Selasa, 30 Maret 2010

Raja-Raja yang Bersaing Itu Memasuki Abad ke-20

Menjelang akhir abad ke-19, Imperium Jerman adalah ”raja utara” dan Inggris berada pada posisi ”raja selatan”. (Daniel 11:14, 15) ”Mengenai kedua raja ini,” kata malaikat Yehuwa, ”hati mereka cenderung melakukan apa yang buruk, dan di satu meja, dustalah yang terus mereka bicarakan.” Ia melanjutkan, ”Tetapi tidak ada yang akan berhasil, sebab akhir itu masih untuk waktu yang ditetapkan.”—Daniel 11:27.
Pada tanggal 18 Januari 1871, Wilhelm I menjadi kaisar pertama di Kekaisaran, atau Imperium, Jerman. Ia melantik Otto von Bismarck sebagai kanselir. Karena Bismarck bertujuan mengembangkan imperium baru itu, ia menghindari konflik dengan bangsa-bangsa lain dan membentuk aliansi dengan Austria-Hongaria dan Italia, yang dikenal sebagai Triple Alliance (Aliansi Tiga Negara). Namun, kepentingan raja utara yang baru ini segera berbenturan dengan kepentingan raja selatan.
Setelah Wilhelm I dan penerusnya, Frederick III, mati pada tahun 1888, Wilhelm II yang berusia 29 tahun naik takhta. Wilhelm II, atau Kaiser Wilhelm, memaksa Bismarck mengundurkan diri dan ia mengikuti kebijakan untuk meluaskan pengaruh Jerman ke seluruh dunia. ”Di bawah Wilhelm II,” kata seorang sejarawan, ”[Jerman] menunjukkan sikap angkuh dan agresif.”
Ada ketegangan internasional sewaktu Tsar Nicholas II dari Rusia mengadakan konferensi perdamaian di Den Haag, Belanda, pada tanggal 24 Agustus 1898. Hasil konferensi ini dan konferensi berikutnya pada tahun 1907 adalah berdirinya Mahkamah Arbitrase Tetap di Den Haag. Dengan menjadi anggota mahkamah ini, Kekaisaran Jerman serta Inggris Raya memberikan kesan bahwa mereka menyukai perdamaian. Mereka duduk ”di satu meja”, kelihatannya bersahabat, namun ”hati mereka cenderung melakukan apa yang buruk”. Taktik diplomatik untuk ’membicarakan dusta di satu meja’ tidak dapat memajukan perdamaian sejati. Sehubungan dengan ambisi politik, komersial, dan militer mereka, ”tidak ada yang akan berhasil” karena akhir dari kedua raja ini ”masih untuk waktu yang ditetapkan” oleh Allah Yehuwa.
[Ket. Gambar] 1. Pangeran Ferdinand 2. Angkatan laut Jerman 3. Angkatan laut Inggris 4. Lusitania 5. Pernyataan perang AS

MENENTANG PERJANJIAN KUDUS”
Selanjutnya, malaikat Allah berkata, ”Dan ia [raja utara] akan kembali ke negerinya dengan sejumlah besar barang, dan hatinya akan menentang perjanjian kudus. Ia akan bertindak dengan efektif dan pasti akan kembali ke negerinya.”—Daniel 11:28.
Kaiser Wilhelm kembali ke ’negeri’, atau kondisi duniawi raja utara zaman dahulu. Bagaimana? Dengan membangun pemerintahan kekaisaran yang dirancang untuk memperluas Kekaisaran Jerman dan memperbesar pengaruhnya. Wilhelm II berupaya mendapatkan koloni-koloni di Afrika dan di tempat-tempat lain. Karena ingin menandingi keunggulan Inggris di laut, ia mulai membentuk angkatan laut yang kuat. ”Dalam waktu sedikit lebih lama dari satu dekade, kekuatan angkatan laut Jerman berubah dari sesuatu yang tidak berarti menjadi kekuatan nomor dua setelah Inggris,” kata New Encyclopædia Britannica. Untuk mempertahankan keunggulannya, Inggris sampai harus mengembangkan program angkatan lautnya. Inggris juga merundingkan entente cordiale (kesepakatan bersama) dengan Prancis dan kesepakatan yang serupa dengan Rusia, sehingga terbentuklah Triple Entente. Eropa kini terbagi menjadi dua kubu militer—Triple Alliance di satu pihak dan Triple Entente di pihak lain.
Imperium Jerman mengikuti kebijakan yang agresif, dan ini menghasilkan ”sejumlah besar barang” untuk Jerman sebagai tokoh utama Triple Alliance. Austria-Hongaria dan Italia adalah negara-negara Katolik Roma. Oleh karena itu, Triple Alliance juga mendapat perkenan paus, sedangkan raja selatan, dengan Triple Entente yang anggotanya sebagian besar non-Katolik, tidak mendapat perkenan tersebut.
Bagaimana dengan umat Yehuwa? Mereka telah lama menyatakan bahwa ”waktu yang ditetapkan bagi bangsa-bangsa” akan berakhir pada tahun 1914.* (Lukas 21:24) Pada tahun itu, Kerajaan Allah di tangan Ahli Waris Raja Daud, Yesus Kristus, didirikan di surga. (2 Samuel 7:12-16; Lukas 22:28, 29) Sudah sejak bulan Maret 1880, majalah Menara Pengawal menghubungkan pemerintahan Kerajaan Allah dengan berakhirnya ”waktu yang ditetapkan bagi bangsa-bangsa”, atau ”zaman orang Kafir”. (King James Version) Namun, hati raja utara dari Jerman ’menentang perjanjian Kerajaan kudus’. Sebaliknya daripada mengakui pemerintahan Kerajaan, Kaiser Wilhelm ”bertindak dengan efektif” dengan mempropagandakan rancangannya untuk menguasai dunia. Namun, dengan melakukan hal itu, ia menabur benih-benih Perang Dunia I.
SANG RAJA AKAN ”PATAH SEMANGAT” DALAM SUATU PEPERANGAN
”Pada waktu yang ditetapkan, ia [raja utara] akan kembali,” demikian nubuat sang malaikat, ”dan ia akan pergi melawan negeri selatan; tetapi yang terakhir tidak akan sama seperti yang pertama.” (Daniel 11:29) ”Waktu yang ditetapkan” Allah untuk mengakhiri kekuasaan orang Kafir di bumi tiba pada tahun 1914, sewaktu Ia mendirikan Kerajaan surgawi. Pada tanggal 28 Juni tahun itu, Pangeran Francis Ferdinand dari Austria dan istrinya dibunuh oleh seorang teroris Serbia di Sarajevo, Bosnia. Inilah percikan api yang menyulut Perang Dunia I.
Kaiser Wilhelm mendesak Austria-Hongaria untuk membalas Serbia. Karena yakin akan dukungan Jerman, Austria-Hongaria menyatakan perang kepada Serbia pada tanggal 28 Juli 1914. Namun, Rusia membantu Serbia. Sewaktu Jerman menyatakan perang kepada Rusia, Prancis (sekutu Rusia dalam Triple Entente) memberikan dukungan kepada Rusia. Kemudian, Jerman menyatakan perang kepada Prancis. Agar lebih mudah memasuki Paris, Jerman menyerbu Belgia, yang kenetralannya telah dijamin oleh Inggris. Maka, Inggris menyatakan perang kepada Jerman. Bangsa-bangsa lain turut terlibat, dan Italia berganti pihak. Selama perang, Inggris menjadikan Mesir daerah protektoratnya untuk mencegah raja utara membendung Terusan Suez dan menyerbu Mesir, negeri raja selatan pada zaman dahulu.
”Meskipun Sekutu lebih besar dan lebih kuat,” kata The World Book Encyclopedia, ”Jerman tampaknya hampir memenangkan perang.” Dalam konflik-konflik yang sebelumnya antara dua raja ini, Imperium Romawi, sebagai raja utara, secara konsisten tampil sebagai pemenang. Namun kali ini, ’keadaannya tidak akan sama seperti yang pertama’. Raja utara kalah perang. Sang malaikat memberitahukan alasannya, ”Kapal-kapal Kitim pasti akan datang melawannya, dan ia akan patah semangat.” (Daniel 11:30a) Apa ”kapal-kapal Kitim” itu?
Pada zaman Daniel, Kitim adalah Siprus. Pada awal perang dunia pertama, Siprus dicaplok oleh Inggris. Selain itu, menurut The Zondervan Pictorial Encyclopedia of the Bible, istilah Kitim ”diperluas hingga mencakup keseluruhan daerah B[arat], tetapi khususnya daerah B[arat] yang memiliki angkatan laut yang handal”. New International Version menerjemahkan ungkapan ”kapal-kapal Kitim” sebagai ”kapal-kapal dari negeri-negeri di pesisir barat”. Pada perang dunia pertama, kapal-kapal Kitim terutama adalah kapal-kapal Inggris, yang berada di lepas pantai barat Eropa.
Seraya perang berlarut-larut, Angkatan Laut Inggris pun diperkuat oleh lebih banyak kapal Kitim. Pada tanggal 7 Mei 1915, kapal selam Jerman U-20 menenggelamkan kapal sipil Lusitania di lepas pantai selatan Irlandia. Di antara yang meninggal terdapat 128 orang Amerika. Belakangan, Jerman meluaskan daerah peperangan kapal selam sampai ke Lautan Atlantik. Kemudian, pada tanggal 6 April 1917, Presiden AS, Woodrow Wilson, menyatakan perang kepada Jerman. Diperkuat oleh kapal perang dan tentara AS, raja selatan—kini Kuasa Dunia Anglo-Amerika—sepenuhnya berperang dengan raja saingannya.
Di bawah serangan Kuasa Dunia Anglo-Amerika, raja utara menjadi ”patah semangat” dan terpaksa mengaku kalah pada bulan November 1918. Wilhelm II melarikan diri ke pengasingan di Belanda, dan Jerman menjadi republik. Namun, raja utara belum binasa.
SANG RAJA BERTINDAK ”DENGAN EFEKTIF”
”Ia [raja utara] akan kembali dan melontarkan kecaman terhadap perjanjian kudus serta bertindak dengan efektif; ia akan kembali dan memberikan perhatian kepada orang-orang yang meninggalkan perjanjian kudus.” (Daniel 11:30b) Demikianlah yang dinubuatkan sang malaikat, dan demikian pula kenyataannya.
Setelah perang berakhir, pada tahun 1918, Sekutu yang berkemenangan memberlakukan suatu perjanjian damai yang bersifat menghukum terhadap Jerman. Rakyat Jerman merasakan betapa kerasnya syarat-syarat perjanjian tersebut, dan republik baru itu memang sudah lemah sejak permulaannya. Selama beberapa tahun, Jerman terhuyung-huyung dalam keadaan yang sangat sulit dan mengalami Depresi Besar yang akhirnya menyebabkan enam juta orang menganggur. Pada awal tahun 1930-an, kondisi yang cocok memungkinkan tampilnya Adolf Hitler. Ia menjadi kanselir pada bulan Januari 1933 dan tahun berikutnya, ia menjadi presiden dari apa yang dijuluki orang-orang Nazi sebagai Kekaisaran Ketiga.#
Segera setelah ia memegang tampuk kekuasaan, Hitler melancarkan serangan yang keji terhadap ”perjanjian kudus”, yang diwakili oleh saudara-saudara terurap Yesus Kristus. (Matius 25:40) Dalam hal ini, ia bertindak ”dengan efektif” terhadap orang-orang Kristen yang loyal ini, yaitu dengan kejam menganiaya banyak di antara mereka. Hitler menikmati keberhasilan ekonomi
dan diplomatik, ia bertindak ”dengan efektif” dalam bidang-bidang itu juga. Dalam beberapa tahun saja, ia membuat Jerman menjadi suatu kekuatan yang patut diperhitungkan di panggung dunia.
Hitler memberikan ”perhatian kepada orang-orang yang meninggalkan perjanjian kudus”. Siapakah mereka? Berdasarkan bukti yang ada, mereka adalah para pemimpin Susunan Kristen, yang mengaku memiliki hubungan perjanjian dengan Allah namun tidak lagi menjadi murid-murid Yesus Kristus. Hitler berhasil meminta dukungan ”orang-orang yang meninggalkan perjanjian kudus” itu. Sebagai contoh, ia membuat sebuah konkordat dengan sri paus di Roma. Pada tahun 1935, Hitler mendirikan Departemen Urusan Gereja. Salah satu tujuannya adalah agar negara dapat mengendalikan gereja-gereja Evangelis.
[Ket. Gambar] Adolf Hitler yakin akan menang setelah Jepang, sekutu Jerman selama masa perang, membom Pearl Harbor

LENGAN-LENGAN” YANG KELUAR DARI RAJA
Tidak lama kemudian, Hitler pun berperang, sebagaimana yang dengan benar dinubuatkan sang malaikat, ”Akan ada lengan-lengan yang bangkit darinya; semuanya itu akan menodai tempat suci, benteng itu, dan menyingkirkan korban persembahan yang tetap.” (Daniel 11:31a) ”Lengan-lengan” ini adalah pasukan militer yang digunakan raja utara untuk memerangi raja selatan dalam Perang Dunia II. Pada tanggal 1 September 1939, ”lengan-lengan” Nazi menyerbu Polandia. Dua hari kemudian, Inggris dan Prancis menyatakan perang kepada Jerman dengan maksud membantu Polandia. Maka, dimulailah Perang Dunia II. Dalam waktu singkat Polandia ambruk, dan tidak lama setelah itu, pasukan Jerman menduduki Denmark, Norwegia, Belanda, Belgia, Luksemburg, dan Prancis. ”Pada akhir tahun 1941,” kata The World Book Encyclopedia, ”Nazi Jerman telah menguasai benua Eropa.”
Meskipun Jerman dan Uni Soviet telah menandatangani Perjanjian Persahabatan, Kerja Sama, dan Demarkasi, Hitler maju menyerbu wilayah Soviet pada tanggal 22 Juni 1941. Tindakan ini menyebabkan Uni Soviet berpihak kepada Inggris. Bala tentara Soviet memberikan perlawanan hebat meskipun adanya serangan awal yang spektakuler dari pasukan Jerman. Pada tanggal 6 Desember 1941, bala tentara Jerman sebenarnya menderita kekalahan di Moskwa. Hari berikutnya, sekutu Jerman, Jepang, membom Pearl Harbor, Hawaii. Mendengar hal ini, Hitler memberi tahu para ajudannya, ”Sekarang, tidak mungkin kita kalah perang.” Pada tanggal 11 Desember, ia dengan gegabah menyatakan perang kepada Amerika Serikat. Namun, ia menyepelekan kekuatan Uni Soviet dan Amerika Serikat. Dengan bala tentara Soviet menyerang dari timur dan pasukan Inggris serta Amerika mendesak dari barat, keadaannya segera berbalik melawan Hitler. Pasukan Jerman mulai kehilangan daerah demi daerah. Setelah Hitler bunuh diri, Jerman menyerah kepada Sekutu, pada tanggal 7 Mei 1945.
”Semuanya itu [lengan-lengan Nazi] akan menodai tempat suci, benteng itu, dan menyingkirkan korban persembahan yang tetap,” kata sang malaikat. Di Yehuda zaman dahulu, tempat suci merupakan bagian dari bait di Yerusalem. Akan tetapi, sewaktu orang Yahudi menolak Yesus, Yehuwa menolak mereka dan bait mereka. (Matius 23:37–24:2) Sejak abad pertama M, bait Yehuwa sebenarnya bersifat rohani, ruang maha kudusnya berada di surga dan halaman rohaninya di bumi, tempat saudara-saudara terurap Yesus, sang Imam Besar, melayani. Sejak tahun 1930-an, ”kumpulan besar” telah beribadat dalam persekutuan dengan kaum sisa terurap, dengan demikian, mereka dikatakan melayani ’di bait Allah’. (Penyingkapan 7:9, 15; 11:1, 2; Ibrani 9:11, 12, 24) Di negeri-negeri yang dikuasainya, raja utara menodai halaman bait di bumi dengan cara menganiaya kaum sisa terurap dan rekan-rekan mereka tanpa belas kasihan. Sedemikian hebatnya penganiayaan tersebut sehingga ”korban persembahan yang tetap”—korban pujian di hadapan umum tentang nama Yehuwa—disingkirkan. (Ibrani 13:15) Akan tetapi, meskipun mengalami penderitaan yang mengerikan, orang-orang Kristen terurap yang setia bersama dengan ”domba-domba lain” terus mengabar selama Perang Dunia II.—Yohanes 10:16.
PERKARA YANG MENJIJIKKAN DITEMPATKAN’
Sewaktu akhir perang dunia kedua sudah di ambang pintu, terjadilah perkembangan lain, tepat sebagaimana dinubuatkan malaikat Allah. ”Mereka akan menempatkan perkara menjijikkan, yang menyebabkan kehancuran.” (Daniel 11:31b) Yesus juga telah berbicara tentang ”perkara menjijikkan”. Pada abad pertama, itu adalah bala tentara Romawi yang datang ke Yerusalem pada tahun 66 M untuk memadamkan pemberontakan Yahudi.^—Matius 24:15; Daniel 9:27.
Apakah ”perkara menjijikkan” yang telah ’ditempatkan’ pada zaman modern? Rupanya, ini adalah tiruan yang ”menjijikkan” dari Kerajaan Allah. Ini adalah Liga Bangsa-Bangsa, binatang buas yang berwarna merah marak yang masuk ke dalam jurang yang tidak terduga dalamnya, atau lenyap sebagai organisasi perdamaian dunia, sewaktu Perang Dunia II meletus. (Penyingkapan 17:8) Akan tetapi, ”binatang buas” akan ”naik dari jurang yang tidak terduga dalamnya itu”. Ini terjadi sewaktu Perserikatan Bangsa-Bangsa, dengan 50 negara anggotanya, termasuk bekas Uni Soviet, dibentuk pada tanggal 24 Oktober 1945. Dengan demikian, ”perkara menjijikkan” yang dinubuatkan sang malaikat—Perserikatan Bangsa-Bangsa—ditempatkan.
Jerman telah menjadi musuh utama raja selatan selama dua perang dunia dan telah menduduki posisi raja utara. Siapa selanjutnya yang akan berada dalam posisi itu?
[Catatan Kaki]
* Lihat Pasal 6 di buku ini.
# Imperium Romawi Suci adalah kekaisaran pertama, dan Imperium Jerman adalah yang kedua.
^ Lihat Pasal 11 di buku ini.
APA YANG SAUDARA PAHAMI?
• Pada akhir abad ke-19, kuasa-kuasa mana berperan sebagai raja utara dan raja selatan?
• Selama konflik dalam Perang Dunia I, bagaimana hasil ”yang terakhir tidak akan sama seperti yang pertama” bagi raja utara?
• Setelah Perang Dunia I, bagaimana Hitler menjadikan Jerman suatu kekuatan yang patut diperhitungkan di panggung dunia?
• Apa hasil pertikaian antara raja utara dengan raja selatan selama Perang Dunia II?







Pasal Enam Belas
Raja-Raja yang Bertikai Itu Mendekati Akhir Mereka
SEWAKTU menggambarkan iklim politik Amerika Serikat dan Rusia, filsuf sekaligus sejarawan Prancis, Alexis de Tocqueville, menyatakan dalam tulisannya pada tahun 1835, ”Yang satu menggunakan kemerdekaan sebagai prinsip dasar tindakannya; sedangkan yang lain menggunakan perhambaan. Haluan mereka . . . berbeda; meskipun demikian, pada suatu saat, masing-masing tampaknya terpanggil oleh suatu rencana rahasia Ilahi untuk menggenggam nasib separuh dunia ini di tangannya.” Seberapa akuratkah ramalan ini setelah Perang Dunia II? Sejarawan J. M. Roberts menulis, ”Pada akhir Perang Dunia kedua, nasib dunia ini memang akhirnya tampak seperti didominasi oleh dua kuasa besar yang sangat berbeda sistemnya, yang satu berpusat di negeri yang dahulu adalah Rusia, dan yang satu lagi di Amerika Serikat.”
2 Selama dua perang dunia, Jerman telah menjadi musuh utama raja selatan—Kuasa Dunia Anglo-Amerika—dan telah menduduki posisi raja utara. Namun, setelah Perang Dunia II, negeri tersebut terbagi. Jerman Barat menjadi sekutu raja selatan, dan Jerman Timur bergabung dengan suatu kekuatan lain—blok negara-negara Komunis yang dipimpin oleh Uni Soviet. Blok atau kesatuan politik ini, bangkit berdiri sebagai raja utara yang sangat menentang aliansi Anglo-Amerika. Dan, persaingan antara kedua raja ini berkembang menjadi Perang Dingin yang berlangsung dari tahun 1948 sampai 1989. Sebelumnya, raja utara dari Jerman telah bertindak ”menentang perjanjian kudus”. (Daniel 11:28, 30) Bagaimana tindakan blok Komunis sehubungan dengan perjanjian ini?
ORANG KRISTEN SEJATI TERSANDUNG NAMUN MENANG
”Orang-orang yang bertindak fasik terhadap perjanjian itu,” kata malaikat Allah, ”akan dibawanya [raja utara] kepada kemurtadan dengan kata-kata licin.” Sang malaikat menambahkan, ”Tetapi sehubungan dengan umat yang mengenal Allah mereka, mereka akan menang dan bertindak dengan efektif. Dan orang-orang yang memiliki pemahaman di antara umat itu, mereka akan memberikan pengertian kepada banyak orang. Dan mereka pasti akan dibuat tersandung oleh karena pedang dan nyala api, oleh karena ditawan dan dirampok, selama beberapa waktu.”—Daniel 11:32, 33.
Orang-orang yang ”bertindak fasik terhadap perjanjian itu” pasti adalah para pemimpin Susunan Kristen, yang mengaku sebagai orang Kristen namun melalui perbuatan justru mencemarkan nama kekristenan. Dalam bukunya, Religion in the Soviet Union, Walter Kolarz berkata, ”[Selama perang dunia kedua], Pemerintah Soviet berupaya memperoleh dukungan materi dan moral dari Gereja-Gereja demi membela tanah air.” Setelah perang, para pemimpin gereja berupaya memelihara persahabatan ini meskipun kuasa tersebut, yang pada waktu itu adalah raja utara, menganut kebijakan ateistis. Maka, Susunan Kristen semakin menjadi bagian dari dunia ini—kemurtadan yang menjijikkan di mata Yehuwa.—Yohanes 17:16; Yakobus 4:4.
Bagaimana dengan orang Kristen sejati—”umat yang mengenal Allah mereka” dan ”orang-orang yang memiliki pemahaman”? Meskipun mereka dengan sepatutnya ”tunduk kepada kalangan berwenang yang lebih tinggi”, orang Kristen yang hidup di bawah kekuasaan raja utara ini tidak menjadi bagian dari dunia. (Roma 13:1; Yohanes 18:36) Seraya dengan cermat membayar kembali ”perkara-perkara Kaisar kepada Kaisar”, mereka juga memberikan ”perkara-perkara Allah kepada Allah”. (Matius 22:21) Oleh karena hal itu, integritas mereka ditantang.—2 Timotius 3:12.
Sebagai hasilnya, orang Kristen sejati ”tersandung” dan juga ”menang”. Mereka tersandung dalam arti bahwa mereka menderita penganiayaan yang hebat, beberapa bahkan dibunuh. Namun, mereka menang dalam arti bahwa sebagian besar dari mereka tetap setia. Mereka menaklukkan dunia ini, seperti Yesus. (Yohanes 16:33) Lagi pula, mereka tidak pernah berhenti mengabar, sekalipun mereka berada dalam penjara atau kamp-kamp konsentrasi. Dengan berbuat demikian, mereka ”memberikan pengertian kepada banyak orang”. Meskipun mengalami penganiayaan di kebanyakan negeri yang dikuasai oleh raja utara, jumlah Saksi-Saksi Yehuwa bertambah. Berkat kesetiaan ”orang-orang yang memiliki pemahaman” itu, suatu bagian yang terus bertambah dari ”kumpulan besar” telah muncul di negeri-negeri tersebut.—Penyingkapan 7:9-14.
UMAT YEHUWA DIMURNIKAN
”Pada waktu mereka [umat Allah] dibuat tersandung, mereka akan mendapat sedikit pertolongan,” kata sang malaikat. (Daniel 11:34a) Kemenangan raja selatan dalam perang dunia kedua menghasilkan sedikit kelegaan bagi orang Kristen yang hidup di bawah kekuasaan raja saingannya. (Bandingkan Penyingkapan 12:15, 16.) Dengan cara serupa, orang-orang yang dianiaya oleh raja penerusnya mengalami kelegaan dari waktu ke waktu. Seraya Perang Dingin mulai mereda, banyak pemimpin mulai sadar bahwa orang Kristen yang setia bukanlah ancaman sehingga pengakuan resmi diberikan kepada mereka. Bantuan juga datang dari kumpulan besar yang semakin besar jumlahnya. Kumpulan besar ini menyambut pemberitaan yang dengan setia dilakukan kaum terurap dan membantu mereka.—Matius 25:34-40.
Tidak semua yang mengaku berminat melayani Allah selama masa Perang Dingin memiliki motivasi yang baik. Malaikat telah memperingatkan, ”Banyak orang pasti akan menggabungkan diri dengan mereka melalui kelicinan.” (Daniel 11:34b) Sejumlah besar orang menunjukkan minat akan kebenaran namun tidak bersedia membuat pembaktian kepada Allah. Ada juga yang tampaknya menerima kabar baik, namun ternyata adalah mata-mata dari kalangan berwenang. Laporan dari satu negeri berbunyi, ”Beberapa dari antara oknum-oknum tak bermoral ini adalah orang-orang yang terang-terangan mengaku Komunis, yang telah menyusup ke dalam organisasi Tuan, memperlihatkan kegairahan yang besar, dan bahkan telah diangkat kepada kedudukan yang tinggi dalam dinas.”
Sang malaikat selanjutnya berkata, ”Dan beberapa orang yang memiliki pemahaman akan dibuat tersandung, agar demi mereka, pekerjaan pemurnian dan pembersihan dan pemutihan dilakukan, sampai zaman akhir; karena hal itu masih untuk waktu yang ditetapkan.” (Daniel 11:35) Para penyusup ini telah menyebabkan beberapa saudara yang setia jatuh ke tangan kalangan berwenang. Yehuwa membiarkan hal-hal demikian terjadi untuk memurnikan dan membersihkan umat-Nya. Sebagaimana Yesus ”belajar ketaatan melalui perkara-perkara yang ia derita”, demikian pula orang-orang yang setia ini belajar ketekunan melalui pengujian atas iman mereka. (Ibrani 5:8; Yakobus 1:2, 3; bandingkan Maleakhi 3:3.) Dengan demikian, mereka ’dimurnikan, dibersihkan, dan diputihkan’.
Umat Yehuwa akan tersandung dan dimurnikan ”sampai zaman akhir”. Tentu saja, mereka mengantisipasi adanya penganiayaan sampai akhir dari sistem fasik ini. Akan tetapi, pembersihan dan pemutihan umat Allah yang terjadi akibat gangguan raja utara adalah ”untuk waktu yang ditetapkan”. Jadi, di Daniel 11:35, ”zaman akhir” pasti berhubungan dengan akhir jangka waktu yang dibutuhkan untuk pemurnian umat Allah seraya mereka bertekun di bawah serangan raja utara. Masa manakala mereka tersandung itu berakhir pada waktu yang ditetapkan oleh Yehuwa.
SANG RAJA MENGAGUNGKAN DIRI
Sehubungan dengan raja utara, sang malaikat menambahkan, ”Raja itu akan berbuat sekehendak hatinya, dan ia akan meninggikan diri dan mengagungkan diri di atas setiap allah; dan [menolak untuk mengakui kedaulatan Yehuwa] terhadap Allah atas segala allah, ia akan mengucapkan hal-hal yang ajaib. Dan ia akan berhasil hingga kecaman itu sampai pada kesudahannya; karena apa yang telah diputuskan harus terlaksana. Dan ia tidak akan memberikan perhatian kepada Allah bapak-bapak leluhurnya; dan ia tidak akan memberikan perhatian kepada apa yang diinginkan para wanita dan kepada segala allah lain, tetapi ia akan mengagungkan diri di atas setiap orang.”—Daniel 11:36, 37.
Sebagai penggenapan kata-kata nubuat ini, raja utara menolak ”Allah bapak-bapak leluhurnya”, seperti misalnya ilah Tritunggal Susunan Kristen. Blok Komunis terang-terangan mempropagandakan ateisme. Dengan demikian, raja utara menjadikan dirinya suatu allah, ”mengagungkan diri di atas setiap orang”. Dengan tidak memberikan perhatian ”kepada apa yang diinginkan para wanita”—negeri-negeri bawahan seperti Vietnam Utara, yang menjadi seperti pelayan wanita bagi rezim raja utara—sang raja bertindak ”sekehendak hatinya”.
Sang malaikat melanjutkan nubuat ini, katanya, ”Pada kedudukannya, ia akan memuliakan allah benteng-benteng; dan ia memuliakan allah yang tidak dikenal oleh bapak-bapak leluhurnya dengan emas, perak, permata, dan barang-barang berharga.” (Daniel 11:38) Ya, raja utara menaruh kepercayaannya pada militerisme ilmiah modern, ”allah benteng-benteng”. Ia mencari keselamatan melalui ”allah” ini, mengorbankan kekayaan yang sangat berlimpah di atas mezbahnya.
”Dengan allah asing, ia akan bertindak dengan efektif terhadap benteng-benteng yang paling diperkuat. Siapa pun yang memberikan pengakuan kepadanya akan ia limpahi dengan kemuliaan, dan ia akan membuat mereka berkuasa di antara banyak orang; dan ia akan membagikan tanah sebagai upah.” (Daniel 11:39) Dengan mengandalkan ”allah asing” militer itu, raja utara bertindak dengan sangat ”efektif”, terbukti menjadi kekuatan militer yang disegani pada ”hari-hari terakhir”. (2 Timotius 3:1) Orang-orang yang mendukung ideologinya diberi imbalan berupa dukungan politik, finansial, dan kadang-kadang militer.
TEKANAN’ PADA ZAMAN AKHIR
”Pada zaman akhir, raja selatan akan menekannya,” demikian pemberitahuan sang malaikat kepada Daniel. (Daniel 11:40a) Apakah raja selatan telah ’menekan’ raja utara selama ”zaman akhir”? (Daniel 12:4, 9) Ya, benar. Setelah perang dunia pertama, perjanjian damai yang bersifat menghukum yang diberlakukan terhadap raja utara pada waktu itu—Jerman—pasti merupakan ’tekanan’, sesuatu yang memancing tindakan pembalasan. Setelah kemenangannya dalam perang dunia kedua, raja selatan mengarahkan senjata-senjata nuklir yang mengerikan kepada saingannya dan mengorganisasi suatu aliansi militer yang sangat kuat melawan dia, yakni Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Sehubungan dengan fungsi NATO, seorang sejarawan Inggris berkata, ”NATO adalah alat utama untuk ’mengendalikan’ USSR, yang pada waktu itu disadari sebagai ancaman utama bagi perdamaian Eropa. Misinya berlangsung selama 40 tahun, dan terlaksana dengan keberhasilan yang tidak dapat dipungkiri.” Selama tahun-tahun Perang Dingin, ’tekanan’ raja selatan mencakup spionase berteknologi tinggi maupun serangan-serangan diplomatik dan militer.
Bagaimana reaksi raja utara? ”Raja utara akan menggempur dia dengan kereta dan penunggang kuda dan banyak kapal; dan ia akan memasuki negeri-negeri dan membanjiri serta melandanya.” (Daniel 11:40b) Sejarah hari-hari terakhir telah diwarnai oleh ekspansionisme raja utara. Selama perang dunia kedua, sang ”raja” Nazi membanjir melewati perbatasan-perbatasannya dan memasuki negeri-negeri sekitarnya. Pada akhir perang tersebut, ”raja” penerusnya membangun imperium yang kuat. Selama Perang Dingin, raja utara berperang melawan saingannya dalam peperangan-peperangan dan pemberontakan-pemberontakan yang diwakili oleh sekutu masing-masing di Afrika, Amerika Latin, dan Asia. Ia menganiaya orang Kristen sejati, membatasi—namun sama sekali tidak dapat menghentikan—kegiatan mereka. Dan, serangan-serangan militer dan politiknya menyebabkan sejumlah negeri jatuh ke bawah kekuasaannya. Hal ini tepat seperti yang dinubuatkan oleh sang malaikat, ”Ia juga akan memasuki negeri Hiasan [kawasan rohani umat Yehuwa], dan ada banyak negeri yang akan dibuat tersandung.”—Daniel 11:41a.
Meskipun demikian, raja utara tidak sampai menaklukkan dunia. Sang malaikat menubuatkan, ”Inilah yang akan luput dari tangannya: Edom, Moab, dan bagian utama putra-putra Ammon.” (Daniel 11:41b) Pada zaman dahulu, Edom, Moab, dan Ammon terletak di antara wilayah kekuasaan raja selatan dari Mesir dan raja utara dari Siria. Pada zaman modern, mereka menggambarkan bangsa-bangsa dan organisasi-organisasi yang menjadi sasaran raja utara namun tidak berhasil dikuasainya.
MESIR TIDAK AKAN LUPUT
Malaikat Yehuwa selanjutnya berkata, ”Ia [raja utara] akan terus mengulurkan tangannya terhadap negeri-negeri itu; dan sehubungan dengan tanah Mesir, dia tidak akan luput. Ia akan berkuasa atas harta terpendam berupa emas dan perak dan atas segala barang berharga dari Mesir. Dan orang Libia serta orang Etiopia akan mengikuti langkahnya.” (Daniel 11:42, 43) Bahkan raja selatan, ”Mesir”, tidak luput dari dampak kebijakan ekspansionisme raja utara. Sebagai contoh, raja selatan menderita kekalahan yang mencolok di Vietnam. Dan, bagaimana dengan ”orang Libia serta orang Etiopia”? Tetangga-tetangga Mesir kuno ini sangat cocok menggambarkan bangsa-bangsa yang, secara geografis, adalah tetangga ”Mesir” modern (raja selatan). Adakalanya, mereka menjadi pengikut—’mengikuti langkah’—raja utara.
Apakah raja utara telah menguasai ’harta terpendam dari Mesir’? Ia memang memiliki pengaruh yang kuat atas cara raja selatan menggunakan sumber daya finansialnya. Karena takut akan saingannya, raja selatan telah membelanjakan uang dalam jumlah yang sangat besar untuk mempertahankan angkatan darat, angkatan laut, dan angkatan udara yang tangguh. Dalam pengertian inilah raja utara telah ”berkuasa atas”, atau mengendalikan pengaturan kekayaan raja selatan.
KAMPANYE TERAKHIR
Persaingan antara raja utara dan raja selatan—entah secara militer, ekonomi, atau cara-cara lain—sedang mendekati akhirnya. Malaikat Yehuwa mengungkapkan perincian tentang konflik yang masih akan terjadi, dengan berkata, ”Akan ada laporan-laporan yang menggelisahkannya [raja utara], dari arah terbitnya matahari dan dari utara, dan ia akan keluar dengan kemurkaan yang hebat untuk memusnahkan dan membinasakan banyak orang. Ia akan mendirikan kemahnya yang seperti istana di antara laut yang besar dan gunung yang kudus di negeri Hiasan; dan ia akan datang menemui akhirnya, dan tidak ada yang akan menolongnya.”—Daniel 11:44, 45.
Dengan dibubarkannya Uni Soviet pada bulan Desember 1991, raja utara menderita kemunduran yang serius. Siapa yang akan menjadi raja ini sewaktu Daniel 11:44, 45 tergenap? Apakah salah satu negeri yang pernah menjadi bagian dari bekas Uni Soviet akan diidentifikasi sebagai raja utara? Atau, apakah ia akan sama sekali berganti identitas, seperti yang telah ia lakukan beberapa kali sebelumnya? Apakah pengembangan persenjataan nuklir oleh bangsa-bangsa lain akan menghasilkan suatu perlombaan senjata baru yang ada kaitannya dengan identitas raja itu? Hanya waktu yang akan menyediakan jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan ini. Sebaiknya kita tidak berspekulasi. Sewaktu raja utara memulai kampanyenya yang terakhir, penggenapan nubuat ini akan dengan jelas dimengerti oleh semua orang yang memiliki pemahaman yang berdasarkan Alkitab.—Lihat ”Raja-Raja di Daniel Pasal 11”, pada halaman 284.
Akan tetapi, kita mengetahui tindakan apa yang akan segera diambil raja utara. Tergerak oleh laporan-laporan ”dari arah terbitnya matahari dan dari utara”, ia akan melancarkan suatu kampanye ’untuk memusnahkan banyak orang’. Kepada siapa kampanye itu diarahkan? Dan, ”laporan-laporan” apa yang memicu serangan tersebut?
TERSENTAK OLEH LAPORAN-LAPORAN YANG MENGGELISAHKAN
Perhatikan apa yang dikatakan buku Penyingkapan tentang akhir Babilon Besar, imperium agama palsu sedunia. Sebelum ”perang pada hari besar Allah Yang Mahakuasa”, Armagedon, musuh besar ibadat sejati ini ”akan dibakar habis dengan api”. (Penyingkapan 16:14, 16; 18:2-8) Pembinasaannya digambarkan dengan pencurahan mangkuk yang keenam dari murka Allah atas Sungai Efrat simbolis. Sungai itu menjadi kering agar ”jalan dipersiapkan bagi raja-raja yang datang dari arah terbitnya matahari”. (Penyingkapan 16:12) Siapakah raja-raja ini? Mereka tidak lain adalah Allah Yehuwa dan Yesus Kristus!—Bandingkan Yesaya 41:2; 46:10, 11.
Pembinasaan Babilon Besar dilukiskan secara gamblang dalam buku Penyingkapan, yang menyatakan, ”Kesepuluh tanduk yang engkau lihat [raja-raja yang memerintah pada zaman akhir], dan binatang buas itu [Perserikatan Bangsa-Bangsa], mereka akan membenci sundal itu dan akan menghancurkan dia dan membuatnya telanjang, dan akan memakan habis bagian-bagiannya yang berdaging dan akan membakar dia seluruhnya dengan api.” (Penyingkapan 17:16) Mengapa para penguasa akan menghancurkan Babilon Besar? Karena ”Allah menaruh dalam hati mereka keinginan untuk melaksanakan pikirannya”. (Penyingkapan 17:17) Yang termasuk di antara para penguasa ini adalah raja utara. Apa yang didengarnya ”dari arah terbitnya matahari” sangat cocok memaksudkan tindakan Yehuwa itu, sewaktu Ia menaruh dalam hati para pemimpin manusia keinginan untuk memusnahkan si pelacur besar agama.
Namun, ada yang menjadi sasaran khusus kemurkaan raja utara. Ia akan ”mendirikan kemahnya yang seperti istana di antara laut yang besar dan gunung yang kudus di negeri Hiasan”, kata sang malaikat. Pada zaman Daniel, laut yang besar adalah Laut Tengah dan gunung yang kudus adalah Zion, yang pernah menjadi lokasi bait Allah. Oleh karena itu, dalam penggenapan nubuat ini, raja utara yang murka melancarkan kampanye terhadap umat Allah. Dalam pengertian rohani, lokasi ”di antara laut yang besar dan gunung yang kudus” menggambarkan kawasan rohani hamba-hamba Yehuwa yang terurap. Mereka telah keluar dari ”laut” umat manusia yang terasing dari Allah dan memiliki harapan untuk memerintah di Gunung Zion surgawi bersama Yesus Kristus.—Yesaya 57:20; Ibrani 12:22; Penyingkapan 14:1.
Yehezkiel, yang hidup sezaman dengan Daniel, juga menubuatkan suatu serangan atas umat Allah ”pada akhir masa itu”. Ia mengatakan bahwa permusuhan akan dimulai oleh Gog dari Magog, yaitu Setan si Iblis. (Yehezkiel 38:14, 16) Secara simbolis, dari arah mana Gog datang? ”Dari bagian-bagian yang paling jauh di utara,” firman Yehuwa melalui Yehezkiel. (Yehezkiel 38:15) Namun, seberapa pun ganasnya serangan tersebut, umat Yehuwa tidak akan binasa. Pertempuran dramatis ini adalah hasil dari suatu manuver yang Yehuwa lakukan sebagai strategi untuk memusnahkan pasukan Gog. Oleh karena itu, Yehuwa berfirman kepada Setan, ”Aku pasti akan . . . memasang kait pada rahangmu dan membawa engkau ke luar.” ”Aku akan . . . membuat engkau keluar dari bagian-bagian yang paling jauh di utara dan membawa engkau ke gunung-gunung Israel.” (Yehezkiel 38:4; 39:2) Oleh karena itu, kabar ”dari utara” yang membangkitkan kemarahan raja utara pastilah berasal dari Yehuwa. Namun, apa yang akhirnya menjadi isi laporan-laporan ”dari arah terbitnya matahari dan dari utara” itu, hanya Allah yang akan menentukan dan waktulah yang akan membuktikannya.
Mengenai Gog, ia mengorganisasi serangan habis-habisan ini karena melihat kemakmuran ”Israel milik Allah”, yang, bersama ”kumpulan besar” dari ”domba-domba lain”, tidak lagi menjadi bagian dari dunianya. (Galatia 6:16; Penyingkapan 7:9; Yohanes 10:16; 17:15, 16; 1 Yohanes 5:19) Gog memandang dengan penuh curiga kepada ”umat yang dikumpulkan dari antara bangsa-bangsa, umat yang mengumpulkan kekayaan dan tanah milik [rohani]”. (Yehezkiel 38:12) Karena menganggap kawasan rohani Kristen sebagai ”daerah pedusunan yang terbuka” yang mudah ditaklukkan, Gog mengerahkan upaya habis-habisan untuk menyapu bersih penghalang ini, yang dapat menghambatnya meraih kekuasaan total atas umat manusia. Namun, ia gagal. (Yehezkiel 38:11, 18; 39:4) Sewaktu raja-raja di bumi, termasuk raja utara, menyerang umat Yehuwa, mereka akan ’menemui akhir mereka’.
SANG RAJA AKAN MENEMUI AKHIRNYA’
Kampanye terakhir raja utara tidak ditujukan terhadap raja selatan. Oleh karena itu, raja utara tidak menemui akhirnya di tangan saingan beratnya itu. Demikian pula, raja selatan tidak dihancurkan oleh raja utara. Raja selatan dibinasakan ”bukan oleh tangan [manusia]”, melainkan oleh Kerajaan Allah* . (Daniel 8:25) Sebenarnya, dalam pertempuran Armagedon, semua raja di bumi akan disingkirkan oleh Kerajaan Allah, dan rupanya inilah yang terjadi atas raja utara. (Daniel 2:44) Daniel 11:44, 45 melukiskan peristiwa-peristiwa yang mengarah ke pertempuran akhir itu. Tidak heran, ’tidak ada yang akan menolong’ sewaktu raja utara menemui akhirnya!
[Catatan Kaki]
* Lihat Pasal 10 di buku ini.

APA YANG SAUDARA PAHAMI?
Bagaimana identitas raja utara berganti setelah perang dunia kedua?
Apa yang akhirnya akan terjadi atas raja utara dan raja selatan?
Bagaimana saudara telah memperoleh manfaat dengan memperhatikan nubuat Daniel tentang persaingan antara dua raja ini?

Artikel ini adalah salinan dari buku: Pay Attention to Daneil's Prophecy! yang diterbitkan oleh Watchtower Bible and Tract Society of Pennsylvania.
Cover of book