tadi dan banyak ayat lain dalam Alkitab dengan tepat menjelaskan mengapa orang-orang—mungkin yang biasanya normal-normal saja—melakukan apa yang buruk, bahkan yang mengejutkan. Memang bermanfaat jika kita memahami kekuatan yang mendorong orang melakukan hal-hal yang mengerikan, tetapi adakah harapan bahwa keadaan akan membaik? Ya, karena Alkitab tidak hanya menjelaskan mengapa orang melakukan tindak kejahatan tetapi juga menjanjikan bahwa perbuatan seperti itu tidak akan ada lagi. Apa saja yang dijanjikannya? Apakah semua hal buruk di dunia ini akan benar-benar berakhir? Artikel berikut akan menjawabnya.


Selanjutnya: Bagaimana Orang-Orang yang Melakukan Hal-Hal Buruk Diubah?




Appeared in The Watchtower  September 1, 2010

Rabu, 01 Juni 2011

Mengapa Begitu Mudah untuk Berdusta?

TIDAK seorang pun suka didustai. Namun, orang-orang di seputar bumi berdusta karena berbagai alasan. Suatu survai yang muncul dalam buku The Day America Told the Truth, karangan James Patterson dan Peter Kim, menyingkapkan bahwa 91 persen orang Amerika berdusta secara tetap tentu. Kedua penulis itu menyatakan, ”Mayoritas dari antara kita merasa sulit untuk tidak berdusta selama seminggu saja. Satu dari antara lima tidak dapat melewati satu hari pun tanpa berdusta—dan yang sedang kita bicarakan adalah dusta yang disengaja dan direncanakan.”

Berdusta adalah suatu praktik umum dalam hampir segala aspek kehidupan zaman sekarang. Para pemimpin politik berdusta kepada rakyat mereka dan kepada satu sama lain. Berulang-ulang mereka tampil di televisi, membantah memiliki hubungan dengan perkara-perkara skandal padahal sebenarnya mereka sangat terlibat. Sissela Bok, dalam bukunya Lying—Moral Choice in Public and Private Life, menyatakan, ”Dalam hukum dan dalam jurnalisme, dalam pemerintahan dan dalam ilmu-ilmu sosial, penipuan dianggap sudah semestinya bila dirasa itu bisa dimaafkan oleh orang-orang yang mengatakan dusta tersebut dan yang juga cenderung membuat peraturannya.”


Menunjuk kepada dusta politik di Amerika Serikat, Common Cause Magazine edisi Mei/Juni 1989 menyatakan, ”Watergate dan perang Vietnam jelas menyaingi konflik Iran-contra dalam arti penipuan pemerintah dan ketidakpercayaan publik. Jadi apa yang menjadikan masa jabatan Reagan sebagai titik balik? Banyak yang berdusta, tetapi sedikit yang menyesalinya.” Oleh karena itu, dengan alasan yang kuat rakyat tidak mempercayai para pemimpin politik mereka.


Dalam hubungan internasional, para pemimpin demikian mendapati sulit untuk mempercayai satu sama lain. Plato, seorang filsuf Yunani mengatakan, ”Para penguasa dari Negara . . . diperbolehkan berdusta demi kepentingan Negara.” Dalam hubungan internasional, halnya seperti nubuat Alkitab di Daniel 11:27 yang mengatakan, ”Mereka duduk bersama-sama pada satu meja, mereka akan saling membohongi.”
Dalam dunia bisnis, berdusta tentang berbagai produk dan jasa merupakan praktik yang umum. Para pembeli harus berhati-hati dalam menyetujui perjanjian-perjanjian kontrak, membaca sampai ke huruf-huruf terkecil. Beberapa negara memiliki agen-agen pemerintah yang menetapkan hukum dengan tujuan melindungi orang-orang terhadap advertensi palsu, terhadap barang-barang dagangan yang berbahaya tetapi diperkenalkan sebagai bermanfaat atau aman, dan terhadap penipuan. Meskipun ada upaya-upaya ini, orang-orang terus mengalami kerugian secara finansial akibat dusta para pedagang.


Bagi beberapa orang, berdusta sangat mudah sehingga menjadi kebiasaan. Orang-orang lain umumnya jujur, tetapi jika dalam keadaan terdesak mereka akan berdusta. Hanya sedikit orang yang menolak untuk berdusta di bawah keadaan apa pun.


Suatu dusta didefinisikan sebagai ”1. suatu pernyataan atau tindakan yang palsu, khususnya yang dibuat dengan maksud untuk menipu . . . 2. apa pun yang memberi atau dimaksudkan untuk memberi suatu kesan yang palsu”. Tujuannya adalah untuk menyebabkan orang-orang lain mempercayai sesuatu yang sang pendusta tahu adalah tidak benar. Dengan berdusta atau setengah berdusta, ia berupaya menipu orang-orang yang berhak mengetahui kebenarannya.



Alasan-Alasan untuk Berdusta
Manusia berdusta karena banyak alasan. Beberapa orang merasa mereka harus berdusta tentang kecakapan mereka agar dapat mencapai sukses di dalam dunia yang penuh dengan persaingan ini. Orang-orang lain berupaya menutupi kekeliruan atau kesalahan dengan dusta. Orang-orang lain lagi memalsukan laporan-laporan untuk memberi kesan bahwa mereka telah melakukan pekerjaan yang sebenarnya tidak mereka lakukan. Kemudian, ada orang-orang yang berdusta untuk merusak reputasi orang lain, untuk menghindari rasa malu, untuk membenarkan dusta-dusta sebelumnya, atau untuk menggelapkan uang orang-orang lain.
Alasan umum untuk membenarkan suatu dusta adalah bahwa itu melindungi orang lain. Beberapa orang mengganggap hal ini sebagai dusta putih karena menurut mereka tidak merugikan siapa-siapa. Tetapi apakah yang disebut dusta putih benar-benar tidak ada pengaruh buruknya?



Pertimbangkan Pengaruhnya
Dusta putih dapat membentuk pola yang bisa mengarah kepada suatu praktik berdusta yang mungkin melibatkan perkara-perkara yang lebih serius. Sissela Bok memberi komentar, ”Semua dusta yang dibela sebagai ’putih’ tidak dapat diabaikan begitu saja. Pertama-tama, bahwa dusta itu tidak berbahaya nyata benar dapat dibantah. Apa yang dianggap oleh si pendusta sebagai tidak berbahaya atau bahkan menguntungkan bisa jadi tidak demikian di mata orang yang ditipu.”

Dusta, tidak soal betapa polos pun tampaknya, menghancurkan hubungan baik antar manusia. Nama baik si pendusta menjadi hancur, dan kemungkinan ia tidak lagi dipercayai untuk seterusnya. Seorang penulis esai yang terkenal, Ralph Waldo Emerson, menulis, ”Setiap pelanggaran terhadap kebenaran tidak hanya seperti bunuh diri di pihak sang pendusta, tetapi juga merupakan tikaman atas kesehatan masyarakat manusia.”
Memang mudah bagi seorang pendusta membuat pernyataan palsu tentang orang lain. Meskipun ia tidak menyertakan bukti, dustanya menciptakan keragu-raguan, dan banyak yang percaya kepadanya tanpa menyelidiki kebenaran pernyataannya. Jadi, reputasi orang yang tidak bersalah menjadi rusak, dan ia menanggung beban untuk membuktikan keadaannya yang tidak bersalah. Oleh karena itu, sungguh mengecewakan bila orang-orang lebih mempercayai si pendusta daripada orang yang tak bersalah tersebut, dan ini menghancurkan hubungan orang yang tak bersalah itu dengan sang pendusta.


Seorang pendusta dapat dengan mudah memperkembangkan praktik berdusta. Sebuah dusta biasanya menuntun kepada dusta lainnya. Thomas Jefferson, seorang negarawan Amerika masa awal, mengatakan, ”Tidak ada kebiasaan buruk yang sedemikian jahat, sedemikian menyedihkan, sedemikian rendah; dan orang yang mengizinkan dirinya mengucapkan dusta satu kali, akan mendapati lebih mudah melakukannya untuk kedua kalinya dan ketiga kalinya, hingga akhirnya itu menjadi kebiasaan.” Itu merupakan jalan menuju kejatuhan moral.

Nara sumber parafrase w92 15/12






Selanjutnya: Alasan Mengapa Begitu Mudah untuk Berdusta


Solusi dini membangun masa depan mulai dari anak-anak: Buka juga semua link yang terkait.