Senin, 23 Agustus 2010

Lagi-Lagi Bencana Alam—Tanggung Jawab-Nyakah?


View Larger Map
Bencana Tsunami kini di Jepang. gempa berkekuatan 9,0 yang melanda wilayah timur laut daratan Jepang pada tanggal 11 Maret 2011. Hal ini dianggap sebagai gempa bumi terburuk dalam sejarah Jepang dan terbesar keempat di dunia sejak tahun 1900, memicu tsunami yang menghancurkan kota-kota di sepanjang pantai timur Jepang. Salah satu kantor berita di Jepang melaporkan korban tewas melampaui 10.000, dengan hampir 17.500 orang dinyatakan hilang. Gempa dan tsunami juga menyebabkan ledakan di sebuah pabrik tenaga nuklir 170 mil sebelah utara Tokyo.

Menurut TOKYO (AP) - Hanya dalam beberapa menit gempa bumi dan tsunami menghancurkan timur laut Jepang. Pembangunan kembali akan memakan waktu bertahun-tahun - jika itu dapat dilaksanakan.

Gempa dan air yang tak terbendung menyapu seluruh kota, jalan tergenang dan pelabuhan, kilang minyak, pabrik baja dan pabrik luluh lantak. Para ahli mengatakan biaya kerusakan yang mungkin melebihi bencana tahun1995 di Kobe - diperkirakan oleh Standard & Poor's telah mencapai $ 159 miliar.

Empat prefektur (negara bagian) paling parah yang terkena dampak - Iwate, Miyagi, Fukushima dan Ibaraki - adalah wilayah industri dari pertanian, mobil dan elektronik runtuh mencapai kira-kira 6 persen dari ekonomi Jepang.

Ratusan ribu orang dalam lima hari kehilangan air, makanan tanpa pemanasan di tengah suhu yang mendekati titik beku saat manakala mereka kehilangan rumah dan orang yang dicintai.

Ruben Chu, presiden dari Hong Kong Institution of Engineers, mengatakan. 'ada kontras dengan bencana gempa Sichuan, masing-masing menimbulkan masalah yang berbeda. Membangun kembali setelah gempa Sichuan secara teknis menjadi tantangan karena sebagian besar kerusakan berada di lereng bukit terjal. Namun di timur laut Jepang, masalah besar yang di hadapi adalah bagaimana mendapatkan cukup uang, material dan pekerja.'

Kata sumber lain, salah satu masalah besar adalah banyak korban menderita trauma psikologis, "Orang akan ketakutan jika mereka diminta untuk kembali tinggal di lokasi yang sama." bagaimana mereka akan memulihkan wilayah bencana tersebut.

Banyak orang sekali lagi bertanya-tanya, apakah ini perbuatan Allah, namun Alkitab memberikan penjelasan yang berbeda:

A sad and lonely disaster survivor

IS GOD RESPONSIBLE FOR NATURAL DISASTERS?

Hati yang Remuk, Iman yang Hancur

“”MAYAT bergelimpangan di mana-mana, dan kami tidak mengenali lagi di mana rumah kami,” kata seorang pria Sri Lanka setelah tsunami menghancurkan desanya pada bulan Desember 2004. Dalam sebuah artikel mengenai bencana itu, seorang redaktur agama berkata bahwa kadang-kadang ia sendiri ”berdoa dengan mengertakkan gigi”.

Banyak yang beranggapan bahwa bencana alam adalah hukuman dari Tuhan. Seorang kolumnis menggambarkan badai yang meluluh-lantakkan segalanya sebagai ”tinju Allah”. Di Amerika Serikat, ada pemimpin agama yang menggambarkan kejadian seperti Badai Katrina itu sebagai ”murka Allah” terhadap ”kota-kota maksiat”. Di Sri Lanka, kelompok Buddhis yang militan menyalahkan orang Kristen atas terjadinya tsunami, sehingga memperparah perpecahan agama. Seorang pengurus kuil Hindu percaya bahwa dewa Syiwa marah karena orang-orang menempuh kehidupan yang tak bermoral. Seorang pemimpin agama Buddhis di Amerika Serikat berkata mengenai bencana alam, ”Kami tidak tahu mengapa hal-hal seperti ini terjadi. Kami bahkan tidak tahu mengapa kami ada di sini.”

Sewaktu Anda melihat gambar rumah-rumah yang hancur, orang-orang yang tewas, dan orang-orang yang hatinya remuk, apakah Anda kadang-kadang bertanya-tanya, ’Mengapa Allah mengizinkan begitu banyak penderitaan?’ Atau apakah Anda berpikir, ’Allah pasti mempunyai alasan yang baik untuk membiarkan hal-hal seperti itu terjadi namun Dia belum menyingkapkannya’? Artikel berikut akan mengupas pokok ini. Selain itu, akan dibahas juga beberapa langkah praktis yang dapat diambil untuk mengurangi risiko cedera dan kematian andaikan bencana alam mengancam atau terjadi.

A distraught priest

Banyak pemimpin agama tidak tahu mengapa Tuhan mengizinkan terjadinya bencana alam