


”Kekurangan air sedang membunuh kami di sini,” kata Dede. ”Setelah menghabiskan hampir setengah dari waktu pagi untuk mengambil air, berapa banyak lagi waktu yang tersisa untuk bertani atau untuk kegiatan lain?”
Dede bukan satu-satunya yang mengalami situasi ini. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), jumlah waktu yang digunakan per tahunnya oleh sejumlah besar wanita dan anak-anak untuk mengambil dan membawa air dari sumber yang jauh dan sering kali tercemar, mencapai lebih dari sepuluh juta tahun!
Ada yang Memiliki Cukup Banyak Air, Ada Pula yang Tidak. Jadi walaupun ada cukup banyak air tawar di seluruh dunia, penyebarannya tidak merata. Itulah problem besar yang utama. Misalnya, para ilmuwan memperhitungkan bahwa meskipun 36 persen dari air danau dan sungai dunia

Lahan tandus dapat juga mengakibatkan berkurangnya curah hujan, karena sebagian besar dari hujan yang mengguyuri hutan adalah air yang sebelumnya menguap dari tumbuh-tumbuhan itu sendiri—dari daun-daun pepohonan dan semak. Dengan kata lain, tumbuh-tumbuhan berfungsi seperti karet busa yang sangat besar yang menyerap dan menampung air hujan. Jika pohon dan semak disingkirkan, air yang tersedia untuk membentuk awan hujan menjadi lebih sedikit.
Seberapa seriusnya tindakan manusia mempengaruhi curah hujan masih diperdebatkan; dibutuhkan penelitian lebih lanjut. Tetapi satu hal yang pasti adalah: Kekurangan air terjadi di mana-mana. Ini telah mengancam perekonomian dan kesehatan dari 80 negeri, demikian Bank Dunia memperingatkan. Dan sekarang 40 persen dari penduduk bumi—dua miliar orang lebih—telah kehilangan akses untuk memperoleh air bersih atau sanitasi.
Sewaktu dihadapkan pada masalah kekurangan air, negara-negara kaya biasanya memiliki dana guna mengatasi masalah yang serius. Mereka membangun bendungan, menggunakan teknologi yang mahal untuk mendaur ulang air, atau bahkan memisahkan garam dari air laut. Negara-negara miskin tidak mempunyai pilihan semacam itu. Sering kali mereka harus memilih antara menjatahkan air bersih, yang dapat menghambat kemajuan ekonomi dan mengurangi produksi makanan, atau memanfaatkan air limbah yang belum diolah, yang mengakibatkan tersebarnya penyakit. Seraya permintaan air meningkat di mana-mana, kemungkinan besar akan timbul masalah kekurangan air yang serius di masa mendatang.
Akan tetapi, hasil-hasil ini tidak seimbang dengan pertumbuhan penduduk sebanyak 800 juta orang di negara-negara berkembang. Dengan demikian, pada tahun 1990 masih ada satu miliar orang lebih yang kekurangan air bersih dan sanitasi yang memadai. Keadaan yang sulit ini tampaknya mengumandangkan kata-kata sang ratu kepada Alice dalam cerita anak-anak berjudul Through the Looking-Glass, ”Nah, kamu harus berlari secepat mungkin untuk mempertahankan kedudukanmu sekarang. Kalau kamu ingin menuju tempat lain, kamu harus lari paling tidak dua kali lebih cepat!”
Sejak tahun 1990, tingkat kemajuan dalam memperbaiki nasib orang-orang yang tidak memiliki air dan sanitasi, menurut WHO, secara keseluruhan ”tidak berarti”. Sandra Postel, yang pada waktu itu adalah wakil presiden riset dari Worldwatch Institute, menulis, ”Adalah kelemahan moral yang parah bahwa masih ada 1,2 miliar orang yang tidak dapat memperoleh air minum tanpa risiko penyakit atau kematian. Alasannya bukan sekadar langkanya air atau tidak memadainya teknologi tetapi tidak adanya komitmen sosial dan politik untuk memenuhi kebutuhan dasar orang-orang miskin. Dibutuhkan sekitar 36 miliar dolar AS per tahun, setara dengan sekitar 4 persen pembelanjaan militer dunia, untuk menyediakan bagi semua umat manusia apa yang diremehkan oleh kebanyakan dari antara kita sekarang—air minum yang bersih dan sarana sanitasi untuk pembuangan limbah.”
Tentu saja, bertambahnya jumlah penduduk tidak hanya membutuhkan lebih banyak air minum tetapi juga lebih banyak makanan. Selanjutnya, produksi makanan membutuhkan bahkan lebih banyak air. Akan tetapi, pertanian harus bersaing dengan permintaan air untuk industri dan penggunaan pribadi. Seraya kota-kota dan daerah-daerah industri berkembang, pertanian sering kali kalah bersaing. ”Dari mana lagi makanan akan diperoleh?” tanya seorang peneliti. ”Bagaimana mungkin kita dapat memenuhi kebutuhan 10 miliar orang kalau kita nyaris tidak dapat memenuhi kebutuhan 5 miliar orang dan bahkan mengalihkan air dari pertanian?”
Sebagian besar peningkatan penduduk justru terjadi di negara-negara berkembang yang sering kali sudah kekurangan air. Sungguh menyedihkan, negara-negara itu paling tidak berdaya secara finansial dan teknis dalam menghadapi masalah air.
Di negara-negara berkembang di dunia, limbah mentah mencemari hampir setiap sungai utama. Sebuah survei atas 200 sungai utama di Rusia memperlihatkan bahwa 8 dari antara 10 sungai memiliki tingkat bakteri dan virus yang sangat tinggi dan berbahaya. Sungai dan permukaan air tanah di negara-negara industri, meskipun tidak dibanjiri dengan limbah, sering kali diracuni oleh bahan-bahan kimia yang berbahaya, termasuk yang berasal dari pupuk pertanian. Di hampir semua bagian dunia, negara-negara pesisir memompakan limbah yang belum diolah ke perairan dangkal lepas pantai mereka, mengakibatkan pencemaran pantai yang serius.
Jadi, polusi air adalah masalah global. Sewaktu menyimpulkan situasinya, buku kecil Water: The Essential Resource dari Yayasan Audubon menyatakan, ”Sepertiga dari umat manusia bekerja keras dalam lingkaran setan berupa penyakit dan kelemahan fisik karena air yang tercemar; sepertiga lagi terancam oleh senyawa kimia yang dilepaskan ke dalam air dengan efek jangka panjang yang tidak diketahui.”
Di negara-negara berkembang, menurut majalah World Watch, 80 persen dari semua penyakit ditularkan melalui konsumsi air yang tidak aman. Bibit penyakit yang ditularkan melalui air serta polusi menewaskan 25 juta orang setiap tahun.
Penyakit mematikan yang berkaitan dengan air—termasuk diare, kolera, dan tifus—menelan sebagian besar korbannya di kawasan Tropis. Namun, penyakit yang ditularkan melalui air tidak terbatas di negara-negara berkembang. Pada tahun 1993 di Amerika Serikat, 400.000 orang di Milwaukee, Wisconsin, jatuh sakit setelah minum air keran yang mengandung mikroba yang tahan terhadap klorin. Pada tahun itu juga, mikroba-mikroba yang berbahaya masuk ke dalam sistem air di kota-kota lain di Amerika Serikat—Washington, D.C.; New York City; dan Cabool, Missouri—memaksa penduduknya untuk merebus air yang keluar dari keran.
Bidang utama yang mengakibatkan ketegangan adalah penggunaan air sungai secara bersama. Menurut Peter Gleick, seorang peneliti di Amerika Serikat, 40 persen penduduk dunia tinggal di 250 lembah sungai yang airnya diperebutkan oleh lebih dari satu bangsa. Sungai Brahmaputra, Indus, Mekong, Niger, Nil, dan Tigris masing-masing mengalir melewati banyak negara—negara-negara yang ingin menguras air sebanyak mungkin dari sungai-sungai itu. Sekarang (data tahun 1997) saja sudah terjadi pertikaian.
Seraya permintaan akan air meningkat, meningkat pula ketegangan semacam itu. Wakil presiden Bank Dunia untuk Pembangunan yang Aman Lingkungan meramalkan, ”Banyak perang yang terjadi pada abad ini adalah demi minyak, tetapi perang pada abad mendatang adalah demi air.”

Marilah kita ikuti perjalanan sebutir molekul air yang tiada akhirnya. Rangkaian gambar ini, yang diberi nomor sesuai dengan teks tercetak (publikasi Awake! 22 Agustus 1997), menggambarkan hanya satu dari tak terhitung banyaknya jalur yang digunakan sebutir molekul air untuk kembali ke tempat asalnya.—Ayub 36:27; Pengkhotbah 1:7.
Kita akan mulai dengan sebutir molekul di permukaan samudra.(1) Seraya air diuapkan oleh tenaga matahari, molekul ini terangkat
hingga ketinggian beberapa ribu meter di atas permukaan bumi.(2) Sekarang, ia bergabung dengan molekul-molekul air yang lain untuk membentuk titik air yang kecil. Titik air ini diterbangkan oleh angin sejauh ratusan kilometer. Pada waktunya, titik air ini menguap, dan molekulnya terangkat kembali hingga, akhirnya, ia bergabung dengan sebuah butiran air hujan yang cukup besar untuk jatuh ke tanah.
(3) Butiran air hujan tersebut jatuh di lereng gunung bersama miliaran butiran air hujan lainnya; air hujan itu kemudian mengalir ke bawah menuju sungai kecil.(4)

Kemudian seekor rusa (atau binatang lain) minum dari sungai kecil itu, meminum molekul air tadi.(5) Beberapa
jam kemudian rusa (binatang lain) itu mengeluarkan air seni, dan molekul itu pun meresap ke dalam tanah untuk diambil oleh akar pohon.(6) Dari sana, molekul tersebut mengadakan perjalanan hingga ke puncak pohon dan akhirnya menguap ke udara melalui daun.
(7) Seperti sebelumnya, ia melayang ke atas untuk membentuk titik air kecil lainnya. Titik air tersebut melayang dibawa angin hingga ia bergabung dengan awan hujan yang berat dan kelabu.
Siklus tersebut tidak pernah berakhir: Air menguap dari laut, menempuh perjalanan melewati daratan, jatuh sebagai hujan, dan mengalir kembali ke laut. Dalam proses ini, air menunjang semua kehidupan di atas bumi.
Mencairkan gunung es. Beberapa ilmuwan yakin bahwa gunung es yang pejal, yang mengandung air tawar yang murni, dapat ditarik dari Kutub Selatan dengan kapal tunda yang besar kemudian dicairkan untuk menyediakan air bagi negara-negara yang sangat kering di Belahan Bumi Selatan. Masalahnya: Kira-kira setengah bagian dari gunung es akan meleleh di laut sebelum mencapai tempat tujuan.
Menyadap Akuifer. Akuifer adalah lapisan batu yang mengandung air jauh di dalam bumi. Dari tempat ini, air dapat dipompa keluar, bahkan di gurun yang paling kering sekali pun. Tetapi proses menyadap air ini mahal dan menurunkan ketinggian permukaan air tanah. Kerugian lain: Kebanyakan akuifer sangat lambat pemulihannya—dan beberapa, sama sekali tidak mengalami pemulihan. 22 agustus 1997 Awake!



Tidak ada yang lebih sering dianggap remeh selain air—kecuali kalau air sudah mulai habis. Pelajarilah mengapa keadaan ini sudah terjadi di beberapa bagian dunia dan apa yang dapat dilakukan terhadap hal ini.Para petani di dataran subur Valencia bergantung pada irigasi, dan irigasi membutuhkan banyak air—yang selalu kurang di daerah ini. Para petani dapat mengajukan gugatan ke persidangan air kapan pun mereka merasa tidak mendapat bagian secara adil. Perselisihan seputar air bukanlah hal baru, tetapi hal ini jarang diselesaikan dengan cara yang sedemikian adilnya seperti di Valencia ini.
Hampir 4.000 tahun yang lalu, sebuah perselisihan sengit terjadi di antara para gembala yang memperebutkan sebuah sumur dekat Beer-syeba di Israel. (Kejadian 21:25) Dan sejak saat itu, masalah air di Timur Tengah telah menjadi semakin buruk. Sedikitnya dua orang pemimpin terkemuka di daerah itu mengatakan bahwa air merupakan satu-satunya persoalan yang dapat membuat mereka menyatakan perang dengan negara tetangga.
Di negeri-negeri semikering di dunia ini, air selalu memicu ketegangan. Alasannya sederhana: Air sangat penting untuk kehidupan. Sebagaimana dikatakan Kofi Annan, ”air tawar sangat berharga: kita tidak dapat hidup tanpanya. Air tak tergantikan: tidak ada bahan lain yang dapat menggantikannya. Dan, air sifatnya sensitif: aktivitas manusia berpengaruh besar terhadap kuantitas dan kualitas persediaan air tawar”.
Terlebih parah lagi dewasa ini, baik kuantitas maupun kualitas air tawar di planet ini sedang terancam. Kita hendaknya tidak terbuai dengan cadangan air yang kelihatannya limpah di beberapa bagian dunia yang beruntung.
Reservoir yang Semakin Surut

Orang-orang yang menghadapi kekurangan air setiap hari benar-benar tahu bagaimana rasanya hal itu. Setiap hari, Asokan, seorang pekerja kantoran di Madras, India, harus bangun dua jam sebelum matahari terbit.
Dengan menenteng lima ember, ia pergi ke keran air umum, yang jaraknya lima menit berjalan kaki dari rumahnya. Karena air hanya tersedia antara pukul empat sampai enam pagi, ia harus antre. Air yang ia bawa ke rumah dalam ember-embernya itu akan digunakan sehari penuh. Banyak orang India lainnya—dan satu miliar orang lain di planet ini—tidak seberuntung itu. Mereka tidak punya keran, sungai, atau sumur di dekat rumah.
DI MANA SEMUA AIR TAWAR ITU Sekitar 97 persen air berada di laut dan terlalu asin untuk air minum, pertanian, dan manufaktur. Hanya ada sekitar 3 persen air tawar di bumi ini. Akan tetapi, kebanyakan tidak mudah didapat, sebagaimana diperlihatkan oleh ilustrasi berikut. [Bagan ilustrasi diatas] Es dan Salju abadi 68,7% Air bawah tanah 30,1% Permafrost, es bawah tanah 0,9% Danau, sungai, dan rawa 0,3%Abdullah, seorang anak lelaki yang tinggal di daerah Sahel, Afrika, adalah salah satu di antaranya. Tanda di jalan yang memampangkan nama desanya menyebutkan bahwa desanya adalah sebuah oasis; tetapi air di sana sudah lama lenyap, dan pohon-pohon pun sudah jarang terlihat. Abdullah bertugas mengambil air untuk keluarganya dari sebuah sumur yang jauhnya satu kilometer lebih.
Di beberapa bagian dunia, permintaan akan air tawar bersih sudah mulai melebihi persediaan yang ada. Alasannya sederhana: Banyak orang tinggal di daerah kering dan semikering, tempat air jarang ada sejak lama. (Lihat peta di atas.) Menurut Lembaga Lingkungan Hidup Stockholm, sepertiga populasi dunia tinggal di daerah-daerah kekurangan air pada level sedang hingga parah. Dan, permintaan akan air telah meningkat hingga lebih dari dua kali peningkatan jumlah penduduk.
Di pihak lain, persediaan air pada dasarnya tidak dapat berubah. Sumur-sumur yang lebih dalam dan reservoir-reservoir baru mungkin bisa memberikan kelegaan sementara, tetapi jumlah curah hujan dan jumlah air bawah tanah akan tetap sama. Oleh karena itu, para meteorolog mengkalkulasi bahwa dalam waktu 25 tahun, kuantitas air yang tersedia bagi setiap orang di bumi akan berkurang hingga 50 persen.
▪ SUPLAI UNTUK KOTA Di Mexico City, metropolis terbesar kedua di dunia, permukaan air tanah, yang menyuplai 80 persen air untuk kota, terus tenggelam. Pemompaan melebihi pengisian kembali secara alami hingga lebih dari 50 persen. Beijing, ibu kota Cina, mengalami problem yang sama. Akuifernya menyusut lebih dari satu meter setiap tahun, dan sepertiga sumurnya telah mengering.
▪ IRIGASI Akuifer besar Ogallala di Amerika Serikat telah sangat terkuras sehingga tanah irigasi di barat laut Texas telah berkurang sampai sepertiganya akibat kekurangan air. Cina dan India, penghasil makanan terbesar kedua dan ketiga, sedang menghadapi krisis yang sama. Di negara bagian Tamil Nadu di India, irigasi telah menyebabkan permukaan air tanah tenggelam lebih dari 23 meter dalam sepuluh tahun.
▪ SUNGAI-SUNGAI YANG LENYAP Selama musim kering, sungai besar Gangga tidak bisa lagi mengalir sampai ke laut, karena semua airnya sudah dialirkan ke mana-mana. Keadaan ini juga terjadi pada Sungai Colorado di Amerika Utara.
Sebagaimana tubuh kita membutuhkan air untuk membuang kotoran, air yang limpah juga dibutuhkan untuk sanitasi yang layak—air yang bagi banyak orang benar-benar tidak tersedia. Jumlah orang yang tidak memiliki sanitasi yang layak meningkat dari 2,6 miliar pada tahun 1990 menjadi 2,9 miliar pada tahun 1997. Jumlah itu hampir setengah jumlah manusia di planet ini. Dan, sanitasi sebenarnya merupakan masalah hidup dan mati. Dalam sebuah pernyataan bersama, pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa Carol Bellamy dan Nitin Desai memperingatkan, ”Jika anak-anak kekurangan air yang layak untuk minum dan sanitasi, hampir setiap aspek kesehatan dan perkembangan mereka terancam.”
Produksi makanan bergantung pada air. Banyak tanaman pangan, tentu saja, diairi oleh hujan, tetapi, akhir-akhir ini, irigasi telah menjadi faktor kunci dalam memberi makan penduduk dunia yang meningkat semakin pesat ini. Dewasa ini, 36 persen panenan dunia bergantung pada irigasi. Namun, jumlah tanah pertanian di dunia yang diberi irigasi mencapai puncaknya 20 tahun yang lalu, dan sejak saat itu terus menurun.
Jika air menyembur dengan limpah dari setiap keran di rumah kita dan jika kita memiliki toilet yang higienis, yang dapat dengan mudah mengalirkan kotoran, rasanya sulit untuk percaya bahwa persediaan air di dunia ini sudah mulai habis. Akan tetapi, ingatlah bahwa hanya 20 persen manusia yang bisa menikmati kemewahan ini. Di Afrika, banyak wanita menghabiskan waktu hingga enam jam sehari untuk mengambil air—sering kali air yang tercemar. Wanita-wanita itu mengetahui dengan lebih jelas kenyataan keras ini: Air yang bersih dan aman jarang ada, dan semakin jarang.
Mampukah teknologi memecahkan masalah ini? Dapatkah sumber-sumber air digunakan dengan lebih hemat? Ke mana perginya semua air itu? Artikel-artikel berikut akan berupaya menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.
Sebagai contoh, relatif sedikit orang yang tinggal di daerah tropis Afrika dan Amerika Selatan yang curah hujannya banyak. Air Sungai Amazon yang besar mengalir ke Samudra Atlantik sebanyak 15 persen aliran air global tahunan, tetapi karena penduduk di daerah itu sedikit, sedikit juga air yang dikonsumsi. Di pihak lain, sekitar 60 juta orang tinggal di Mesir, yang curah hujannya sedikit, dan semua kebutuhan mereka akan air harus dipuaskan oleh Sungai Nil yang sudah berkurang airnya.
▪ Pemroduksian satu ton baja dapat mengkonsumsi 280 ton air.
▪ Memproduksi 1 kilogram kertas dapat membutuhkan air sebanyak 700 kilogram (jika pabrik tidak mendaur ulang airnya).
▪ Untuk menghasilkan 1 kilogram steik daging sapi Kalifornia, dibutuhkan 20.500 liter air.
▪ Memproses satu ayam beku saja membutuhkan sedikitnya 26 liter air.
DI MAN
A AIR DIGUNAKAN?Rumah Tangga 10%
Industri 25%
Pertanian 65%


Jutaan galon air dibuang-buang
akibat bocornya pipa saluran air
dan dibiarkannya air mengalir
terus dari keran
* Lihat artikel ”Cherrapunji—Salah Satu Tempat Terbasah di Dunia”, dalam Sedarlah! 8 Mei 2001.


