Minggu, 02 Januari 2011

Apakah Agama Menggalang Perdamaian

BERIKUT ini salah satu situs dari hasil perambahan di Internet tentang sebuah pertanyaan: Apakah Agama Menggalang Perdamaian? Center for Moderate Muslim Indonesia mengangkat permasalahan ini yang berisi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang tersangkut, misalnya: (kami menampilkan disini salinan html) Setelah membaca informasi sekuler yang terkait dalam postingan hari ini blog MasalahGlobal_SolusiGlobal akan mengisi secara online artikel Awake! (terbitan Januari 2011) yang sedang ditempatkan secara langsung publikasi tercetaknya oleh mereka yang peduli tentang permasalah global ini.

Apa esensi dari pernyataan positif situs sekuler tersebut akan dibahas dengan menarik oleh jurnal Sedarlah! dalam bahasa kita.

Menggalang Dialog Menuju Perdamaian

11-February-2008

Umat beragama di Indonesia masih dihadapkan pada permasalahan terkait pluralisme agama dan konflik intern atau antaragama. Kondisi demikian tampaknya semakin menyadarkan kita betapa pentingnya keterlibatan agama-agama dalam memperhatikan dan mengupayakan penyelesaian secara bersama-sama. Keterlibatan agama semacam ini perlu dilakukan mengingat bahwa sebuah keyakinan tidak hanya cukup diikrarkan dan diwujudkan dalam bentuk ritualnya saja, melainkan juga menuntut upaya konkret setiap individu dalam kehidupan sosialnya.

Upaya konkret apa saja yang mesti dilakukan dan prasyarat apa juga yang dibutuhkan dalam upaya tersebut? Membahas hal ini, berikut petikan wawancara dengan pakar pemikiran Islam, DR H M Baharun MA, yang juga sebagai Ketua Pengurus Besar Persatuan Tarbiyah Islamiyah (PBPTI):

Langkah apa saja yang seharusnya dilakukan oleh umat beragama di negeri ini?
Langk
ah utama yang mesti dilakukan adalah dialog. Ini merupakan satu pilihan yang logis dan etis dengan melibatkan tokoh-tokoh agama. Sejak dahulu, umat memerlukan solusi serius dan mendalam dalam setiap persoalan yang muncul terkait keyakinan atau agama. Selama berabad-abad sejarah interaksi antarumat beragama menunjukkan lebih banyak diwarnai dengan kecurigaan dan permusuhan. Untuk itu, alternatif untuk mewujudkan kerukunan antaragama di antaranya adalah menciptakan dialog antarumat beragama. Sudah saatnya umat beragama meninggalkan cara-cara monolog dan menggantinya dengan cara-cara dialog. Ini merupakan sebuah langkah yang lebih konstruktif.

Agar dialog tersebut dapat berjalan efektif, faktor apa yang juga mesti diperhatikan?
Masing-masing pihak selayaknya bersikap dialogis, memiliki sikap terbuka, saling menghormati, melepaskan segala prasangka, dan bersikap mencari yang baik dari agama lain. Sebab, tujuan dialog bukan untuk peleburan diri, tetapi untuk mencapai saling pengertian dan penghargaan yang lebih baik. Dialog dilakukan bukan hanya sekadar menghindarkan konflik, melainkan juga untuk membicarakan partisipasi agama dalam perubahan masyarakat melalui modernisasi.
Selain itu, masing-masing pihak mesti mempersiapkan diri untuk melakukan diskusi dengan umat agama lain yang berbeda pandangan terkait realitas hidup ini. Dialog seperti itu dimaksudkan agar dapat saling mengenal dan menimba pengetahuan baru tentang agama mitra dialog. Dengan demikian dialog tersebut akan memperkaya wawasan kedua belah pihak guna mencari persamaan-persamaan yang dapat dijadikan landasan hidup rukun dalam suatu masyarakat.

Cuplikan salinan dari: Center for Moderate Muslim Indonesia



SEBENARNYA:

APAKAH AGAMA MENGGALANG PERDAMAIAN?


GEREJA Makam Suci di Yerusalem, yang dielu-elukan sebagai gereja paling suci di kalangan orang yang mengaku Kristen, juga merupakan simbol pertikaian dan permusuhan agama. Menurut tradisi, gereja tersebut menandai lokasi “dimana Kristus konon dimakamkan dan dibangkitkan”. Tetapi, lokasi yang dipuja-puja ini juga telah menjadi ajang konfrontasi yang brutal. Para biarawan dan imam dari enam denominasi “Kristen” telah saling menyerang untuk memperebutkan hak gereja. Persaingan tersebut telah meningkat pada tahun-tahun belakangan ini. Polisi anti huru-hara yang bersenjatakan senapan otomatis terpaksa turun tangan dan untuk sementara waktu mengambil alih kendali atas gereja itu.

Sejarah yang Penuh Kekerasan

Berbagai peristiwa di Gereja Makam Suci itu merupakan bagian dari sejarah panjang yang penuh pertumpahan darah dan pembantaian yang berkaitan dengan semangat keagamaan. Dalam tinjauannya atas konflik-konflik belum lama ini di berbagai belahan dunia, buku Violence in God's Name mengatakan, “Dari Indonesia hingga Irlandia Utara, Timur Tengah hingga Kashmir, India hingga Nigeria, Kawasan Balkan hingga Sri Lanka, orang Kristen, Buddhis, Yahudi, Hindu, Muslim, dan Sikh menghalalkan penggunaan kekerasan dengan dalih untuk melindungi identitas dan kepentingan agama mereka.”

Namun, kebanyakan agama menjadikan perdamaian dan keharmonisan sebagai doktrin dasar mereka. Dari zaman ke zaman, prinsip-prinsip kebaikan seperti kasih kepada sesama dan kesucian kehidupan manusia telah digembar-gemborkan oleh agama. Jadi, bukankah agama seharusnya menggunakan pengaruhnya yang sangat besar untuk menggalang perdamaian? Orang-orang beragama yang tulus sepatutnya memeriksa pertanyaan ini.


Apakah Agama Dalangnya?

PEMIMPIN AGAMA dan penulis abad ke-18, Jonathan Swift, menulis, “Ada cukup banyak agama untuk membuat kita saling membenci, tetapi tidak cukup banyak untuk membuat kita saling mengasihi.” Banyak orang berpendapat bahwa agama justru mendalangi perpecahan, bukannya menggalang persatuan. Tetapi, tidak semua orang sependapat.

Misalnya, perhatikan kesimpulan yang dicapai sekelompok peneliti dari Fakultas Kajian Perdamaian di Bradford University, Inggris. Kelompok ini ditugasi di British Broadcasting Corporation untuk mencari jawaban yang masuk akal atas pertanyaan tentang apakah agama menggalang perdamaian atau malah peperangan.

Dalam laporan resminya, para peneliti itu mengatakan, “Setelah meninjau berbagai analisis historis oleh beragam pakar, kami menyimpulkan bahwa hanya ada segelintir perang yang sepenuhnya berlatar agama dalam 100 tahun terakhir.” Tim penyelidikan itu menjelaskan bahwa beberapa perang “yang sering digambarkan di media massa sebagai perang karena agama, atau perang akibat perselisihan agama, sebenarnya adalah perang karena nasionalisme, untuk membebaskan teretori, atau untuk mempertahankan diri”.

Namun, banyak lagi yang berargumen bahwa para pemimpin agama, tidak soal mereka bertindak atau sekadar bungkam, telah menyetujui dan secara aktif mendukung banyak konflik bersenjata, seperti ditunjukan oleh kutipan berikut:

  • Agama tampaknya ada sangkut pautnya dengan kekerasan hampir di mana pun.... Tahun-tahun belakangan ini, aksi kekerasan agama telah meletus di kalangan orang Kristen yang konservatif di Amerika Serikat, kaum Muslin dan Yahudi yang marah di Timur Tengah, orang Hindu dan Muslim di Asian Selatan, dan komunitas agama pribumi di Afrika dan Indonesia.... Tokoh-tokoh yang terlibat dalam berbagai kasus ini telah menjadikan agama sebagai identitas politis dan dalih untuk ideologi balas dendam.”Terror in the Mind of God—The Global Rise of Religious Violence.

  • Ironisnya, bangsa-bangsa yang kental pengaruh agamanya sering kali memiliki kejahatan sosial yang paling buruk..... Kuatnya pengaruh agama tidak sanggup mencegah tingkat kejahatan yang parah ..... buktinya jelas: Kalau Anda ingin tinggal di lingkungan yang aman, bermartabat, tertib, dan 'beradab', hindari tempat-tempat yang kuat pengaruh agamanya.”—Holy Hatred.

  • Kaum Baptis lebih dikenal suka berperang ketimbang suka damai.... Pada abad kesembilan belas, sewaktu isu perbudakan [di Amerika] dan peristiwa lain memecah belah berbagai denominasi dan belakangan bangsa ini, kaum Baptis Utara dan Selatan mendukung upaya perang sebagai perang suci yang adil dan menyatakan bahwa Allah ada di pihak mereka. Kaum Baptis juga mendukung upaya negara dalam perang melawan Inggris (1812). Meksiko (1845), serta Spanyol (1898), dan menyatakan bahwa kedua perang yang disebutkan terakhir itu dapat dibenarkan 'terutama dengan alasan mengahasilkan pembebasan religius bagi kaum yang tertindas dan membuka lahan baru untuk pekerjaan misionaris'. Masalahnya bukanlah bahwa kaum Baptis lebih menyukai perang daripada perdamaian, melainkan bahwa, dalam kebanyakan kasus, sewaktu perang benar-benar terjadi, kaum Baptis mendukung dan ikut serta di dalamnya.”—Review and Expositor—A Babtist Theological Journal.

  • Para sejarawan telah mendapati adanya motivasi religius untuk berperang di kebanyakan zaman dan di hampir semua bangsa serta budaya dunia yang beragam, dan umumnya pada kedua belah pihak dalam perang mana pun. Seruan klasik 'allah ada di pihak kita' termasuk di antara penyemangat perang yang paling awal dan paling ampuh.”—The Age of Wars of Religion, 1000-1650—An Encyclopedia of Global Warfare and Civilization.

  • Para pemimpin agama.... perlu merenungkan dengan lebih kristis kegagalan mereka untuk menjadi pemimpin dan teladan yang lebih efektif atas nilai-nilai fundamental yang sejati dari kepercayaan mereka masing-masing.... Memang, semua agama ingin mecapai perdamaian, tetapi sangat diragukan apakah agama bakal sanggup memenuhi peran itu.”—Violence in God's NameReligion in an Age of Conflict.

Sepanjang sejarah, semua agama utama Susunan Kristen (Katolik, Ortodoks, dan Protestan) tidak pernah kehabisan imam dan pendeta untuk menyemangati para prajurit serta berdoa bagi yang mati dan yang sekarat—di kedua belah pihak dalam semua konflik. Malalui dukungan ini, mereka telah menyetujui pertumpahan darah dan memberkati semua pasukan militer.

Ada yang mungkin masih berkilah bahwa agama tidak bisa dipersalahkan atas peperangan. Tetapi, pertanyaannya: Sudahkah agama berhasil dalam upayanya untuk mempersatukan umat manusia?


Pdt. Dr. Charles A. Eaton,dari Gereja Baptis Madison Avenue, mengumumkan di mimbar kemarin bahwa gerejanya akan dialihfungsikan menjadi pusat perekrutan pria-pria yang ingin mendaftar ke angkatan darat atau angkatan laut.

Beliau termasuk di antara belasan pendeta di kota ini yang menyampaikan ceramah perang dalam misa setiap hari Minggu pagi, dan yang mendesak pria dan wanita untuk membuktikan keloyalannya pada negara dan demokrasi dengan ikut beperang sesegera mungkin. Bendera menghiasi banyak gereja.”—“The New York Times”, 16 April 1917.


SELENGKAPNYA....