
Timbulnya kekerasan disekolah, tauran bahkan dikalangan mahasiswa, gagalnya suatu hubungan yang terjalin diantara pasangan muda yang sedang berpacaran, ataupun dalam perkawinan. semua hal ini tidak lain disebabkan oleh cacat emosi bawaan atau hilangnya kasih sayang alami yang dialami insan manusia dari generasi ke generasi. Akar penyebab mendasar diimulai dalam keluarga. Ada masalah yang kelihatannya di permukaan tidak cukup serius namun ada masalah yang sangat ekstrem. Anda mungkin sekarang sudah berpisah dengan orang tua, ayah atau ibu karena sudah menikah dan berkeluarga, punya anak-anak sendiri yang ingin kita asuh dengan baik, mungkin kita berpikir cara asuh orang tua kita dulu tidak ingin kita gunakan sebagai model karena mengingat hasilnya kurang menyenangkan dari apa yang Anda alami sendiri. Mungkin tidak seekstrem yang dialami orang lain. Berikut ini kita diajak untuk melihat permasalahan yang sering terjadi dalam keluaga-keluarga dimana-mana.
Perubahan dalam Keluarga

Misalnya, perhatikan perubahan situasi dalam kehidupan keluarga. ”Ada lebih dari sepertiga anak Amerika yang orang tuanya bercerai sebelum mereka berusia 18 tahun,” lapor Journal of Instructional Psychology. Statistik serupa dapat dikutip dari negeri Barat lainnya. Seraya perkawinan orang tua mereka hancur, kaum muda sering kali harus menanggung emosi yang memedihkan hati. ”Pada umumnya,” kata Journal itu, ”anak-anak yang baru mengalami keluarga berantakan lebih sulit memenuhi harapan akademis dan sosial di sekolah ketimbang anak-anak yang berasal dari keluarga utuh atau keluarga dengan orang tua tunggal atau orang tua tiri tetapi yang sudah mapan . . . Selain itu, perceraian orang tua sering kali mempengaruhi perasaan sejahtera atau percaya diri sang anak.”
Meningkatnya jumlah wanita yang ikut mencari nafkah juga mengubah lingkungan keluarga. Suatu penelitian tentang kejahatan remaja di Jepang mengamati bahwa lebih sulit bagi keluarga yang kedua orang tuanya bekerja untuk mengurus anak-anak mereka ketimbang bagi keluarga yang salah satu orang tuanya tinggal di rumah.
Memang, banyak keluarga membutuhkan dua pendapatan sekadar untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ini juga memungkinkan anak-anak menikmati gaya hidup yang lebih nyaman. Tetapi, ada kerugiannya: Jutaan anak pulang sekolah ke rumah yang kosong. Sewaktu orang tua pulang, mereka sering kali lelah dan dibebani oleh problem dari tempat kerja. Akibatnya? Banyak remaja yang kurang diasuh orang tuanya. ”Di keluarga saya, kami tidak melakukan kegiatan bersama-sama,” keluh seorang remaja.
Banyak pengamat merasa bahwa kecenderungan ini bukan pertanda bagus bagi kaum muda. ”Saya percaya bahwa pola asuh yang telah berkembang selama tiga puluh tahun terakhir turut berperan dalam menghasilkan anak-anak yang tidak punya ikatan emosi dengan keluarganya, sulit berkomunikasi, sulit belajar, dan tidak terkendali,” kata dr. Robert Shaw. ”Orang tua mendapati diri mereka diperbudak oleh masyarakat yang materialistis dan ambisius sehingga mereka menghabiskan begitu banyak waktu di tempat kerja dan begitu banyak uang sampai-sampai mereka tidak dapat meluangkan waktu untuk melakukan apa yang dibutuhkan untuk menjalin ikatan dengan anak-anak mereka.”
Ancaman lain terhadap kesejahteraan remaja: Anak-anak yang orang tuanya bekerja sering kali memiliki banyak sekali waktu sendirian. Tidak adanya pengawasan orang tua sama saja dengan mengundang masalah.
Perubahan Pandangan Mengenai Disiplin
Perubahan pandangan mengenai disiplin dari orang tua juga mempengaruhi kaum muda sekarang. Seperti yang dilontarkan Dr. Ron Taffel secara terang-terangan, banyak orang tua ”melepaskan wewenang mereka”. Akibatnya, kaum muda bertumbuh dengan sedikit, kalaupun ada, aturan atau pedoman untuk mengatur perilaku mereka.
Dalam beberapa kasus, tampaknya sikap orang tua dipengaruhi oleh pengalaman masa kecil mereka sendiri. Mereka ingin menjadi teman bagi anak-anak mereka—bukan penegak disiplin. ”Saya terlalu lunak,” kata seorang ibu mengakui. ”Orang tua saya sangat keras; saya tidak mau seperti itu terhadap anak saya. Saya keliru.”
Sejauh mana beberapa orang tua bertindak? USA Today melaporkan, ”Suatu survei baru atas hampir 600 remaja di pusat rehabilitasi narkoba di New York, Texas, Florida, dan Kalifornia menunjukkan bahwa 20% anak berbagi narkoba, selain alkohol, dengan orang tua mereka, dan bahwa 5% remaja benar-benar diperkenalkan kepada narkoba—biasanya mariyuana—oleh papa atau mama mereka.” Bagaimana orang tua bisa sampai begitu tidak bertanggung jawab? Salah satu orang tua mengaku, ”Saya katakan bahwa saya lebih suka dia melakukannya di rumah di bawah pengawasan saya.” Yang lain tampaknya merasa bahwa berbagi narkoba adalah cara untuk menjalin ”ikatan” dengan anak-anak mereka. g05 8/4
Jadi inilah hal-hal yang kelihatannya biasa dan wajar sampai kepada situasi yang tidak wajar bagi beberapa orang lain yang bukan bagian dari masyarakat barat, namun ada keadaan eksrem lain serta kekhawatiran dari orang tua tidak soal mereka tinggal di negeri barat atau di negeri timur seperti di Indonesia. Berikut artikel terkait:

Lindungilah Anak-Anak Anda!
Bahaya yang Meresahkan Setiap Orang Tua
In this series:
- A Danger That Concerns Every Parent
- (Bahasa) Bahaya yang Meresahkan Setiap Orang Tua
- How to Protect Your Children
- (Bahasa) Cara Melindungi Anak Anda
- Make Your Family a Safe Haven
- (Bahasa) Jadikan Keluarga Anda Tempat yang Aman
Related topics:
MONA dan Adin adalah pasangan yang bahagia dan energik. Mereka mempunyai anak lelaki berusia tiga tahun yang cerdas dan sehat yang mereka asuh dengan baik.* Dalam dunia sekarang, hal itu tidak mudah.
Adaberbagai kekhawatiran dan tanggung jawab yang tersangkut. Begitu banyak hal perlu diajarkan kepada anak-anak! Ada satu tanggung jawab yang khususnya menjadi perhatian utama Mona dan Adin: Mereka ingin melindungi anak mereka dari bahaya pelecehan seksual. Mengapa?
”Ayah saya pemabuk, pemarah, dan tak berperasaan,” kata Mona. ”Ia sering menghajar saya, dan mencabuli saya serta adik-adik perempuan saya.”# IBanyak yang sependapat bahwa pengalaman demikian bisa menimbulkan luka emosi yang dalam. Tidak heran jika Mona bertekad melindungi putranya! Dan, Adin pun demikian.
Pelecehan anak meresahkan banyak orang tua. Bisa jadi Anda pun demikian. Tidak seperti Adin dan Mona, Anda mungkin belum pernah mengalami sendiri pelecehan serta akibat-akibatnya, tetapi Anda pasti pernah mendengar laporan yang mengejutkan tentang maraknya praktek keji ini. Di seluruh dunia, para orang tua yang pengasih merasa ngeri mengetahui apa yang terjadi atas anak-anak di lingkungan mereka.
Tidak mengherankan, seorang peneliti dalam bidang pelecehan seksual menyebut angka pelecehan anak sebagai ”salah satu temuan paling menggelisahkan pada era kita”. Kabar itu memang menyedihkan, tetapi apakah perkembangan seperti itu mengejutkan? Tidak bagi orang-orang yang mempelajari Alkitab. Firman Allah menjelaskan bahwa kita hidup pada masa penuh gejolak yang disebut ”hari-hari terakhir”, masa yang ditandai dengan meluasnya perilaku yang ”garang”, ketika orang-orang menjadi ”pencinta diri sendiri” dan tidak memiliki ”kasih sayang alami”.—2 Timotius 3:1-5.
Pelecehan seksual merupakan problem yang menakutkan. Malah, ada orang tua yang merasa tak berdaya sewaktu memikirkan betapa kejinya orang yang mengincar anak-anak untuk dieksploitasi secara seksual. Namun, apakah problem ini terlalu berat untuk ditanggulangi orang tua? Atau, adakah langkah-langkah praktis yang dapat diambil para orang tua agar anak-anak mereka tetap aman? Artikel berikut akan mengulas pertanyaan-pertanyaan ini.

* Nama-nama dalam seri ini telah diubah.
# Pelecehan seksual pada anak terjadi sewaktu seorang dewasa menggunakan seorang anak untuk pemuasan nafsu seksualnya. Hal itu sering mencakup apa yang Alkitab sebut percabulan, atau por‧nei′a, termasuk meraba-raba alat kelamin, hubungan seks, dan seks oral atau anal. Beberapa tindak pelecehan—seperti meraba payudara, melancarkan rayuan amoral secara terang-terangan, memperlihatkan pornografi kepada seorang anak, voyeurism (mendapatkan kepuasan seksual melalui sarana visual), dan secara tidak senonoh mempertontonkan anggota tubuh tertentu—dapat digolongkan ke dalam apa yang Alkitab kutuk sebagai ”tingkah laku bebas” atau ’kenajisan yang tamak’.—Galatia 5:19-21; Efesus 4:19.
Appeared in Awake! October 2007 |