Rabu, 08 Desember 2010

Kebingungan tentang Datangnya Hari NATAL

ALASAN MENGAPA NATAL KEHILANGAN MAKNA KEAGAMAAN

Perhatikan sebuah puisi tentang hari natal dalam bahasa Inggris ini yang merupakan salinan dari sebuah situs unofficial web site of watchtower.

Wednesday, December 8, 2010

Christmas Poem

Jesus ChristImage via Wikipedia
Date: December 8, 2010 10:55:23 PM CST


Poem By: Monét Phillips

Christmas time for many is the best time of the year.

A time to bond with family for gift giving and cheer.

But if you did some research of how it originated,

you'd ask yourself, "Is it proper for true Christians to celebrate it?"

You can ask any Christian, anyone on the Earth

What December 25th is and they'll say, "Christ Jesus' birth"....

Was Jesus really born in December?
According to the Bible, he wasn't.

Does Christmas come from true Christians?
No, it surely doesn't.

The Jewish month of Chislev or our November/December,

was not pleasant in Bethlehem. It had cold and rainy weather.

The Bible writer Ezra confirmed that when cold Chislev came,

people were "shivering on account of the showers of rain". (Ezra 10:9, 13)

Jeremiah also wrote that when this month arrived,


people said it was so cold you couldn't "stand outside"! (Jeremiah 36:22)

So if he was born in December and conditions were so poor,

why would shepherds on this night be "living out of doors"? (Luke 2:8-12)

Well where does Christmas come from? I surely have to tell 'ya.

It's from an ancient festival whose name was Saturnalia.

During this pagan party, people exchanged gifts.

Its date was very familiar. December 25th.

This date was someone's birthday: Tammuz was his name.

It was a festival that would give all of us great shame.

They used the tall green Christmas tree and wreaths were all around

to represent phallus as researchers have found.

The mistletoe had powers they put it into use
it was to promote fertility, the first step to reproduce!

The ornaments you've come to know they made their use of these

Except for round glass globes they used human heads on trees!

If this were Christ's true birthday
and he was really for it

wouldn't he tell us to do it?
Wouldn't he support it?

So think about this info and read the Bible through

then take a moment and ask yourself:
"What would Jesus do?"

Mayoritas orang Kristen sekuler menanti-natikan peristiwa Natal dengan penuh sukacita, namun mereka yang pernah membaca sejarah tentang asal-muasal perayaan ini cukup dibingungkan sewaktu mereka pada sisi kehidupan nyata harus menyenangkan seluruh keluarga atau sebagaian orang yang mereka cintai. Puisi diatas akan terus menjadi pertanyaan besar jika mereka yang bingung tidak ingin merisetnya, cari tahulah bahwa ternyata pengetahuan tentang asal usul kebiasaan Natal telah memberikan pengaruh baik bagi keluarga-keluarga.

Perayaan keagamaan Natal telah lama diketahui kehilangan makna rohaninya, peristiwa tahunan ini dianggap sebagai masalah global yang bisa disebut latent disaster atau problem pelik yang tersembunyi, apa sebabnya banyak orang tidak sadar bahwa dibalik kegembiraan dan keuntungan dalam dunia perdagangan~hal ini menyebabkan penderitaan bagi sebagian orang dan ini berkaitan dengan laporan yang sering diberitakan bahwa perayaan-perayaan besar keaagamaan sering berkaitan dengan peristiwa kejahatan yang penuh kekerasan, perampokan, pencurian, penguntilan (shoplifting), dan hal itu berhubungan dengan orang-orang miskin yang turut meraih kebahagiaan dan kegembiraan Natal.

Berikut beberapa fakta dari pendahuluan isi artikel Awake! Publikasi terbitan Desember 2010 salinan melalui blog ini.


Semangat Natal Menyebar MENGAPA?

APAKAH Anda menanti-nantikan datangnya natal? Atau, apakah kian mendekatnya Natal membuat Anda kian risau dan khawatir? Jutaan orang memutar otak, 'Siapa saja yang bakal saya beri hadiah? Apa yang harus saya beli? Apakah uang saya cukup? Berapa lama nantinya saya harus melunasi hutang?'

Meski ada berbagai kekhawatiran seperti itu. Natal tetap saja sangat populer. Bahkan, perayaan ini telah menyebar ke negeri-negeri non-Krsiten. Di Jepang, kebanyakan keluarga kini merayakan natal, bukan karena makna keagamaannya, melainkan sebagai kesempatan menikmati kemeriahan. Di Cina, “wajah sinterklas yang kemerahmerahan terpampang di etalase-etalase toko di kota-kota besar”, kata surat kabar The Wall Street Journal, dan menambahkan, “demam natal melanda masyarakat menengah perkotaan yang sedang meningkat, yang menjadikannya alasan untuk berbelanja, makan, dan berpesta”.

Di banyak bagian dunia, Natal, telah menjadi pendorong roda perekonomian setempat. Khususnya di Cina, yang kini “secara besar-besaran mengekspor pohon-pohon plastik, hiasan, lampu kelap-kelip, dan pernak-pernik Natal lainnya”, kata surat kabar itu.

Negeri-negeri yang mayoritas penduduknya Muslim pun mendukung kemeriahan mirip natal, meskipun tidak selalu pada tanggal 25 Desember. Di Ankara, Turki, dan Beirut, Lebanon, bukan pemandangan aneh jika etalase-etalase toko dipajangi pohon-pohon cemara yang penuh hiasan dan kado yang berwarna-warni. Di Indonesia, hotel serta mal mensponsori acara yang meriah, dan anak-anak bisa makan atau berfoto bersama sinterklas.

Di negeri-negeri barat, Natal kini sangat sekuler dan komersial, dan banyak iklannya “jelas-jelas membidik anak-anak”, kata Royal Bank Letter, Kanada. Memang, beberapa orang masih menghadiri acara Natal di gereja. Tetapi, justru pusat perbelanjaan yang mengumandangkanlagu-lagu Natal itulah yang telah menjadi tempat ibadat yang baru. Mengapa jadi begini?

Mungkinkah alasannya berkaitan dengan asal mula Natal? Dari mana asal-usulnya? SELENGKAPNYA BACA AWAKE! (Bahasa Indonesia) Sedarlah! DESEMBER 2010



Artikel Terkait: Memaknai dan Menghargai Kelahirannya?