Kamis, 15 Juli 2010

Bahaya Akibat Pornografi



PORNOGRAPHY
Harmless or Harmful?

A man looking at pornography on his computer

Bahaya Akibat Pornografi

SEGALA jenis materi seksual mudah diperoleh melalui televisi, bioskop, video musik, dan Internet. Apakah gangguan berupa gambar pornografis dan seksual yang tak henti-hentinya ini tidak berbahaya, seperti yang banyak orang inginkan agar kita percayai?



Dampak Pornografi pada Orang Dewasa

Tidak soal apa yang dikatakan para pembelanya, pornografi memiliki dampak negatif yang sangat mendalam atas pandangan orang-orang tentang seks dan perilaku seksual. Para peneliti di Yayasan Nasional untuk Penelitian dan Pendidikan Keluarga menyimpulkan bahwa ”tayangan pornografi meningkatkan risiko berkembangnya kecenderungan seksual yang menyimpang dalam diri para pemirsa”. Menurut laporan itu, ”mitos pemerkosaan (kepercayaan bahwa kaum wanita menyebabkan dan menikmati pemerkosaan, dan bahwa pemerkosa adalah normal) sangat menyebar luas di kalangan kaum pria yang terbiasa menggunakan pornografi”.

Beberapa peneliti mengatakan bahwa penggunaan pornografi yang berulang-ulang dapat mengganggu kesanggupan untuk menikmati dan berpartisipasi dalam keintiman perkawinan yang normal. Dr. Victor Cline, seorang spesialis dalam pengobatan kecanduan seks, telah memperhatikan ketagihan yang terus kambuh dalam penggunaan pornografi. Jika tidak dikekang, tontonan pornografi yang semula hanya bersifat iseng pada akhirnya dapat meningkat ke bahan-bahan yang lebih gamblang dan abnormal. Hal ini, katanya, dapat mengarah ke tindakan seksual yang menyimpang. Para ilmuwan perilaku manusia sependapat dengannya. Dr. Cline melaporkan bahwa ”setiap jenis penyimpangan seksual dapat diperoleh dengan cara ini . . . dan hal itu tidak dapat dihapus bahkan oleh perasaan bersalah yang luar biasa besar”. Akhirnya, si pemirsa mungkin mencoba menirukan fantasi amoral yang didasarkan atas pornografi, sering kali dengan akibat yang menghancurkan.

Problem ini mungkin berlangsung secara bertahap dan tidak terdeteksi, kata Cline menyimpulkan. Ia menyatakan, ”Seperti kanker, hal itu terus bertumbuh dan menyebar. Hal itu jarang berhenti sendiri, dan juga sangat sulit dirawat dan disembuhkan. Penyangkalan di pihak pria yang kecanduan dan penolakan untuk menghadapi problem itu adalah ciri yang khas dan mudah ditebak, dan ini hampir selalu mengarah kepada ketidakharmonisan perkawinan, kadang-kadang perceraian, dan kadang-kadang hancurnya pertalian intim yang lain.”



Kerusakannya pada Kaum Muda

Boys looking at pornography
Some researchers say that exposure to pornography can affect the natural development of a child's brain
Statistik memperlihatkan bahwa konsumen utama pornografi adalah anak-anak lelaki berusia antara 12 dan 17 tahun. Sebenarnya, bagi banyak anak, pornografi adalah sumber utama pendidikan seksual mereka. Konsekuensinya sangat mencemaskan. ”Kehamilan remaja dan penyakit lewat hubungan seksual seperti AIDS,” kata sebuah laporan, ”sama sekali tidak digambarkan dalam pornografi, memberikan kepercayaan yang menyesatkan bahwa tidak ada konsekuensi yang merugikan pada perilaku yang digambarkan dalam pornografi.”
Beberapa peneliti mengatakan bahwa tayangan pornografi juga dapat mempengaruhi perkembangan alami otak anak. Dr. Judith Reisman, presiden Lembaga Pendidikan Media, menyimpulkan, ”Observasi kesehatan neurologis mengenai respons spontan otak terhadap penglihatan dan suara pornografis memperlihatkan bahwa menonton pornografi merupakan peristiwa biologis yang signifikan yang mengabaikan proses normal, yakni menerima sesuatu setelah memahami apa yang terlibat—dan itu berbahaya bagi otak ’plastik’ [mudah dibentuk] anak-anak karena hal itu mengancam pemahaman mereka tentang realitas dan dengan demikian membahayakan kesehatan mental dan fisik mereka, kesejahteraan mereka, serta pengejaran mereka akan kebahagiaan.”
Dampaknya terhadap Hubungan Baik
Pornografi membentuk sikap dan mempengaruhi perilaku. Pesan-pesannya terutama sangat memikat karena semua itu adalah fantasi, sehingga disajikan lebih menarik daripada kenyataan. (Lihat kotak ”Pesan Mana yang Akan Anda Terima?”) ”Individu-individu yang menggunakan pornografi dapat menetapkan bagi diri mereka harapan-harapan yang tidak realistis yang mengarah ke rusaknya hubungan baik,” kata sebuah laporan.

Pornografi dapat merusak kepercayaan dan keterbukaan, sifat-sifat yang sangat penting dalam perkawinan. Karena pornografi umumnya ditonton diam-diam, penggunaannya sering kali mengarah ke tipu daya dan dusta. Pasangan hidup merasa dikhianati. Mereka tidak mengerti mengapa mitra perkawinan mereka tidak lagi menganggap mereka memikat. Selengkapnya....(Klik link)
© 2010 for this blog. Appeared (on-line at official web site) in Awake! July 22, 2003