
DON KISOT adalah tokoh fiksi tersohor rekaan Miguel de Cervantes, pengarang Spanyol abad ke-16, dalam novel klasiknya Don Kisot (Don Quixote). Dalam novel itu, Don Kisot mengisi pikirannya dengan berbagai legenda dan dongeng tentang para ksatria gagah perkasa dengan senjata berkilauan yang datang menyelamatkan gadis-gadis bangsawan yang tercancam bahaya. Lama-kelamaan, Don Kisot mulai percaya bahwa ia sendiri pun seorang kesatria. Dalam satu episode yang terkenal, ia menyerang sekumpulan kincir angin yang dalam khayalannya adalah segerombolan raksasa yang bengis. Walaupun dalam pikirannya sendiri ia yakin sedang melayani kepentingan Allah[nya] dengan membunuh raksasa-raksasa tersebut, ia akhirnya benar-benar dipermalukan.
menimbulkan perang antar bangsa, sapu bersih etnik (genosida), kejahatan yang penuh kekerasan, pengerusakan lingkungan dan lain lain.... temukan artikel esensial (tema artikel ini) serta gambaran fitur sebuah kubus yang memperdaya—sebuah teori bahwa "penampilan bisa menipu." Yang sekali lagi diulas dalam jurnal ini!Mengapa Orang-Orang Meninggalkan Agama Tradisional
"Can I worship God in My Own Way?" Kian bertambah banyak orang akan menjawab ”ya” untuk pertanyaan ini. Ada apa di balik tren tersebut? Dan, dapatkah agama yang dirancang sesuai selera pribadi benar-benar memuaskan kebutuhan rohani Anda?
ANDA BUTUH MAKANAN. Anda butuh air. Anda butuh udara. Anda butuh pernaungan dan perlindungan yang memadai dari unsur-unsur alam. Perkara-perkara itu bukan hanya kebutuhan setiap manusia, melainkan juga kebutuhan tak terhitung banyaknya makhluk hidup lain di planet ini. Namun, ada satu kebutuhan yang hanya dimiliki manusia.
Sosiolog asal Kanada bernama Reginald W. Bibby menulis, ”Manusia memiliki kebutuhan yang hanya dapat dipenuhi oleh agama.” Dan, dalam terbitan Februari 2000, jurnal American Sociological Review menyajikan sebuah artikel yang mengatakan, ”Minat rohani mungkin akan selalu menjadi bagian dari sudut pandang manusia.”
Ya, sepanjang sejarah, manusia telah merasakan kebutuhan untuk beribadat. Selama berabad-abad, kebanyakan orang berpaling kepada agama yang terorganisasi untuk memenuhi kebutuhan itu. Namun, keadaan sedang berubah. Di banyak negara maju—seperti Amerika Utara dan Eropa Utara—semakin banyak orang meninggalkan gereja mereka. Apakah tren itu berarti agama sudah mati? Sama sekali tidak.
”Laporan tentang kematian agama terlalu dibesar-besarkan,” tulis surat kabar Swedia Svenska Dagbladet. Apa yang menggantikan gereja-gereja tradisional? Surat kabar ini melanjutkan, ”Trennya adalah bahwa kita tidak bergabung dengan gereja mana pun. Sebaliknya, kita dapat memilih dan menyusun suatu paduan yang berterima dari pasar agama sedunia. . . . Hal ini dapat mencakup segala sesuatu, dari kristal-kristal penyembuhan hingga jubah biarawan Buddha. Kalau sudah bosan dengan pilihan Anda, tinggal ganti saja, mudah dan cepat.”
Para peneliti sosiologi agama menyebut tren ini sebagai ”agama pribadi” atau ”agama terselubung”. Sosiolog Bibby, yang dikutip sebelumnya, menciptakan istilah ”agama racikan sendiri”. Ada juga yang menyebut kepercayaan semacam itu ”dirancang sesuai pesanan” atau ”menurut selera”. Di beberapa negeri yang telah turun-temurun beragama Kristen, kelompok agama terbesarnya kini terdiri dari orang-orang yang, pada dasarnya, memiliki agama pribadi.
Perhatikanlah hasil sebuah survei yang diadakan di Swedia, salah satu negeri di dunia yang bersikap paling masa bodoh terhadap agama. Menurut survei itu, 2 dari 3 orang menganggap dirinya orang Kristen ”dengan cara mereka sendiri”. Beberapa orang mengatakan, ”Saya punya pandangan sendiri tentang Kekristenan,” ”Saya tidak betah di gereja,” ”Saya tidak suka pergi ke gereja dan mendengarkan para imam,” atau ”Saya bisa pergi ke kamar saya dan berdoa sendiri.” Banyak orang cenderung percaya akan reinkarnasi atau takdir. Kebanyakan mengaku percaya bahwa ada suatu bentuk kuasa ilahi, tetapi mereka tidak dapat mendefinisikannya.
Menurut survei lain, banyak orang menyimpan perasaan religius mereka untuk saat-saat sewaktu mereka berada di alam terbuka sambil menikmati pemandangan alam. Seorang wanita muda yang menjadi petani mengatakan, ”Saya rasa, sewaktu Anda berada di hutan dan ladang, itulah saatnya Anda berada paling dekat dengan Allah.” Orang lain yang diwawancarai, yang tidak menganggap dirinya religius, menjelaskan, ”Sewaktu saya berada di hutan, saya merasa seolah-olah berada dalam sebuah kuil yang sangat besar. . . . Siapa yang mengendalikannya, saya tidak tahu, tetapi saya dapat merasakannya.” Beberapa orang menggambarkan alam sebagai sesuatu yang kudus, bersifat ilahi, serta menimbulkan rasa takut, dan mengatakan bahwa berada di alam memberi mereka kekuatan baru, kedamaian, dan keharmonisan. Sebagai ringkasan, seorang pewawancara mengakhiri laporannya, ”Allah telah pindah ke hutan.”
|
|
Tren ini tampak jelas di banyak bagian dunia dewasa ini. Thomas Luckmann, seorang pakar asal Amerika di bidang sosiologi agama, mengatakan bahwa dalam masyarakat industri, agama yang berorientasi pada gereja telah dikesampingkan dan digantikan oleh ”bentuk sosial agama”. Hasilnya, orang membentuk filsafat hidup dengan memilih gagasan-gagasan tentang perkara-perkara rohani dan kemudian menggabungkan gagasan-gagasan ini ke dalam agama pribadinya.
Anda mungkin bertanya-tanya, ’Apakah agama dan gereja yang mapan benar-benar sudah dianggap tidak penting dalam masyarakat? Jika demikian, mengapa?’ Pertanyaan-pertanyaan ini dibahas lebih lanjut.
[Gambar atas: Hindu idol/Photograph taken by courtesy of the British Museum
Orang-orang dari segala latar belakang sosial meninggalkan gereja mereka. Ronald F. Inglehart, seorang peneliti di University of Michigan dan direktur Badan Survei Norma Dunia, mengatakan bahwa peranan agama telah memudar di negeri-negeri berkembang. Majalah Bible Review mengutip kata-katanya sebagai berikut, ”Selain jumlah hadirin gereja mingguan yang merosot drastis, negeri-negeri Amerika Latin kini bahkan mengirim misionaris untuk menyelamatkan jiwa-jiwa di negeri-negeri bekas penjajah.” Ia mengaku bahwa ”kemerosotan agama” khususnya mencolok di beberapa negeri Eropa Utara. Di Norwegia dan Denmark, hanya sekitar 5 persen penduduknya yang hadir di gereja secara rutin. Di Swedia, statistiknya hanya 4 persen, dan di Rusia, 2 persen. Laporan dari Jerman memperlihatkan bahwa antara tahun 1984 dan 1993, di kalangan orang yang terdaftar sebagai Katolik, jumlah yang secara rutin hadir di gereja merosot dari 25,3 persen menjadi 19 persen. Pada tahun 1992, hanya 4 persen orang Protestan yang secara teratur menghadiri kebaktian hari Minggu. Pada tahun 1999, Christianity Today melaporkan, ”Hanya satu di antara sepuluh orang Jerman yang pergi ke gereja setiap minggu.” Sehubungan dengan kemerosotan jumlah penganut di Inggris, surat kabar The Guardian mengatakan, ”Kekristenan belum pernah berada dalam kondisi seburuk ini.” Artikel ini menyatakan bahwa ”bagi imam dan presbiterium, tahun 1950-2000 merupakan setengah abad yang terburuk”. Sambil mengacu kepada sebuah laporan khusus tentang agama di Inggris, surat kabar itu memperlihatkan bahwa bukan hanya kaum muda melainkan para lansia pun kehilangan iman akan agama yang terorganisasi. Artikel ini mengatakan, ”Para lansia kehilangan iman akan Allah seraya usia mereka bertambah. Riset baru yang meneguhkan tren ini akan menggegerkan gereja-gereja Inggris yang dilanda krisis, yang hingga sekarang menganggap para lansia sebagai tulang punggung yang setia dari jemaat mereka yang kian menyusut.” Tren serupa terdapat di luar Eropa. Misalnya, majalah Kanada Alberta Report mengatakan bahwa Kanada mengalami ”kemerosotan kepercayaan dan ibadat yang terorganisasi” dan bahwa ”jumlah orang Kanada yang lebih suka mengikuti gagasannya sendiri tentang Allah tiga kali jumlah orang yang tunduk kepada suatu kredo yang jelas”. Banyak orang sama sekali tidak merasa diperkaya atau diterangi secara rohani dengan menghadiri kebaktian di gereja. Menurut majalah Kanada Maclean’s, orang Yahudi dan Katolik yang diwawancarai di sebuah ashram, atau tempat pengasingan agama Hindu, di Himalaya menyuarakan pendapat berikut, ”Kami tidak lagi tergerak dan tersentuh oleh ritus-ritus yang membosankan.” Sebenarnya, bahkan setelah hadir di gereja dengan setia selama bertahun-tahun, beberapa orang bertanya-tanya, ’Apa sebenarnya yang telah saya pelajari di gereja? Apakah saya menjadi lebih dekat dengan Allah?’ Tidak heran bahwa, seperti dikatakan oleh penulis bernama Gregg Easterbrook, ”di Barat, kemiskinan rohani telah menggantikan kemiskinan jasmani sebagai kemiskinan utama pada era kita”.
Tentu saja, ada banyak negeri yang jumlah hadirin gerejanya lebih banyak. Akan tetapi, hadir di gereja tidak selalu berarti berpaut dengan loyal pada ajaran-ajaran gereja. Misalnya, surat kabar Australia The Age menyatakan bahwa di Barat, ”proporsi orang Kristen yang mempraktekkan agama mereka merosot drastis. Di banyak negeri di Afrika, Asia, dan Amerika Latin, Kekristenan menjadi selubung yang di baliknya banyak orang terus memeluk kepercayaan-kepercayaan suku atau kultus yang lebih eksotik yang tidak berkaitan dengan ajaran-ajaran Kristen yang ortodoks, sering kali justru bertentangan, dan secara resmi disingkirkan bertahun-tahun yang lalu”. Mengapa begitu banyak orang, baik tua maupun muda, meninggalkan gereja mereka? Tampaknya, faktor utamanya adalah kekecewaan. Sejarah Agama yang Menyedihkan The Guardian membuat pengamatan berikut, ”Gereja Katolik Roma memiliki sejarah yang memprihatinkan berupa persekongkolan dengan fasisme sepanjang abad ke-20, dari ucapan selamat yang disampaikan kepada Jenderal Franco setelah perang sipil Spanyol, hingga dukungan kepada Jenderal Pinochet belum lama ini.” Guardian juga menulis bahwa Paus Pius XII, uskup semasa perang, ”senang sekali membuat kesepakatan dengan [Hitler] dan menghindari tugas yang dapat menimbulkan perasaan risi seperti mengutuki Holocaust”. The Age menyatakan, ”Pernyataan-pernyataan Kekristenan sudah terlalu sering terbukti hampa. Orang Kristen belum berhasil mempertahankan perdamaian dan persatuan interen mereka sendiri. . . . Hal itu diteguhkan oleh banyaknya perang yang disertai penjarahan dan penaklukan dengan dalih menobatkan orang pada Kristus. Iman, harapan, dan kasih mungkin adalah sifat-sifat Kristen yang menonjol, tetapi orang-orang yang konon mengejar sifat-sifat itu dapat sama sinisnya, sama rentannya terhadap perasaan kecil hati seperti orang non-Kristen, dan mungkin tidak lebih murah hati [daripada orang non-Kristen]. . . . Holocaust dicetuskan justru oleh negeri Kristen, demikian juga dengan perang atom yang mengerikan terhadap Jepang.”
Beberapa orang mungkin berdalih bahwa Susunan Kristen telah lama menganjurkan sifat-sifat bajik seperti kearifan, ketabahan, kesahajaan, dan keadilan. Akan tetapi, The Age mengomentari, ”Memang, tetapi secara umum orang-orang Kristen di Eropa, Amerika Utara, dan Australia jauh lebih banyak mengkonsumsi ketimbang memberi sumbangsih bagi sumber daya Bumi dan belum berhenti mentoleransi eksploitasi, penindasan, dan degradasi lingkungan terhadap negeri-negeri tetangga yang lebih lemah demi memenuhi hasrat mereka.” Sehubungan dengan masa depan Susunan Kristen, The Age melanjutkan, ”Tanpa kerangka kerja yang stabil dan terorganisasi, sama sekali tidak ada harapan bagi Kekristenan untuk memulihkan kekuatan sosial yang dimilikinya berabad-abad yang silam. Hal ini bisa berarti baik atau buruk, bergantung pada sudut pandang pribadi. Namun, itulah kenyataan yang menghadang Kekristenan di tahun-tahun mendatang.” Akibat kemerosotan demikian dalam dunia agama yang terorganisasi, banyak orang berpaling dari gereja-gereja yang mapan. Namun, apakah alternatif yang mereka temukan benar-benar memuaskan kebutuhan mereka? Apakah alternatif itu merupakan jawabannya Banyak orang telah berpaling dari agama tradisional karena peranannya dalam mendukung peperangan dan rezim politik yang menindas![]() | |||
Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, pertama-tama kita harus mempertimbangkan apakah agama pribadi dapat benar-benar bertahan apabila diteliti menggunakan ’daya nalar’ kita, salah satu karunia terbesar yang dimiliki manusia.—Roma 12:1. Orang yang berpikir secara logis cenderung menolak apa yang saling bertentangan. Akan tetapi, dalam sebuah survei agama pribadi di Swedia, disimpulkan bahwa sering kali orang ”secara agak spontan menggabungkan elemen-elemen filsafat hidup yang berbeda (dan mungkin secara masuk akal tidak sejalan) ke dalam filsafat mereka sendiri”. Untuk Selengkapnya klik di sini. | |||


