Jumat, 05 November 2010

ATEISME Sedang Kampanye?

BEBERAPA situs sempat marak memberitakan "Ateis Berkampanye". Pada waktu itu barangkali dua tahun lalu di Wahington D.C , American Humanist Association mulai menjalankan kampanye iklan liburan senilai $40,000 yang mencoba untuk menjangkau siapapun yang mungkin tertarik dengan humanisme, yang menolak percaya adanya Tuhan dan kehidupan setelah kematian. Iklan-iklan tersebut berbunyi "Mengapa percaya dalam Tuhan? Cukup berbuat baik sajalah," yang pada waktu itu dipajang di luar dan di dalam 200 bus Metro DC dan akan terus berlangsung hingga musim Natal. Iklan-iklan dari kelompok ateis telah menimbulkan ratusan keluhan yang dikirimkan ke agen iklan-iklan tersebut kata salah satu situs tersebut.
SUATU kelompok ateis yang baru telah bangkit di tengah-tengah masyarakat. Orang-orang ateis jenis baru ini tidak puas menahan pandangan mereka hanya untuk kalangan sendiri. Sebaliknya, mereka berkampanye, “dengan aktif, gusar, dan gigih berupaya meyakinkan umat beragama untuk mengubah sudut pandang mereka”, tulis kolumnis Richard Bernstein. Bahkan, orang agnostik pun menjadi incaran mereka, karena orang-orang ateis-baru ini tidak memberi peluang untuk keraguan. Pokoknya, bagi mereka tidak ada Allah Titik.
Dunia perlu sadar dari kepercayaan agama mereka yang bagaikan mimipi buruk yang panjang,” kata penerima hadiah nobel Steven Weinberg. “Apa pun yang kami para ilmuwan bisa lakukan untuk melemahkan cengkraman agama harus dilakukan, dan mungkin pada akhirnya ini bisa menjadi sumbangsih terbesar kami bagi peradaban.” Salah satu alat yang digunakan untuk melemahkan cengkraman tersebut adalah karya tulis, yang tampaknya membangkitkan banyak minat, karena beberapa buku ateis-baru telah menjadi buku terlaris.
Agama punya andil dalam gerakan ateis-baru, karena orang-orang telah menjadi muak dengan ekstrimis, teroris, dan konflik agama yang merongrong dunia. “Agama meracuni segala sesuatu,”kata seorang ateis terkemuka. Selain itu, dikatakan bahwa “racun” tersebut, mencakup kepercayaan agama secara umum, bukan hanya pandangan yang ekstrem. Menurut orang-orang ateis-baru, dogma-dogma utama harus di ekspos, ditinggalkan, dan digantikan dengan logika dan nalar. Orang seharusnya tidak takut untuk dengan terus terang menyingkapkan “segunung omong kosong yang menghancurkan kehidupan” yang terdapat dalam berbagai Kitab Suci, tulis ateis Sam Harris. “Kita tidak bisa lagi menahan diri ... demi menyinggung umat beragama.”
Sementara orang ateis-baru mencela agama, mereka menyanjung sains, bahkan ada yang menyatakan bahwa sains menyangkal keberadaan Allah. Apakah memang demikian? Sebenarnya, apakah bisa? “Seraya cukup waktu berlalu, ”kata Harris, “satu pihak akan benar-benar memenangkan argumen ini, dan pihak lainnya akan benar-benar kalah.”
Menurut Anda, pihak mana yang akan menang? Seraya kita membahas masalah ini, coba pikirkan, 'Apakah kepercayaan kepada pencipta pada dasarnya berbahaya? Apakah dunia akan menjadi lebih baik jika semua orang ateis?' Mari kita periksa apa yang dikatakan beberapa ilmuwan dan filsuf terkemuka tentang ateisme, agama, dan sains.
APAKAH SAINS TELAH MENIADAKAN ALLAH?
SELAMA 50 tahun, filsuf Inggris Antony Flew sangat direspek sebagai seorang ateis oleh rekan-rekannya. “Theology And Falsification (Teologi dan Pemalsuan)”, karya tulisnya pada tahun 1950, “menjadi publikasi berisi filsafat yang paling banyak dicetak ulang pada abad [ke-20] ini”. Pada 1986, Flew disebut “kritikus paling terkemuka di antara para kritikus teisme (kepercayaan akan Allah atau dewa-dewa) kontemporer”. Maka, banyak orang sangat terkejut ketika, pada 2004, Flew mengumumkan behwa ia telah mengubah sudut pandangnya.
Apa yang membuat Flew berubah pikiran? Singkatnya, sains. Ia menjadi yakin bahwa alam semesta, hukum-hukum alam, dan kehidupan itu sendiri tidak bisa muncul karena kebetulan belaka. Apakah itu kesimpulan yang masuk akal?
Bagaimana Hukum Alam Muncul?
Fisikawan dan penulis buku Paul Davies mengemukakan bahwa sains sangat berhasil dalam menjelaskan fenomena fisik, misalnya hujan. Namun, ia berkata, “Sehubungan dengan ... pertanyaan seperti 'Mengapa ada hukum alam?' situasinya berbeda. Pertanyaan-pertanyaan semacam itu tidak terjawab oleh temuan sains yang spesifik: banyak pertanyaan yang benar-benar penting tetap ada sejak lahirnya peradaban dan masih mengganggu kita dewasa ini.”
Yang penting bukan sekadar fakta bahwa ada ke keteraturan dalam alam,” tulis Flew pada 2007, “tetapi bahwa keteraturan itu secara matematis tepat, universal, dan 'saling berkaitan'. Einstein menyebut keteraturan itu sebagai 'manifestasi nalar'. Pertanyaan yang hendaknya kita ajukan adalah bagaimana alam sampai dikemas dengan cara ini. Pasti inilah pertanyaan yang diajukan para ilmuwan mulai dari Newton sampai Einstein sampai Heinsenbergdan yang dijawab. Jawaban mereka adalah Pikiran Allah.”
Sesungguhnya, banyak ilmuwan terkemuka tidak beranggapan bahwa percaya kepada Penyebab Awal yang cerdas itu adalah sesuatu yang tidak ilmiah. Di pihak lain, sama sekali tidak masuk akal untuk mengatakan bahwa alam semesta, hukum-hukumnya, dan kehidupan muncul begitu saja. Pengalaman sehari-hari menunjukan bahwa rancanganterutama yang sangat rumitharus ada perancangnya.
Iman Mana yang Akan Anda Pilih?
Meskipun orang ateis-baru dengan senang hati mengibarkan panji sains di atas kubu mereka, faktanya adalah bahwa ateisme maupun teisme tidak didasarkan atas sains semata. Kedua-duanya berkaitan dengan imanateisme beriman pada kepada kebetulan belaka yang tanpa tujuan; teisme beriman kepada Penyebab Awal yang cerdas. Orang ateis-baru mendukung pandangan bahwa “semua iman keagamaan adalah iman buta”, tulis John Lennox, profesor matematika di University of Oxford, Inggris. Ia menambahkan, “Kita perlu menandaskan dengan tegas bahwa mereka itu keliru.” Maka, pertanyaannya adalah: Iman mana yang terbukti benariman orang ateis atau iman umat beragama? Misalnya, perhatikan soal asal mula kehidupan.
Penganut evolisi tanpa ragu mengakui bahwa asal mula kehidupan masih merupakan misterimeskipun ada banyak teori yang saling bertentangan. Seorang ateis-baru yang terkemuka, Richard Dawkins, menyatakan bahwa mengingat banyaknya planet di jagat raya, kehidupan pasti akan muncul entah dimana. Namun, banyak ilmuwan yang dihormati tidak terlalu yakin tentang hal itu. Profesor John Barrow di Cambridge mengatakan bahwa kepercayaan akan 'evolusi kehidupan dan pikiran” menemui “jalan buntu pada setiap tahapnya. Ada begitu banyak hal yang bisa membuat kehidupan gagal berevolusi dalam lingkungan yang rumit dan tak bersahabat sehingga teralalu arogan untuk menyimpulkan bahwa, hanya dengan cukup zat karbon dan cukup waktu, segala sesuatu mungkin terjadi”.
Selain itu, ingatlah bahwa kehidupan bukan sekadar campuran beragam unsur kimia. Sebaliknya, kehidupan berbentuk atas dasar informasi luar biasa canggih, yang dikodekan dalam DNA. Maka, jika kita berbicara tentang asal mula kehidupan, kita juga berbicara tentang asal mula informasi biologis. Apa satu-satunya sumber informasi yang kita ketahui? Singkat kata, kecerdasan. Apakah kejadian secara kebetulan akan menghasilkan informasi yang rumit, seperti program komputer, rumus aljabar, esiklopedia, atau bahkan resep kue? Tentu saja tidak. Namun, dalam hal kecanggihan dan efisiensi, tak satu pun di antara hal-hal di atas dapat menandingi informasi yang tersimpan dalam kode genetik organisme hidup.
Segala Sesuatu Muncul secara KebetulanDapatkah Diterima Sains?
Menurut para ateis, “alam semesta sebagaimana keadaannya sekarang, secara misterius, dan secara kebetulan, memungkinkan munculnya kehidupan", jelas Paul Davies. “Andaikan keadaannya berbeda,” kata para ateis, “kita tidak akan ada di sini dan mempersoalkan topik ini. Alam semesta mungkin pada dasarnya merupakan suatu kesatuan dan mungkin juga tidak, namun tidak ada rancangan, maksud atau tujuan untuk semua ituyang pasti tidak ada yang masuk akal bagi kita.” “Keuntungan pendirian ini, komentar Davies “adalah bahwa pendirian ini mudah dibelabegitu mudahnya sampai-sampai menjadi suatu dalih”, supaya tidak perlu membahas masalahnya.
Dalam bukunya Evolusion: A Theory in Crisis (Evolusi: Teori yang Mengalami Krisis) biolog molekuler Michael Denton menyimpulkan bahwa teori evolusi “lebih mirip dengan prisip astrologi abad pertengahan ketimbang .... teori ilmiah yang serius”. Ia juga menyebut paham evolusi Darwin sebagai mitos terbesar pada zaman kita.
Tentu saja, anggapan bahwa segala sesuatu muncul secara kebetulan kedengarannya seperti mitos. Bayangkan situasi berikut: Seorang arkeolog melihat sebuah batu yang belum diasah dan bentuknya agak persegi. Ia mungkin menganggap bahwa batu itu kebetulan saja bentuknya begitu, dan itu masuk akal. Namun, belakangan ia menemukan batu berbentuk manusia setengah badan, sempurna sampai ke detailnya yang terkecil. Apakah ia menganggap benda tersebut muncul secara kebetulan? Tidak. Pikirannya yang logis mengatakan, 'Ada yang membuatnya.' Dengan penalaran yang sama, Alkitab mengatakan, “Setiap rumah dibangun oleh seseorang, tetapi ia yang membangun segala perkara adalah Allah.”(Ibrani 3:4) Setujukah Anda dengan pernyataan itu?
Semakin kita Mengenal alam semesta kita,” tulis Lennox, “hipotesis bahwa ada Allah Pencipta, yang merancang alam semesta demi suatu tujuan, semakin besar kredibilitasnya sebagai penjelasan terbaik tentang mengapa kita ada sini.”
Sungguh disesalkan, salah satu hal yang merongrong kepercayaan akan Allah adalah kejahatan yang dilakukan atas nama-Nya. Akibatnya, ada yang menyimpulkan bahwa keadaan umat manusia akan lebih baik tanpa agama. Bagaimana menurut Anda?






Salinan dari publikasi Awake! November 2010