Sabtu, 07 Agustus 2010

Gosip Mengapa Menarik?

Bertukar informasi berguna dan menghidupkan percakapan

Gosip dapat bersifat informatif, menghibur, menyegarkan, namun ia dapat juga menjengkelkan dan membinasakan. Mengapa ia begitu sering mengarah kepada hal yang jahat serta menyakitkan? Bagaimana hal ini dapat dihindari?

Kekuatan dari Gosip
PERISTIWA bunuh diri wanita muda itu sangat mengejutkan kota sepi di Inggris itu. Yang lebih mengejutkan lagi adalah kesimpulan dari tim pemeriksa, ’Ia dibunuh oleh gosip iseng!’ Jelas, nama wanita tersebut, reputasinya, dan pada akhirnya hidupnya dirusak oleh obrolan kosong yang jahat dari kota itu.—Rumor and Gossip—The Social Psychology of Hearsay, oleh Ralph L. Rosnow dan Gary Alan Fine.
Memang akibatnya jarang sampai sedemikian tragis, namun tidak diragukan bahwa gosip memiliki kekuatan yang mencengangkan. Di satu pihak, gosip dapat dianggap sebagai cara yang umum untuk saling bertukar informasi yang berguna. Di lain pihak, gosip mungkin menjadi biang keladi kerusuhan dalam pemerintahan, perpecahan keluarga, rusaknya banyak karir.
Gosip dianggap sebagai penyebab dari keresahan pada waktu malam, sakit hati, dan gangguan pencernaan. Tidak diragukan, hal itu pernah juga membuat Anda gelisah. Sebenarnya, penulis William M. Jones memperingatkan bahwa dalam bisnis, ”Anda harus menerima kemungkinan bahwa selama karir Anda akan ada orang yang akan mencoba merusak reputasi baik Anda.”
Gosip yang negatif hampir di mana-mana tidak disukai. Di kalangan orang Indian Seminole di Amerika Serikat, ”berbicara buruk tentang orang lain” disamakan dengan berdusta dan mencuri. Di salah satu masyarakat Afrika Barat, pembawa cerita mempunyai risiko bibirnya dikerat atau, bahkan lebih buruk lagi, mereka bisa dihukum mati! Memang, sepanjang sejarah ada sanksi-sanksi yang dikenakan untuk mengendalikan gosip.
Ducking stool
Antara abad ke-15 dan abad ke-18, apa yang disebut ducking stool (kursi tempat pembenaman) banyak digunakan di Inggris, di Jerman, dan belakangan, di Amerika Serikat untuk mencoba mempermalukan tukang-tukang gosip agar menghentikan omong kosong mereka yang membahayakan. Seseorang yang dinyatakan bersalah akan diikat pada sebuah kursi dan berulang kali dibenamkan ke dalam air.
Duck women
Meskipun ducking stool mengalami nasib yang sama dengan tiang hukuman (pillory) dan pasungan yang tidak digunakan lagi, perjuangan melawan gosip terus berlangsung bahkan pada zaman modern. Selama tahun 1960-an, misalnya, apa yang disebut pusat-pusat pengendalian kabar angin didirikan di Amerika Serikat untuk menanggapi desas-desus yang bisa membahayakan kegiatan pemerintah. Biro-biro jasa yang sama didirikan di Irlandia Utara dan di Inggris. Undang-undang dikeluarkan untuk mengendalikan gosip yang dirancang untuk menimbulkan kerugian ekonomi atas lembaga-lembaga keuangan tertentu.
Sekalipun ada upaya-upaya demikian, gosip tetap ada. Hal itu hidup dan bertambah banyak. Baik hukum maupun cara manusia lainnya belum berhasil memadamkan kekuatannya yang membakar. Gosip ada di mana-mana. Ada gosip tetangga, gosip kantor, gosip toko, gosip pesta, gosip keluarga. Hal itu menembus batas kebudayaan, kebangsaan, dan peradaban, dan hal itu berkembang di setiap lapisan masyarakat. Seorang pakar mengatakan, ”Gosip begitu umum sehingga hampir sama dengan bernafas.” Ia juga menambahkan, ’Hal itu berurat-berakar dalam diri manusia.’
Memang, gosip sering mengungkapkan sisi yang sangat gelap dari tabiat manusia, suatu sisi yang senang merusak reputasi, membengkokkan kebenaran, dan membinasakan kehidupan. Akan tetapi, gosip itu sendiri tidak jahat. Ada sisi positif dari percakapan santai. Mengetahui di mana batas antara gosip yang membahayakan dan yang tidak merupakan kunci untuk mencegah agar orang-orang lain—dan Anda sendiri—tidak menjadi korban gosip.
mengingat kerusakan yang bisa ditimbulkannya, mengapa gosip sering kali tidak dapat kita tolak, dan begitu menarik? Di mana batas antara gosip yang membahayakan dan yang tidak?
Gosip—Pertukaran Informasi
Gosip yang merugikan adalah seperti lumpur yang dilemparkan ke dinding yang bersih, tidak melekat namun selalu meninggalkan bekas yang kotor
Ada alasan-alasan yang cukup mendasar untuk gosip, Orang menaruh minat akan orang lain. Maka sudah sewajarnya jika kita cenderung membicarakan orang lain. Sebagaimana pernah dikatakan Max Gluckman, seorang antropolog, ”Setiap hari, dan dalam sebagian besar dari waktu satu hari, banyak dari antara kita terlibat dalam gosip. Saya membayangkan bahwa jika kita mencatat bagaimana kita menggunakan waktu kita, menggosip—bagi beberapa dari antara kita—menduduki tempat kedua setelah ’bekerja’.”
Bila bersahaja dan baik, obrolan iseng dapat menjadi pertukaran informasi yang berguna, sebagai cara untuk saling menceritakan keadaan masing-masing. Bisa jadi itu mengenai siapa yang menikah, siapa yang sedang hamil, dan siapa yang meninggal, atau mungkin hanya merupakan obrolan lucu yang sama sekali tidak mengandung maksud buruk.
Namun sering sekali, obrolan iseng dapat melanggar kesopanan dan tidak enak didengar. Fakta-fakta dibumbui, dibesar-besarkan atau dibengkokkan. Penghinaan dijadikan bahan lelucon. Hal-hal yang bersifat pribadi dibongkar. Rahasia disingkapkan di depan umum. Reputasi direndahkan atau dirusak. Hal-hal yang patut dipuji dikaburkan dengan keluhan, omelan, dan kesalahan yang dicari-cari. Kenyataan bahwa tidak ada maksud jahat tidak banyak menghibur orang yang sedang dibicarakan. Maka gosip yang merugikan dibandingkan dengan lumpur yang dilemparkan ke dinding yang bersih. Mungkin itu tidak melekat, namun tetap meninggalkan bekas yang kotor.
Agar Dapat Diterima
Alasan lain kita mudah terlibat dalam gosip adalah keinginan kita yang wajar untuk disukai atau diterima oleh orang lain. ”Untuk satu atau lain alasan,” kata psikolog John Sabini dan Maury Silver, ”Anda mempunyai kewajiban untuk berbicara; dan menggosip adalah cara yang menyenangkan, mudah, dan diterima masyarakat untuk memenuhi kewajiban tersebut.” (Moralities of Everyday Life) Maka sampai pada batas tertentu gosip adalah bahan pembicaraan yang berguna, sarana untuk dapat diterima.
Problemnya adalah orang-orang cenderung lebih menyukai informasi yang negatif daripada yang positif. Ada orang-orang yang bahkan senang dikejutkan dengan hal-hal yang sensasional dan menggemparkan. Jadi gosip adalah cara yang menarik perhatian—semakin menarik atau memalukan detailnya, semakin seru. Jarang orang yang merasa perlu memberikan bukti bagi dugaan-dugaan yang mengejutkan.
Gosip Media
Nonton gosip infotaimnent tv
Jenis gosip ini menarik bagi kelemahan manusiawi yang lain—rasa ingin tahu yang sangat besar. Kita menyukai rahasia. Kita senang menjadi pihak yang tahu. Sudah sejak tahun 1730, pada waktu Benjamin Franklin mulai menulis kolom gosip untuk surat kabar Pennsylvania Gazette, didapati bahwa orang bersedia membayar untuk gosip.
Gosip media terus hidup—dan berkembang dengan subur. Di Eropa kios-kios majalah dan surat kabar benar-benar penuh dengan tabloid yang memuat cerita-cerita tentang keluarga raja, pembalap mobil, dan orang-orang terkemuka lainnya di dunia. Maka sebuah artikel surat kabar menyebut gosip sebagai bisnis besar.
Akan tetapi, apakah bermanfaat untuk dihantui rasa ingin tahu tentang apa yang terjadi di dalam rumah, kamar tidur, dan pikiran orang-orang? Apakah sehat untuk membaca dan menonton hal-hal yang cenderung membangkitkan nafsu ingin tahu? Yang jelas, gosip media membawa perasaan ingin tahu sampai melampaui batas.
Saya Mendengarnya melalui Pokok Anggur”
Kabar angin dan informasi yang keliru juga memperbesar gosip yang membahayakan. Pada waktu Perang Saudara Amerika, kawat-kawat telegraf bagaikan batang-batang pokok anggur yang merambat terentang antara pos-pos militer. Jadi, ”pokok anggur” (bahasa Inggris grapevine) menjadi lambang dari kabar angin, dan ungkapan ”I heard it through the grapevine” (saya mendengarnya melalui pokok anggur) menjadi dalih yang populer untuk menceritakan kabar angin.
Sangat disayangkan, ”pokok anggur” itu sering menghasilkan buah yang pahit. Kabar angin menyebabkan kepanikan, kematian, dan malapetaka. Kerugiannya dalam segi bisnis saja tidak terhitung. Selama satu tahun serangkaian restoran fast-food [makanan jadi] berjuang melawan desas-desus bahwa hamburger yang disajikan mengandung cacing. Sebuah perusahaan terkenal yang menghasilkan produk sabun harus berjuang selama bertahun-tahun—dan mengeluarkan biaya jutaan dolar—untuk menghapus desas-desus bahwa logo perusahaannya merupakan lambang dari Setan dan bahwa perusahaan itu sendiri terlibat dalam penyembahan hantu.
Namun orang peroranganlah yang merasa paling sakit hati dan menderita kerugian akibat desas-desus. Akan tetapi, karena cerita-cerita yang gila biasanya memukau, orang-orang cenderung meneruskannya tanpa memikirkan kebenaran ataupun akibat-akibatnya.
Gosip yang Jahat—Fitnah
Iri hati dan benci sering menjadi akar dari bentuk gosip yang paling merusak—gosip yang jahat, atau fitnah. Kata Yunani untuk ”pemfitnah” adalah di·a′bo·los, kata yang diterjemahkan dalam Alkitab sebagai Iblis. (Wahyu 12:9) Gelar itu cocok, karena Setan adalah pemfitnah terbesar terhadap Allah. Seperti Setan, orang-orang membicarakan orang lain dengan maksud buruk. Kadang-kadang motifnya adalah membalas dendam, yang diakibatkan oleh rasa sakit hati atau iri hati. Tidak soal yang mana pun, mereka mencari manfaat bagi dirinya dengan menghancurkan nama baik orang lain.
Ada orang-orang yang menggosip agar menjadi pusat perhatian
Sekalipun gosip yang jahat, atau fitnah, jelas adalah gosip yang paling tercela, melibatkan diri dalam bentuk gosip apa pun yang menyakitkan dan menyulitkan adalah perbuatan yang amoral dan tidak bertanggung jawab. Maka, bagaimana seseorang dapat mencegah agar obrolan biasa tidak berubah menjadi fitnah yang berbahaya?
Artikel salinan dari Awake! g91/bln.6

Minggu, 01 Agustus 2010

Kejahatan yang Penuh Kekerasan. Apa yang Sedang Terjadi

Jenis Kejahatan yang Lain dari yang Lain?

Kejahatan telah ada selama berabad-abad, tetapi jenis yang dikutip (di artikel sebelumnya di mainblog) menyebabkan orang berseru, ”Mengapa? Bagaimana sampai ada orang yang berpikir berbuat begitu?” Meskipun kejahatan umum, seperti pencurian atau penipuan, mungkin tidak menarik perhatian banyak orang, ada peningkatan dalam jenis perilaku yang menyedot perhatian media dan membuat orang berkata, ’Ini sungguh konyol! Apa yang sedang terjadi dengan dunia ini?’

Kejahatan-kejahatan ini lain dari yang lain. Hal ini sering kali menggegerkan dan ganas. Seperti contoh-contoh di atas, hal ini biasanya dilakukan terhadap orang tidak bersalah yang tidak mengenal para pelakunya. Selain itu, sering kali tampaknya tidak ada motif yang jelas dalam kejahatan yang penuh kekerasan ini. Daftar aksi yang membabi buta ini terus bertambah panjang.

Pada bulan April 1999 di Kolorado, AS, 2 siswa membunuh 12 siswa dan seorang guru sebelum mereka berdua bunuh diri dalam suatu penembakan di sekolah. Seorang pria tewas di Kalifornia pada tahun 1982 setelah minum obat yang dijual bebas yang telah dicampur striknina oleh seseorang. Pada tahun 1993, dua anak laki-laki berusia sepuluh tahun membujuk James Bulger yang berusia dua tahun untuk meninggalkan mal perbelanjaan di Bootle, Merseyside, Inggris, selagi ibunya berada di toko daging. Mereka mengajaknya ke lintasan rel kereta dan mementungi dia sampai mati.

Beberapa aksi dapat digolongkan sebagai terorisme, seperti peracunan dalam jaringan kereta bawah tanah Tokyo pada tahun 1995. Masyarakat Jepang tersentak sewaktu gas beracun dilepaskan oleh para anggota kultus di sebuah stasiun kereta bawah tanah Tokyo, menewaskan 12 orang dan mencederai ribuan orang. Tidak banyak orang yang dapat melupakan penghancuran World Trade Center di New York dan serangan atas Pentagon, di Washington, DC, yang merenggut sekitar 3.000 nyawa, dan pengeboman pada tahun lalu di Bali, Indonesia, yang merenggut hampir 200 nyawa.

Jelaslah bahwa kejahatan yang penuh kekerasan semacam itu telah begitu merajalela. Problem ini terjadi di seluruh dunia, mengimbas banyak bangsa dan berbagai lapisan masyarakat.

Dalam beberapa kasus, seolah-olah para pelakunya sedang berlomba, mencoba melihat siapa yang dapat melakukan kejahatan yang paling menggegerkan. Selain itu, kejahatan yang dilandasi kebencian kini semakin umum. Kejahatan ini dilakukan dengan kekejaman yang ekstrem terhadap orang-orang yang ”kesalahan”-nya hanyalah karena mereka berbeda ras, agama, atau kelompok etnis—seperti kasus pada tahun 1994 sewaktu kira-kira 800.000 orang Tutsi dibunuh di Rwanda.

Semua ini menyebabkan banyak orang berpikir, ’Apa yang sedang terjadi? Apakah dahulu keadaannya seperti ini? Siapa di balik kejahatan yang mengerikan seperti itu? Adakah harapan untuk mengurangi atau melenyapkan kejahatan seganas itu?’ Artikel berikut akan membahas pertanyaan ini dan yang lainnya. © 2010 from appeared in Awake! 8 Juli 2003

Klik sub judul ini: Mengapa Ada Begitu Banyak Kejahatan yang Penuh Kekerasan Sekarang?


SUDAH DEKATKAH AKHIR DUNIA?

Ada dua ancaman yang ditakuti banyak orang adalah perang nuklir dan badai matahari besar di bumi yang ditimbulkan oleh perubahan iklim (seperti yang diangkat di situs perguruan tinggi ITB Bandung). Itu berarti akhir dunia.

Perhatikan komentar seorang profesor berikut ini: “Anda tidak perlu menjadi orang yang beragama untuk berpikir bahwa kita sedang menuju bencana.”—STEPHEN O'LEARY, PROFESOR, UNIVERSITY OF SOUTHERN CALIFORNIA.

Setujukah Anda dengan pernyataan di atas? Majalah Menara Pengawal 1 Agustus 2010 meninjau beberapa alasan mengapa orang takut akan masa depan dan memperlihatkan mengapa Anda bisa yakin bahwa kehidupan di bumi sebenarnya tidak akan berakhir.

Ada alasan untuk bersikap optimis, kendati adanya fakta-fakta suram berikut, bahwa:

Ancaman perang nuklir tetap tinggi. Pada tahun 2007, Bulletin of the Atomic Scientists mengingatkan, “Sejak bom atom pertama dijatuhkan di Hirosima dan Nagasaki, dunia belum pernah menghadapi situasi segenting ini.” Mengapa ada kekhawatiran demikian? Bulletin ini melaporkan bahwa pada 2007, sekitar 27.000 senjata nuklir masih ada dan bahwa 2000 diantaranya “siap diluncurkan dalam hitungan menit”. Bahkan jika sebagian kecil dari senjata tersebut diledakan, pengaruhnya bisa menimbulkan bencana besar!

Apakah ancaman perang nuklir berkurang sejak tahun itu? Lima negara penghasil nuklir yang paling menonjolAmerika Serikat, Cina, Kerajaan Inggris, Prancis dan Rusiasemuanya sedang "mengerahkan sistim senjata nuklir yang baru atau telah mengumumkan niat mereka untuk melakukannya", kata SIPRI Yearbook 2009.* Namun, buku tahunan tersebut menyatakan bahwa bukan hanya negara-negara itu yang memiliki senjata nuklir. Para periset memperkirakan bahwa India, Pakistan, dan Israel masing-masing memiliki 60 hingga 80 bom nuklir. Mereka juga mengatakan bahwa diseluruh dunia, sejumlah 8.392 senjata nuklir sekarang siap diluncurkan!

Perubahan iklim bisa mengakibatkan bencana. "Bahaya-bahaya yang ditimbulkan oleh perubahan iklim," kata Bulletin of the Atomic Scientists tersebut diatas, "nyaris sama parahnya dengan yang ditimbulkan oleh senjata-senjata nuklir."

Para ilmuwan yang disegani, seperti Stephen Hawking, profesor emeritus di University of Cambridge, dan Sir Martin Rees, kepala Trinity College di University of Cambridge, menyuarakan peringatan keras. Mereka merasa bahwa salah-kelola teknologi dan dampak kegiatan manusia atas lingkungan bisa mengubah kehidupan di bumi tanpa bisa dipulihkan lagi atau bahkan bisa mengakhiri peradaban.

Ramalan-ramalan hari kiamat mengkhawatirkan jutaan orang. Coba ketik frasa "akhir dunia" atau "end of the world" dan tahun "2012" dalam mesin pencari Internet yang populer, maka Anda akan menemukan ratusan halaman-halaman tentang spekulasi bahwa akhir dunia akan datang pada tahun itu. Mengapa? Sebuah Kalender Maya kuno, yang di kenal sebagai "Penghitungan Panjang", ditafsirkan berakhir pada 2012. Banyak orang khawatir bahwa hal ini menunjukan akhir dari peradaban kita.

Banyak orang religius percaya bahwa Alkitab mengajarkan bahwa bumi harfiah akan dibinasakan. Mereka berpendapat bahwa semua orang yang beriman akan di bawa ke surga, sementara selebihnya dari umat manusia akan ditinggal untuk menderita di atas bumi yang kacau balau atau dilempar ke neraka.


Apakah semua hal demikian dapat Anda percayai? Berikut penjelasan dalam seri-seri artikel yang diterbitkan melalui publikasi Menara Pengawal (dalam blog ini dibuat secara kliping hasil tempel format JPG). Apa yang dijelaskan mungkin akan mengejutkan Anda. [klik link ini]

________
Catatan Kaki:
* SIPRI adalah singkatan dari Stockholm International Peace Research Institute (Institut Penelitian Perdamian Internasional Stockholm).

Laporan SIPRI Yearbook 2009 ditulis oleh Shannon N. Kile, peneliti senior dan kepala proyek senjata nuklir dalam Program Pengendalian Senjata dan Non-proliferasi SIPRI; Vitaly Fedchenco, peneliti dalam Program Pengendalian Senjata dan Non-proliferasi SIPRI; dan Hans M. Kristensen, direktur proyek informasi nuklir di Federasi Ilmuwan Amerika.

Sinopsis majalah Menara Pengawal 1 Agustus 2010.



RELATED TOPIC ke Link Judul Artikel:
Bumi Kita yang Babak Belur—Serangan Menghantam Banyak Daerah