Related Topic: Apakah Perceraian Jalan Keluarnya?
ANDI dan Anita adalah pasangan yang serasi. Anita lebih pendiam dan lebih tenang daripada suaminya, namun sikap Anita yang lembut dan ceria tampaknya merupakan pelengkap yang ideal bagi kepribadian Andi yang ramah, dengan energi serta rasa humor yang tak habis-habisnya. Mata Anita berseri-seri bila bersama Andi. Dan siapa pun dapat melihat bahwa Andi amat menyayangi Anita.
Akan tetapi, setelah tujuh tahun, perkawinan mereka mulai renggang. Andi mendapat pekerjaan baru yang menyita banyak waktunya. Anita mulai merasa jengkel karena kesibukan Andi yang baru dalam pekerjaan dan karena Andi sering pulang malam. Anita berusaha ”mengisi kekosongan”, seperti yang ia akui, dengan menyibukkan diri dalam kariernya sendiri. Namun tak lama kemudian, Andi pulang ke rumah dengan napas berbau alkohol, dan menjelaskan bahwa ia baru saja pergi bersama rekan-rekan bisnisnya. Kebiasaan minum alkoholnya semakin parah, dan Anita akhirnya angkat kaki dari apartemen mereka. Andi tenggelam ke dalam depresi. Beberapa bulan kemudian, mereka bercerai.
Bagi banyak orang, kisah ini sudah tidak asing lagi. Seperti telah kita lihat, angka perceraian membubung tinggi di seluruh dunia. Dan memang benar, ada perceraian yang tidak dapat dihindarkan atau memang perlu. Alkitab tidak secara mutlak melarang perceraian, seperti perkiraan banyak orang. Standarnya cukup adil dan masuk akal, mengizinkan perceraian atas dasar perzinaan (Matius 19:9); prinsipnya juga mengizinkan perpisahan perkawinan di bawah keadaan-keadaan ekstrem tertentu, seperti penganiayaan fisik. (Lihat Matius 5:32; 1 Korintus 7:10, 11.) Tetapi, ini bukanlah prinsip di balik perceraian Andi dan Anita.
Andi dan Anita adalah orang-orang Kristen dan pernah menghormati kesucian perkawinan. Namun sebagaimana halnya kita, mereka hidup di dunia yang mengajarkan etika yang sangat berbeda—bahwa perkawinan dapat disingkirkan begitu saja dan caranya melalui perceraian. Setiap tahun, cara berpikir demikian mempengaruhi ribuan pasangan untuk bercerai dengan alasan-alasan yang tidak kuat, tidak mempunyai dasar Alkitab. Dan banyak orang mulai menyadari—sayang sudah terlambat—bahwa sikap mereka yang ”modern” dan ”mengalami pencerahan” terhadap perceraian telah memikat mereka ke dalam jerat.
Jerat? ’Suatu kata yang keterlaluan,’ beberapa orang mungkin mengatakan demikian. Anda mungkin merasa, sebagaimana halnya orang-orang pada zaman ini, bahwa perceraian merupakan cara yang beradab untuk keluar dari perkawinan yang kacau balau. Namun apakah Anda menyadari sisi gelap dari perceraian? Dan apakah Anda telah melihat betapa dunia dewasa ini dapat membentuk pendapat kita tentang perceraian secara halus—tanpa kita menyadarinya?
Daya Tarik Kepuasan Pribadi
Pada kasus Andi dan Anita, sebagian dari umpan yang memikat mereka ke dalam perceraian adalah godaan yang menjanjikan kepuasan pribadi melalui karier yang sukses. Perkawinan mereka menjadi korban sikap mental ’mengejar karier dahulu’. Itu bukanlah korban yang pertama. Surat kabar Family Relations mengulas pada tahun 1983, ”Kepuasan pribadi telah menjadi slogan. Sebagai akibatnya, hubungan erat di antara kebanyakan anggota keluarga segera terputus dan bahkan ikatan perkawinan berada di bawah tekanan yang terus meningkat.” Andi begitu terkesan dengan pekerjaan barunya dan kemajuan yang dijanjikannya. Ia mengerjakan proyek-proyek tambahan dan bergaul dengan para koleganya setelah jam kerja untuk mendapatkan lebih banyak respek dan kepercayaan. Sementara itu, karier Anita menyilaukan dia dengan angan-angan kesuksesan melalui pendidikan yang lebih tinggi.
Mengikuti daya tarik kesuksesan mempunyai pengaruh rangkap dua. Pertama, itu berarti bahwa Andi dan Anita memiliki semakin sedikit waktu untuk satu sama lain. Seperti kata Anita, ”Kami ditarik ke dua arah yang berbeda. Jadi kami tidak punya waktu untuk percakapan pribadi seperti biasa, duduk dan membahas masalah bersama-sama. Sebaliknya, ia bersiap-siap untuk bekerja esok hari, saya pun begitu. Komunikasi terhenti.”
Pengaruh yang kedua dari segi rohani. Dengan mendahulukan karier di tempat pertama, mereka menggeser ke belakang hubungan mereka dengan Allah justru pada saat mereka sangat membutuhkan Dia. Suatu program bersama berupa penerapan prinsip Alkitab dapat menolong Andi mengatasi masalah alkoholnya dan memberi Anita kekuatan untuk tetap dekat dengan suaminya menghadapi masa-masa yang berat ini.
Maka sebaliknya daripada mengatasi masalah-masalah perkawinan mereka, mereka mulai menganggap perceraian sebagai pilihan yang praktis, bahkan mungkin sebagai jalan keluar dari semua tekanan ini. Setelah perceraian, perasaan bersalah dan malu membuat kehidupan rohani mereka berdua mundur sama sekali. Mereka tidak lagi mengaku sebagai kristiani.
Para ”Pakar” Turut Memasang Umpan dalam Jerat
Banyak pasangan, sewaktu menghadapi problem-problem perkawinan, berpaling kepada para penasihat dan ahli terapi perkawinan atau kepada buku-buku yang mereka tulis. Namun amat menyedihkan, beberapa ”pakar” perkawinan modern telah terbukti lebih mahir dalam menganjurkan perceraian daripada mempertahankan perkawinan. Pada dekade-dekade belakangan, pendapat-pendapat para ”pakar” yang tidak setuju dengan perkawinan sangat banyak dan merusak, seperti gerombolan belalang yang lapar.
Sebagai contoh, ahli psikoterapi Susan Gettleman dan Janet Markowitz mengeluh dalam buku The Courage to Divorce, ”Keyakinan yang tidak rasional terus bertahan bahwa orang-orang yang bercerai telah menyimpang dari suatu unit yang berguna yang disebut ’kehidupan keluarga yang normal’.” Pakar psikoterapi tersebut mengecam ”hambatan legal dan nilai-nilai moral” yang menentang perceraian yang ”didasarkan atas prinsip-prinsip agama yang bermula berabad-abad yang lalu”. Perceraian, menurut pendapat mereka, akan terus ada sampai ”perkawinan berangsur-angsur tidak berguna lagi”, sehingga menyatakan perceraian ”tidak perlu”. Mereka merekomendasi buku mereka kepada para pengacara, hakim—dan para rohaniwan!
’Perceraian tidaklah buruk. Perceraian mendatangkan kebebasan. Kelaziman perceraian bukanlah pertanda bahwa ada sesuatu yang salah pada masyarakat; itu merupakan pertanda bahwa ada sesuatu yang salah pada lembaga perkawinan.’ Tidak sedikit ”pakar” yang memiliki pandangan demikian, khususnya selama masa kejayaan revolusi seksual pada tahun-tahun 1960-an dan 1970-an. Belum lama ini, beberapa psikolog dan antropolog populer bahkan telah berspekulasi bahwa manusia ”diprogramkan”—tetapi anehnya, melalui evolusi—untuk bertukar pasangan setiap beberapa tahun. Dengan kata lain, hubungan intim di luar perkawinan dan perceraian wajar-wajar saja.
Sukar dibayangkan berapa banyak perkawinan yang telah dirusak oleh anggapan demikian. Namun, banyak pakar lainnya menyarankan perceraian dengan cara-cara yang lebih halus. Seperti diteliti oleh Diane Medved dalam bukunya The Case Against Divorce, ia mendapati kira-kira 50 buku di perpustakaan di daerahnya yang kalaupun tidak terang-terangan menyarankan perceraian, sedikitnya ’memberi semangat kepada pembacanya dalam menempuh perceraian’. Ia memperingatkan, ”Buku-buku ini menyatakan betapa mudah dan enaknya memasuki dunia lajang dan memuji ’kebebasan baru’ Anda seolah-olah . . . hal itu merupakan cara yang terbaik menuju kepuasan.”
Pengaruh-Pengaruh Lainnya
Tentu saja, ada banyak pengaruh lainnya yang menganjurkan perceraian selain para ”pakar” yang sesat. Media massa—TV, film, majalah, novel-novel roman—sering kali menambahkan badai propaganda yang terus-menerus menentang perkawinan. Kadang-kadang, media menyajikan pesan bahwa kegembiraan yang terus-menerus, tawa riang dan kepuasan terdapat di luar kehidupan perkawinan yang monoton dan membosankan, dan bahwa di kaki pelangi kesendirian dan kebebasan yang berkilauan ini, pasangan kencan lainnya menanti, jauh lebih hebat daripada yang ada di rumah.
Sekadar bersikap skeptis terhadap pandangan yang merusak demikian mungkin tidak cukup untuk melindungi diri. Sebagaimana Medved menjelaskan, ”Anda menonton sebuah film, dan bahkan meskipun Anda berhikmat duniawi, Anda bisa takluk pada kekuatannya. Anda tidak bisa menghindarinya—jalan cerita dan interaksi disajikan sedemikian rupa untuk mendapatkan simpati terhadap tokoh utama (suami yang suka menyeleweng?) dan antipati terhadap tokoh yang jahat (istri yang pemarah?). . . . Secara pribadi, Anda mungkin tidak memaafkan akan apa yang Anda lihat, namun dengan sekadar tahu bahwa orang lain memaafkannya, yang dipertegas dengan begitu banyak cara di seluruh kebudayaan kita, mengoyakkan tekad kita untuk melakukan yang baik serta keyakinan Anda.”
Tingkah laku sesama manusia memang mempengaruhi kita. Apabila memang demikian halnya dengan pesan-pesan dari media, betapa lebih besar lagi pengaruh teman-teman yang kita pilih! Dengan bijaksana, Alkitab memperingatkan, ”Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.” (1 Korintus 15:33) Suatu perkawinan yang sehat merupakan salah satu dari kebiasaan yang paling baik. Kita dapat merusaknya apabila kita berteman dengan orang-orang yang tidak merespek lembaga perkawinan. Banyak pasangan yang ternyata telah mempermudah jalan memasuki perceraian karena mereka mempercayakan problem-problem perkawinan mereka kepada ”teman-teman” sedemikian—kadang-kadang bahkan kepada orang-orang yang juga telah memilih perceraian tanpa dasar yang tepat.
Orang-orang lain dengan tergesa-gesa mencari nasihat hukum apabila perkawinan mereka mengalami ketegangan. Mereka lupa bahwa sistem hukum di banyak negeri adalah sebuah mesin yang bekerja dengan gampang, yang dirancang untuk memudahkan perceraian. Pada akhirnya, para pengacara menghasilkan uang dengan mengurus perceraian, bukannya dengan mendamaikan kembali.
Namun, Anda mungkin bertanya, ’Kalau semua pengacara, ahli terapi, tokoh-tokoh media massa dan bahkan teman-teman dan para kenalan telah menerima dan secara efektif menganjurkan sikap yang lebih lunak terhadap perceraian, apakah kata-kata mereka sedikit pun tidak ada benarnya?’ Dapatkah begitu banyak orang bisa salah tentang sesuatu yang begitu penting? Dengan melihat sejumlah akibat setelah perceraian, kita akan dibantu untuk mengetahui jawabannya.
Perceraian—Tuaiannya yang Pahit
BUKAN para pengacara, teman-teman, media massa atau para ”pakar” yang harus membayar harga suatu perceraian. Namun pasangan yang bercerai—dan anak-anak mereka—yang membayar seluruh rekening akhir. Sebaliknya daripada suatu pengalaman yang membebaskan, perceraian bisa muncul dengan harga yang luar biasa mahal.
Dalam buku The Case Against Divorce, Diane Medved mengakui bahwa pada mulanya ia bermaksud menulis sebuah buku yang ”netral secara moral” terhadap perceraian. Akan tetapi, ia merasa terdorong untuk mengubah pikirannya. Mengapa? Ia menulis, ”Sederhana saja, saya mendapati dari penelitian saya bahwa proses dan akibat perceraian benar-benar mendatangkan bencana—terhadap fisik, pikiran dan rohani—sehingga dalam sejumlah besar kasus, ’pengobatan’ yang didatangkannya lebih buruk daripada ’penyakit’ dalam perkawinan.”
Anita, yang disebutkan pada artikel sebelumnya, menyetujuinya, ”Saya sangka bahwa perceraian merupakan jalan keluar. Saya sangka jika saya dapat keluar dari perkawinan ini, lalu saya akan merasa lebih baik. Namun sebelum perceraian, setidaknya tekanan emosi membuat saya merasa hidup. Setelah saya bercerai, saya bahkan tidak merasa hidup. Ada suatu kehampaan sehingga saya merasa diri seperti tidak ada. Begitu menakutkan. Saya tidak dapat melukiskan betapa hampanya perasaan saya.” Setelah bercerai, bayangan janji-janji kebebasan dan kegembiraan menguap menjadi kenyataan suram dalam kehidupan dan perjuangan untuk bertahan hari demi hari.
Yang pasti benar adalah, bahkan apabila terdapat dasar yang beralasan untuk bercerai, akibatnya dapat begitu menyakitkan dan berkepanjangan. Maka siapa pun yang berniat mengambil tindakan yang drastis itu, akan bijaksana untuk terlebih dahulu mengindahkan nasihat Yesus, ’Hitunglah biayanya.’ (Lukas 14:28) Jelasnya, apa saja biayanya, apa saja akibat yang menyakitkan setelah bercerai?
Akibat-Akibat atas Emosi dan Moral
Suatu penelitian baru-baru ini yang diterbitkan dalam Journal of Marriage and the Family menunjukkan bahwa perceraian berhubungan dengan ketidakbahagiaan dan depresi. Orang-orang yang bercerai lebih besar kemungkinan menderita depresi, dan orang-orang yang telah bercerai lebih dari satu kali lebih besar lagi kemungkinannya menderita depresi. Sosiolog bernama Lenore Weitzman, dalam bukunya The Divorce Revolution, menyatakan bahwa orang-orang yang bercerai dan berpisah berada pada peringkat tertinggi di antara para pasien yang menempati ruang perawatan penyakit kejiwaan; mereka juga banyak menderita kasus-kasus penyakit, kematian dini dan bunuh diri.
Dalam penelitiannya terhadap kira-kira 200 orang, Medved menemukan kenyataan bahwa perceraian menyebabkan gangguan emosi pada beberapa pria dan wanita selama rata-rata tujuh tahun, yang lainnya selama puluhan tahun. Satu hal yang tidak dipengaruhi oleh perceraian, katanya, adalah pola perilaku utama yang tidak sehat, yang mengarahkan suatu pasangan untuk bercerai. Maka, tidak terlalu mengherankan bahwa perkawinan kedua bahkan akan lebih besar kemungkinannya gagal daripada perkawinan pertama!
Daripada memperbaiki perilaku, perceraian sering kali menimbulkan pengaruh negatif yang drastis terhadap moral. Para peneliti menemukan kenyataan bahwa setelah bercerai, kebanyakan pria dan wanita untuk sementara memasuki semacam masa remaja kedua. Mereka mencicipi kemerdekaan baru mereka dengan memburu serangkaian hubungan asmara dengan tujuan untuk menaikkan harga diri yang jatuh atau untuk mengusir kesepian. Namun berkencan hanya untuk alasan-alasan yang mementingkan diri dapat mengarah kepada perbuatan seks yang amoral, yang mendatangkan sederetan panjang akibat yang tragis. Dan khususnya, hal itu dapat mengakibatkan bahaya luka mental dan emosi pada diri anak-anak apabila mereka melihat orang-tua mereka melakukan hal-hal semacam itu.
Akan tetapi, terlalu sering, pasangan yang telah bercerai siap mendukung propaganda dunia bahwa kebutuhan dan kepentingan mereka harus didahulukan. Maka, mereka menumpulkan perasaan terhadap penderitaan yang mereka datangkan atas kehidupan di sekeliling mereka—anak-anak mereka, orang-tua mereka, teman-teman mereka. Beberapa orang lupa bahwa Allah juga dapat merasa sakit hati apabila kita mengabaikan standar-standar-Nya. (Bandingkan Mazmur 78:40, 41; Maleakhi 2:16.) Perceraian juga dapat menjadi urusan yang amat memalukan, khususnya apabila hal itu mengarah pada perang di pengadilan dalam memperebutkan hak untuk mengurus anak dan harta.
Bencana Keuangan
Lenore Weitzman lebih jauh menyimpulkan bahwa perceraian juga merupakan ”bencana keuangan” bagi kaum wanita di Amerika Serikat. Rata-rata, setengah dari pendapatan mereka berkurang untuk kebutuhan seperti makanan, pemondokan dan alat pemanas. Ia menemukan kenyataan bahwa standar kehidupan mereka merosot sejauh 73 persen setelah bercerai!
Ia pada mulanya mengharapkan bahwa hukum perceraian modern yang ”mengalami pencerahan” akan menyediakan perlindungan untuk kaum wanita. Sebaliknya, ia menemukan kenyataan bahwa kaum wanita melaporkan perasaan putus asa dan melarat setelah bercerai. Mereka mengatakan bahwa secara mendadak mereka harus bernaung pada program-program sosial, kupon-kupon makanan, pemondokan bagi para tuna wisma dan sup-sup gratis bagi orang-orang miskin. Hampir 70 persen dari para wanita yang diwawancarainya melaporkan bahwa mereka terus-menerus merasa khawatir akan cara menutupi pengeluaran sehari-hari. Beberapa wanita merasakan ketakutan yang hebat, frustrasi dan bahkan terkurung bersama anak-anak mereka, tidak punya waktu untuk diri sendiri.
Seorang pemuda yang akan kita sebut Tom, yang orang-tuanya bercerai sewaktu ia berusia delapan tahun, mengenang kembali, ”Setelah Ayah pergi, ya, memang selalu ada makanan, tetapi tiba-tiba, sekaleng limun menjadi barang mewah. Kami tidak sanggup membeli baju baru. Ibu harus menjahit semua kemeja kami. Sewaktu saya melihat potret kami, yang masih anak-anak pada waktu itu, yang tampak adalah foto sedih orang-orang yang malang.”
Karena kebanyakan wanita mendapat hak untuk merawat anak-anak dan banyak ayah tidak sanggup membayar tunjangan perawatan anak yang diputuskan oleh pengadilan—yang sering kali bahkan lebih sedikit dari yang minimum—perceraian tampaknya lebih menyusahkan wanita daripada pria. Namun, perceraian tidak selalu menguntungkan pria. Buku Divorced Fathers menyatakan bahwa biaya pengadilan saja dapat menyedot separuh dari penghasilan bersih tahunan seorang pria. Perceraian juga merusak emosi suami dan ayah. Banyak orang tersiksa karena martabat mereka turun menjadi sekadar tamu dalam kehidupan anak-anak mereka.
Lindungi Perkawinan Anda!
Maka, benar-benar mengejutkan bahwa dalam sebuah penelitian terhadap orang-orang yang telah bercerai selama satu tahun, ternyata 81 persen suami/ayah dan 97 persen istri/ibu mengaku bahwa perceraian mungkin suatu kekeliruan dan bahwa mereka seharusnya berupaya lebih keras untuk memperbaiki perkawinan mereka. Juga, semakin banyak ”pakar” dengan cemas menarik kembali sikap congkak mereka terhadap perkawinan yang pernah mereka dukung. Los Angeles Times baru-baru ini menyatakan, ”Dengan meneliti hasilnya selama 25 tahun lebih, banyak ahli terapi . . . sedang bekerja lebih keras untuk menyelamatkan perkawinan.”
Menarik kembali suatu sikap, tentu saja, cukup mudah bagi para ”pakar”. Paling-paling, yang mereka lakukan sama saja dengan mengatakan, ”Oh! Saya menyesal!” dan mulai berbicara dengan nada yang lain. Tidak begitu mudah bagi ribuan orang yang menuruti nasihat mereka. Namun, korban perceraian dapat mengambil pelajaran berharga dari pengalaman pahit mereka, sebagaimana dinyatakan oleh pernyataan ringkas di Mazmur 146:3, 4, ”Jangan percaya kepada para bangsawan, kepada anak manusia yang tidak dapat memberikan keselamatan. Apabila nyawanya melayang, ia kembali ke tanah; pada hari itu juga lenyaplah maksud-maksudnya.”
Teman-teman, ahli terapi, pengacara atau orang-orang di belakang media massa tidak lebih dari manusia yang tidak sempurna. Maka apabila kita membutuhkan nasihat perkawinan, untuk apa kita semata-mata bergantung pada mereka? Tidakkah lebih masuk akal untuk berpaling kepada Allah Yehuwa, Perancang perkawinan? Prinsip-prinsip-Nya tidak berubah-ubah mengikuti kecenderungan pendapat para ”pakar” yang selalu berubah-ubah. Prinsip-prinsip Allah terbukti benar selama ribuan tahun, dan prinsip-prinsip tersebut masih ampuh dewasa ini.
Andi dan Anita mulai menyadari hal ini beberapa waktu setelah mereka bercerai. Mereka mengerti bahwa perceraian mereka suatu kesalahan yang sangat buruk. Akan tetapi, sungguh menarik, mereka tidak terlambat. Mereka rujuk kembali dan menikah sekali lagi. Dan mereka mulai mengubah cara berpikir mereka. ”Saya menyadari,” kenang Andi, ”bahwa saya bangkrut secara moral, dan saya membutuhkan bantuan. Untuk pertama kali selama bertahun-tahun, saya berdoa untuk itu. Saya ingin melakukan apa yang benar; maka saya harus menghentikan apa yang sedang saya lakukan dan menolak semua nilai yang telah saya pungut dari dunia. Saya tidak menginginkannya lagi.”
Anita menambahkan, ”Alasan kami rujuk kembali sekarang ini, dengan masa lalu yang buruk, adalah karena kami berdua sungguh-sungguh ingin dipandang benar di hadapan Yehuwa. Dan kami benar-benar ingin agar perkawinan kami sukses.” Tidak berarti segalanya mudah sesudah itu. ”Kami senantiasa memperhatikan hubungan kami sekarang, seperti anjing penjaga. Dan jika satu di antara kami merasa bimbang, kami akan membicarakannya.”
Andi dan Anita sekarang membesarkan dua anak yang manis. Andi melayani sebagai pelayan sidang di sebuah sidang Saksi-Saksi Yehuwa. Tentu saja, keadaannya tidak sepenuhnya sempurna. Tidak pernah ada perkawinan yang sempurna dalam dunia tua ini. Bagaimana mungkin, mengingat perkawinan menyatukan dua orang yang tidak sempurna? Itulah sebabnya Alkitab memperingatkan kita bahwa sejak dosa masuk ke dalam dunia, perkawinan telah mendatangkan banyak ’kesusahan badani’. (1 Korintus 7:28) Maka, memasuki perkawinan bukanlah hal yang patut dianggap enteng; siapa pun yang merencanakan untuk menikah harus menggunakan cukup waktu untuk mengenal calon teman hidupnya. Dan sekali masuk ke dalamnya, mutu perkawinan biasanya sama baiknya dengan upaya yang dikorbankan untuknya.
Namun, jelaslah, mengambil langkah perceraian juga tidak patut dianggap enteng. Sewaktu perceraian dipandang perlu atau tidak dapat dihindarkan, tentu saja Allah dapat memberi kita bantuan yang kita butuhkan untuk menanggung masa-masa sulit yang mungkin timbul. Namun jika kita mengikuti kecenderungan dunia dengan menerima pandangan murahan terhadap kesucian lembaga perkawinan, siapa yang akan melindungi kita dari risiko akibat kebodohan demikian? Maka lindungi perkawinan Anda. Sebaliknya daripada membuang perkawinan Anda sewaktu segalanya tidak berjalan dengan semestinya, pusatkan upaya Anda untuk mengatasi masalahnya. Berupayalah memperbaiki ”jembatan” daripada membakarnya. Carilah jawaban-jawaban praktis untuk problem-problem perkawinan di dalam Firman Allah.* Jalan keluarnya ada di situ. Dan semuanya benar-benar ampuh. Awake! Februari 1992 [Gambar editorial blogmedia]
Artikel Terkait: [C-link] Perselingkuhan—Konsekuensinya yang Tragis
[Catatan Kaki]
* Untuk informasi sehubungan akibat-akibat perceraian terhadap anak-anak, lihat Awake! 22 April 1991.
Lihat Membina Keluarga Bahagia, diterbitkan oleh Watchtower Bible & Tract Society of New York, Inc
|
|
|
|
| Rumah Tangga yang Terbagi—Dampak Perceraian atas
|
|
|
|
|
Remaja
PARA pakar mengira bahwa nasihat mereka selama ini benar. ’Anda perlu berfokus pada kebahagiaan Anda,’ saran mereka kepada orang tua yang perkawinannya bermasalah. Dan, mereka segera menambahkan, ’Tidak usah khawatirkan anak-anak. Mereka cukup tangguh. Lebih mudah bagi mereka untuk mengatasi dampak perceraian daripada harus hidup dengan dua orang tua yang tidak bisa akur!’
Namun, beberapa penasihat yang tadinya mengelu-elukan perceraian telah mengubah saran mereka. Mereka kini mengatakan, ’Perceraian sama dengan perang. Tidak ada yang tidak terluka, termasuk anak-anak.’
Mitos tentang Perceraian yang Bebas Masalah
Situasi ini bisa menjadi sinetron komedi yang populer di TV. Ceritanya? Papa dan Mama bercerai. Mama mendapat hak asuh anak lalu menikah dengan seorang duda yang juga membawa anak-anak. Minggu demi minggu, keluarga yang ruwet ini menghadapi berbagai masalah konyol silih berganti—masing-masing terselesaikan hanya dalam waktu 30 menit dengan dibumbui banyak humor yang kocak.
Situasi di atas mungkin bisa menjadi acara TV yang menghibur. Tetapi dalam kenyataannya, perceraian sama sekali bukan sinetron yang lucu. Sebaliknya, prosesnya menyakitkan. ”Perceraian itu gugatan hukum,” tulis M. Gary Neuman dalam bukunya Emotional Infidelity. ”Yang satu menggugat yang lain. Begitu Anda memutuskan untuk bercerai, Anda tidak berkuasa lagi atas anak Anda. Anda juga tidak berkuasa lagi atas uang Anda, dan bahkan mungkin di mana Anda akan tinggal. Seorang penengah mungkin membantu Anda menyelesaikan berbagai masalah, tetapi mungkin juga tidak. Pada akhirnya, seorang tak dikenal yang disebut hakim bisa jadi memberi tahu seberapa sering Anda boleh bertemu anak Anda dan seberapa banyak uang yang akan menjadi milik Anda. Sayangnya, orang tak dikenal itu tidak benar-benar sepikiran dengan Anda.”
Sering kali, perceraian hanya menukar sekumpulan problem dengan sekumpulan problem lain. Malah, segalanya bisa berubah, mulai dari pengaturan tempat tinggal sampai status keuangan—dan kemungkinan besar tidak menjadi lebih baik. Belum lagi dampak perceraian atas anak-anak.
'KALI INI PASTI BERHASIL’
Penelitian menyingkapkan bahwa perkawinan kedua memiliki tingkat kegagalan yang lebih tinggi daripada perkawinan pertama, dan perkawinan ketiga bahkan lebih parah lagi. Dalam bukunya Emotional Infidelity, M. Gary Neuman menunjukkan satu alasannya. ”Jika Anda mengalami kesulitan dalam perkawinan pertama Anda,” tulisnya, ”itu bukan semata-mata karena Anda salah memilih teman hidup. Masalahnya ada pada Anda. Anda yang jatuh cinta kepada orang itu. Anda yang bersama orang itu menciptakan apa pun yang Anda miliki atau tidak miliki.” Kesimpulan Neuman? ”Lebih baik membuang problemnya dan mempertahankan teman hidup daripada membuang teman hidup dan mempertahankan problemnya.”
Perceraian dan Remaja
Perceraian bisa menghancurkan hati anak-anak, tidak soal usia mereka. Ada yang mengatakan bahwa anak remaja lebih sanggup mengatasinya. Sebab, menurut mereka, anak remaja sudah lebih besar dan memang dalam proses lepas dari orang tua. Akan tetapi, para peneliti juga melihat sisi negatifnya. Mereka mendapati bahwa justru karena faktor-faktor itu, remaja bisa terkena imbas terparah dari perceraian.* Pikirkan hal berikut:
▪ Dalam perjalanan menuju kedewasaan, remaja merasa sangat resah, bahkan lebih daripada ketika mereka masih kecil. Jangan terkecoh oleh sikap mereka yang sepertinya ingin mandiri—remaja memerlukan jangkar kestabilan keluarga lebih daripada sebelumnya.
▪ Persis ketika remaja sedang belajar untuk menjalin persahabatan sebagai orang dewasa, perceraian malah membuat mereka meragukan nilai-nilai seperti kepercayaan, keloyalan, dan kasih. Di kemudian hari, ketika sudah dewasa, mereka mungkin sama sekali tidak mau menjalin hubungan yang akrab.
▪ Memang lazim bagi anak-anak dari segala usia untuk menunjukkan kegundahan mereka. Namun, remaja lebih besar kemungkinannya untuk berbuat demikian dengan cara yang berbahaya, misalnya delinkuensi (pemberontakan melawan norma), penyalahgunaan alkohol, dan penyalahgunaan narkoba.
Ini tidak berarti remaja yang orang tuanya bercerai sudah pasti cacat secara emosi atau hancur masa depannya. Mereka bisa berhasil, terutama jika mereka tetap memiliki hubungan baik dengan kedua orang tua.# Akan tetapi, sungguh naif untuk berpikir bahwa perceraian, seperti kata beberapa orang, akan selalu ’lebih baik untuk anak-anak’ atau bahwa itu akan mengakhiri semua ketegangan di antara suami dan istri. Malah, beberapa orang mendapati bahwa mereka harus lebih sering berurusan dengan teman hidup yang ”tidak ada kecocokan lagi” itu setelah perceraian daripada sebelumnya dan mengenai masalah-masalah yang jauh lebih sensitif, misalnya tunjangan keuangan atau hak asuh anak. Dalam kasus-kasus demikian, perceraian tidak mengakhiri problem keluarga, tetapi hanya memindahkannya ke tempat lain.
Pilihan Ketiga
Bagaimana jika perkawinan Anda bermasalah dan Anda telah berpikir untuk bercerai? Artikel ini menyajikan beberapa alasan yang kuat untuk mempertimbangkannya kembali. Perceraian bukan obat bagi segala problem perkawinan.
Tetapi, jangan salah: Jawabannya bukan sekadar pasrah menjalani perkawinan yang buruk. Ada pilihan lain lagi—Jika perkawinan Anda bermasalah, mengapa tidak berupaya memperbaikinya? Jangan cepat-cepat menepis gagasan ini dengan menyatakan bahwa problem perkawinan Anda sudah tidak mungkin diperbaiki lagi. Renungkanlah pertanyaan-pertanyaan ini:
▪ ’Sifat apa saja yang mula-mula membuat saya tertarik kepada suami atau istri saya? Bukankah sifat-sifat itu sedikitnya masih ada?’—Amsal 31:10, 29.
▪ ’Dapatkah perasaan yang saya miliki sebelum kami menikah digugah kembali?’—Kidung Agung 2:2; 4:7.
▪ ’Tidak soal kelakuan teman hidup saya, apa yang dapat saya lakukan untuk menerapkan saran-saran di halaman 3 sampai 9 majalah ini?’—Roma 12:18.
▪ ’Bisakah saya menjelaskan kepada teman hidup saya (secara langsung atau melalui surat) perbaikan apa saja yang saya inginkan dalam hubungan kami?’—Ayub 10:1.
▪ ’Dapatkah kami meminta seorang sahabat yang bijaksana untuk membantu kami menetapkan tujuan-tujuan yang realistis guna memperbaiki perkawinan kami?’—Amsal 27:17.
Alkitab mengatakan, ”Orang yang cerdik mempertimbangkan langkah-langkahnya.” (Amsal 14:15) Prinsip itu tidak hanya berlaku sewaktu akan memilih teman hidup tetapi juga sewaktu mempertimbangkan apa yang harus dilakukan dengan perkawinan yang mulai goyah. Malah, sebagaimana dikemukakan di halaman 9 majalah ini, keluarga yang sukses pun memiliki problem—bedanya adalah cara mereka menanganinya.
Sebagai ilustrasi: Bayangkan Anda memulai perjalanan panjang naik mobil. Tanpa terelakkan, Anda akan menemui problem di sepanjang perjalanan, mungkin cuaca buruk, kemacetan lalu lintas, atau penghalang jalan. Bahkan, Anda mungkin saja tersesat. Apa yang akan Anda lakukan? Berbalik dan pulang atau mencari cara untuk mengatasi gangguan itu dan terus maju? Pada hari pernikahan, Anda memulai suatu perjalanan yang pasti tidak akan terluput dari problem, sebab Alkitab mengatakan bahwa ”mereka yang kawin itu akan menghadapi banyak kesusahan”. (1 Korintus 7:28, Bahasa Indonesia Masa Kini) Pertanyaannya bukan apakah problem akan timbul atau tidak, melainkan bagaimana Anda akan mengatasinya. Dapatkah Anda mencari cara untuk mengatasi gangguan dan terus maju? Sekalipun Anda merasa bahwa perkawinan Anda sudah gagal, maukah Anda berupaya mencari bantuan?—Yakobus 5:14.
Lembaga yang Ditetapkan Allah

Perkawinan adalah lembaga yang ditetapkan Allah, dan karena itu tidak boleh dianggap remeh. (Kejadian 2:24) Apabila problem-problem tampaknya tak tertanggulangi, ingatlah pokok-pokok yang dibahas dalam artikel ini.
1. Cobalah menggugah kembali cinta yang pernah Anda rasakan.—Kidung Agung 8:6.
2. Tentukan apa yang dapat Anda lakukan untuk memperbaiki perkawinan Anda, lalu lakukan.—Yakobus 1:22.
3. Beri tahu teman hidup Anda dengan jelas namun penuh respek—secara langsung atau melalui surat—perbaikan apa yang menurut Anda perlu dibuat dalam perkawinan.—Ayub 7:11.
4. Cari bantuan. Anda tidak perlu menyelamatkan perkawinan Anda sendirian!
Artikel ini berfokus pada anak remaja, tetapi perceraian juga berdampak atas anak-anak yang lebih kecil. Untuk mendapat lebih banyak keterangan, lihat Sedarlah! terbitan 8 Desember 1997, halaman 3-12, dan terbitan 22 April 1991, halaman 3-11.
#Patut diakui, hubungan yang baik tidak selalu mungkin, khususnya bila ada orang tua yang menelantarkan keluarga atau dengan cara lain jelas-jelas tidak bertanggung jawab atau bahkan membahayakan.—1 Timotius 5:8.
JIKA PERKAWINAN BERAKHIR
Alkitab mengakui adanya keadaan-keadaan ekstrem yang bisa berujung pada perceraian.* Jika itu yang terjadi pada keluarga Anda, bagaimana Anda dapat membantu anak-anak remaja Anda untuk mengatasi dampaknya?
Beri tahu anak Anda apa yang terjadi. Jika mungkin, hal ini hendaknya dilakukan oleh kedua orang tua. Bersama-sama, beri tahukan bahwa keputusan untuk bercerai sudah final. Yakinkan si anak bahwa hal ini bukan salah dia dan bahwa dia akan terus disayangi oleh kedua orang tua.
Hentikan pertempuran—perang sudah usai. Beberapa orang tua terus terlibat dalam kancah pertikaian bahkan lama setelah perceraian. Seperti kata seorang pakar, mereka ”memang sudah bercerai secara hukum tetapi tetap menjadi dua kubu yang terikat secara emosi dan belum bisa mencapai kesepakatan damai”. Hal itu tidak saja membuat remaja kehilangan orang tua mereka—karena Papa dan Mama tampaknya selalu bertengkar—tetapi juga mendorong mereka untuk mengadu domba orang tua demi mendapatkan keinginan mereka. Misalnya, seorang anak lelaki bisa berkata kepada ibunya, ”Papa membolehkan aku pulang malam semau aku. Kenapa sama Mama tidak boleh?” Karena tidak mau putranya membelot ke ”pihak lawan”, Mama pun mengalah.
Biarkan anak Anda berbicara. Remaja mungkin bernalar, ’Kalau orang tuaku sudah tidak saling menyayangi lagi, mungkin saja mereka tidak menyayangi aku lagi’ atau ’Kalau orang tuaku bisa melanggar aturan, aku juga bisa!’ Untuk mengurangi kecemasan anak Anda dan memperbaiki cara berpikirnya yang salah, beri dia banyak kesempatan untuk berbicara. Tetapi, hati-hati: Jangan bertukar peran dan mencari dukungan emosi dari anak remaja Anda. Dia anak Anda, bukan teman berbagi perasaan.
Anjurkan si anak untuk mempunyai hubungan yang sehat dengan mantan Anda. Ora
ng yang Anda ceraikan memang sudah jadi mantan teman hidup Anda, tetapi ia bukan mantan orang tua anak Anda. Menjelek-jelekkan dia sangatlah merusak. Buku Teens in Turmoil—A Path to Change for Parents, Adolescents, and Their Families mengatakan, ”Jika orang tua menggunakan anak mereka sebagai senjata dalam kancah perceraian, mereka harus siap jika belakangan ’senjata makan tuan’.”
Perhatikan diri Anda. Adakalanya, Anda merasa tidak tahan lagi. Tetapi, jangan menyerah. Pertahankan rutin yang sehat. Jika Anda seorang Kristen, tetaplah sibuk dalam kegiatan rohani. Dengan demikian, Anda dan anak remaja Anda bisa tetap seimbang.—Mazmur 18:2; Matius 28:19, 20; Ibrani 10:24, 25.
Jika berbagi hak asuh,
anjurkan anak untuk me-
miliki hubungan yang sehat
dengan mantan Anda
[Catatan Kaki]
* Menurut Alkitab, satu-satunya alasan yang dapat diterima untuk mengakhiri perkawinan, dengan kemungkinan menikah lagi, adalah hubungan seksual di luar perkawinan. (Matius 19:9) Apabila terjadi perselingkuhan, keputusan untuk bercerai ada di tangan pasangan hidup yang tidak bersalah—bukan anggota keluarga atau orang lain.—Galatia 6:5.
Artikel ini adalah salinan (© 2010) Awake! Oktober 2009
