Selasa, 30 Maret 2010

Masa Depan Agama Ditinjau dari Masa Lalunya (Bagian ke-8)

Masa yang Ditinjau: kira-kira 563 S.M. dan seterusnya—Penerangan yang Menjanjikan Kebebasan

Batu uji suatu agama atau filsafat adalah seberapa banyak hal yang dapat dijelaskannya.”Penyair Amerika abad ke-19 Ralph Waldo Emerson

SEDIKIT, kalaupun ada, yang diketahui mengenai dia. Menurut tradisi namanya adalah Sidhārtha Gautama, ia seorang pangeran, dan ia dilahirkan di kerajaan Sakya, India sebelah utara, kira-kira 600 tahun sebelum kelahiran Kristus. Ia disebut Sakyamuni (orang bijaksana dari suku Sakya) dan Tatagata, suatu gelar yang tidak diketahui artinya. Kemungkinan besar anda akan mengenal dia hanya dengan gelarnya yang lebih terkenal, sang Budha.

Gautama dibesarkan di tengah-tengah kemewahan, namun pada usia 29 tahun ia tiba-tiba sadar akan kesengsaraan yang ada di sekitarnya. Ia menginginkan suatu penjelasan, tidak bedanya seperti banyak orang dewasa ini yang dengan tulus bertanya-tanya mengenai alasan adanya kejahatan dan penderitaan. Dengan meninggalkan istri dan putranya yang masih bayi, ia pergi ke padang gurun, tempat ia hidup sebagai pertapa selama 6 tahun. Ia berbaring di atas duri-duri dan pernah untuk sementara hanya makan sebutir nasi setiap hari. Namun hal ini tidak juga memberikan penjelasan.

Kemudian pada usia 35 tahun, Gautama memutuskan untuk menempuh haluan yang lebih lunak, yang ia sebut Jalan Tengah. Ia bersumpah untuk tinggal duduk di bawah sebuah pohon ara sampai ia mendapat penerangan. Akhirnya, setelah mendapat penglihatan-penglihatan pada suatu malam, ia merasa pencariannya telah berhasil. Sejak itu ia dikenal sebagai sang Budha, artinya, ”yang mendapat penerangan”. Tetapi Gautama tidak ingin memonopoli gelar itu. Jadi, kata itu harus selalu digunakan dengan sebuah kata sandang, seorang budha atau, dalam hal Gautama, sang Budha.


Jalan Menuju Kebebasan

Menurut cerita, dewa-dewa Hindu Indra dan Brahma mengimbau agar sang Budha menceritakan kepada orang lain kebenaran-kebenaran yang baru ia peroleh. Maka ia mulai melakukan hal tersebut. Meskipun tetap mempertahankan sikap toleran dari agama Hindu bahwa ada kebaikan dalam semua agama, sang Budha tidak menyetujui sistem kasta dan korban binatang yang dianggap penting. Ia menolak untuk mengakui bahwa Weda, kitab suci Hindu, berasal dari ilham ilahi. Dan meskipun tidak menyangkal kemungkinan adanya Allah, ia tidak mengakui Allah sebagai Pencipta. Hukum sebab-akibat, bantahnya, tidak mempunyai permulaan. Dan lebih dari agama Hindu, kata orang, dalam khotbahnya yang pertama ia menjanjikan, ”Begini, biarawan-biarawan, adalah jalan tengah yang pengetahuan tentang hal itu . . . membimbing kepada pengertian, yang menuntun kepada hikmat, yang menghasilkan ketenangan, pengetahuan, penerangan yang sempurna, menuju Nirwana.”

Apa gerangan Nirwana itu?’ anda bertanya. ”Sukar untuk mendapatkan jawaban yang salah atas pertanyaan ini,” demikian kata sejarawan Will Durant, ”karena sang Guru tidak menjelaskan ini dengan saksama, dan para pengikutnya telah memberikan berbagai macam jenis tafsiran untuk kata tersebut.” ”Pandangan agama Budha tidak hanya satu,” demikian kata The Encyclopedia of Religion, karena hal itu ”berbeda-beda sesuai dengan kebudayaan, masa dalam sejarah, bahasa, aliran, dan bahkan pribadinya”. Seorang penulis menyebutnya ”tidak adanya keinginan sama sekali, kekosongan yang tidak terhingga tanpa batas waktu . . . , ketenangan yang kekal dari kematian tanpa kelahiran kembali”. Yang lain, sesuai dengan arti akar katanya dalam bahasa Sanskerta ”memadamkan”, mengatakan bahwa hal itu seperti sebuah nyala api yang padam pada waktu bahan bakarnya habis. Pokoknya, Nirwana menjanjikan kebebasan.

Kebutuhan untuk mencapai kebebasan disimpulkan oleh sang Budha dalam Empat Kebenaran yang Luhur: Kehidupan merupakan kesakitan dan penderitaan; keduanya disebabkan oleh hasrat untuk hidup dan untuk memuaskan keinginan; haluan hikmat adalah menekan keinginan yang kuat tersebut; ini dicapai dengan mengikuti Delapan Jalan. Jalan ini menuntut kepercayaan yang benar, maksud yang benar, tutur kata yang benar, tindakan yang benar, kehidupan yang benar, upaya yang benar, pikiran yang benar, dan semadi yang benar.


Kemenangan di Luar Negeri, Kekalahan di Negeri Sendiri

Sejak semula, agama Budha mendapat tanggapan yang baik. Sekelompok orang-orang materialis pada waktu itu, yang disebut Charvaka, telah mempersiapkan jalannya. Mereka menolak tulisan-tulisan suci Hindu, mengejek gagasan percaya akan Allah, dan menyangkal agama pada umumnya. Pengaruh mereka sangat besar dan membantu menciptakan apa yang Durant sebut ”suatu kekosongan yang secara praktis mendorong tumbuhnya suatu agama baru”. Kekosongan ini, bersama dengan ”kemerosotan intelektual dari agama yang lama”, membantu munculnya dua gerakan pembaruan utama pada waktu itu, aliran Budha dan aliran Jain.

Pada pertengahan abad ketiga S.M. Raja Aśoka, yang wilayah kekuasaannya meliputi bagian terbesar dari daratan India, berbuat banyak untuk mempopulerkan agama Budha. Ia memperkuat aspek-aspek misinya dengan mengirim misionaris-misionaris ke Srilanka dan mungkin juga ke negara-negara lain. Selama abad-abad pertama Tarikh Masehi, agama Budha menyebar ke seluruh Cina. Dari sana agama tersebut meluas ke Jepang melalui Korea. Pada abad keenam dan ketujuh M., agama tersebut terdapat di setiap bagian timur dan tenggara Asia. Dewasa ini, ada lebih dari 300 juta penganut agama Budha di seluruh dunia.

Bahkan sebelum zaman Raja Aśoka, agama Budha sudah menyebar. ”Pada akhir abad keempat S.M., misionaris-misionaris agama Budha sudah ada di Atena,” demikian tulis E. M. Layman. Dan ia menambahkan bahwa setelah agama Kristen didirikan, utusan-utusan injilnya yang awal menemukan doktrin Budha di mana-mana. Bahkan, ketika utusan-utusan injil Katolik mula-mula pergi ke Jepang, mereka dianggap berasal dari sekte Budha yang baru. Bagaimana hal ini dapat terjadi?

Kedua agama tersebut jelas mempunyai banyak persamaan. Menurut sejarawan Durant, hal-hal seperti ”pemujaan peninggalan orang mati, penggunaan air suci, lilin, kemenyan, tasbih, jubah keimaman, bahasa liturgi yang sudah mati, biarawan dan biarawati, keadaan lajang dan penggundulan bagi kaum biarawan, pengakuan dosa, hari-hari puasa, dan pengangkatan orang-orang suci, api penyucian dan misa untuk orang-orang mati”. Ia menambahkan bahwa hal-hal ini ”tampaknya sudah ada lebih dulu dalam agama Budha”. Sebenarnya, agama Budha dikatakan ”lima abad mendahului Gereja Roma Katolik dalam melahirkan dan menggunakan semua upacara dan bentuk-bentuk ibadat yang sama dari kedua agama tersebut”.

Dalam menjelaskan bagaimana persamaan-persamaan ini berkembang, penulis Layman menyinggung asal mula yang sama. Ia menulis, ”Menjelang zaman Kristen . . . pengaruh kafir sudah nyata terlihat dalam bentuk-bentuk ibadat agama Budha. . . . Pengaruh kafir mungkin menjadi akar dari beberapa praktik ibadat yang berkembang dalam gereja Kristen.”

Sekalipun pengaruhnya yang meluas di seluruh dunia, agama Budha menderita kekalahan yang serius di negerinya sendiri. Dewasa ini, kurang dari 1 persen penduduk India beragama Budha; 83 persen beragama Hindu. Alasannya tidak jelas. Mungkin agama Budha begitu toleran sehingga diserap kembali oleh agama Hindu yang lebih tradisional sifatnya. Atau mungkin para biarawan Budha lalai menggembalakan kaum awam. Tetapi, yang menjadi faktor utama adalah masuknya agama Islam ke India. Dengan ini mulailah pemerintahan oleh orang-orang Muslim, yang menyebabkan banyak orang di bawah kekuasaannya terutama di India bagian utara, pindah kepada agama Islam. Bahkan, pada akhir abad ke-13, kira-kira seperempat dari seluruh penduduk memeluk agama Islam. Sementara itu, banyak penganut Budha kembali ke agama Hindu, yang jelas mereka rasa lebih dapat membentengi mereka terhadap pengaruh Islam yang gencar. Sesuai dengan toleransi sebagai namanya, agama Hindu menyambut mereka kembali dengan hangat, mempermudah kembalinya mereka dengan menyatakan bahwa sang Budha adalah suatu dewa, reinkarnasi dari Wisnu!

Banyak Wajah dari Budha

Patung-patung yang pertama dari Budha dibuat oleh orang Yunani,” demikian tulis E. M. Layman. Orang-orang Budha menyatakan bahwa patung-patung ini tidak disembah tetapi hanya alat bantu dalam ibadat, dirancang untuk menunjukkan respek kepada Guru yang agung. Ada kalanya sang Budha dilukiskan sedang berdiri, namun lebih sering ia duduk bersila, kedua tapak kakinya menghadap ke luar. Jika tangannya saling bertumpu satu dengan yang lain, ia sedang bersemadi; jika tangan kanannya diangkat sampai pada dagunya, ia sedang memberkati; dan jika ibu jari tangan kanannya menyentuh telunjuk jarinya atau jika kedua tangan bertemu di dada, ia sedang mengajar. Sikap tubuh berbaring menggambarkan dia dalam perjalanan memasuki nirwana.

Sebagaimana ada banyaknya perbedaan dalam sikap tubuhnya, demikian juga ada banyak variasi dalam doktrinnya. Dikatakan bahwa dalam waktu 200 tahun setelah kematiannya, sudah ada 18 versi agama Budha yang berbeda. Dewasa ini, 25 abad setelah ”penerangan” yang diterima oleh Gautama, ada banyak interpretasi menurut agama Budha mengenai cara mencapai Nirwana.

Erik Zürcher dari Universitas Leiden di Negeri Belanda menjelaskan bahwa ada ”tiga orientasi dasar dalam agama Budha, masing-masing dengan gagasan doktrinnya sendiri, praktik-praktik kepercayaannya sendiri, tulisan-tulisan suci, dan tradisi seni ikonnya masing-masing”. Gerakan-gerakan ini disebut kendaraan dalam istilah agama Budha karena, seperti sebuah perahu, aliran-aliran ini membawa seseorang menyeberangi sungai kehidupan sampai akhirnya ia mencapai pantai kebebasan. Kemudian kendaraannya dapat ditinggalkan dengan aman. Dan seorang penganut agama Budha akan mengatakan kepada anda bahwa cara seseorang pergi—jenis kendaraannya—tidak penting. Yang penting adalah sampai ke tempat tujuan.

Kendaraan-kendaraan ini antara lain ialah aliran Budha Terawada, yang jelas masih banyak persamaannya dengan apa yang diberitakan sang Budha dan pengaruhnya terutama kuat di Burma, Sri Lanka, Laos, Thailand, dan Kampuchea. Aliran Budha Mahayana, yang terutama kuat pengaruhnya di Cina, Korea, Jepang, Tibet, dan Mongolia, lebih liberal sifatnya karena telah menyesuaikan ajarannya agar dapat mencapai lebih banyak orang. Untuk alasan tersebut aliran ini disebut Kendaraan yang Lebih Besar dibandingkan dengan Teravada, Kendaraan yang Lebih Kecil. Vajrayana, Kendaraan Berlian, yang umumnya dikenal sebagai Tantrisme atau aliran Budha Esoterik, menggabungkan upacara dengan praktik Yoga, dan dianggap mempercepat perjalanan maju seseorang menuju Nirwana.

Ketiga gerakan ini terbagi dalam banyak aliran pengajaran, masing-masing berbeda dalam menafsirkan unsur-unsur dasar tertentu, sering kali karena khusus menandaskan atas bagian-bagian tertentu dalam kitab suci Budha. Dan karena, menurut Zürcher, ke mana pun agama ini menyebar, ”sedikit atau banyak agama Budha selalu dipengaruhi oleh kepercayaan dan praktik-praktik setempat”, aliran-aliran pengajaran ini segera melahirkan sejumlah sekte setempat. Tidak berbeda dari Susunan Kristen dengan ribuan sekte dan cabangnya yang membingungkan, sang Budha, secara kiasan, mempunyai hanyak wajah.


Agama Budha dan Politik

Sama seperti Yudaisme dan agama Kristen yang umum, agama Budha tidak membatasi diri kepada kegiatan agama saja namun juga telah membantu menentukan pemikiran dan tindakan politik. ”Perpaduan pertama antara agama Budha dan politik nyata selama pemerintahan [Raja] Asoka,” demikian kata penulis Jerrold Schecter. Kegiatan politik agama Budha terus berlangsung sampai zaman kita ini. Pada akhir tahun 1987, 27 biarawan Budha dari Tibet ditangkap di Lhasa karena turut serta dalam demonstrasi-demonstrasi anti-Cina. Dan keterlibatan agama Budha dalam perang Vietnam pada tahun 1960-an menyebabkan Schecter menyimpulkan, ”Jalan damai dari Jalan Tengah telah dibalikkan menjadi kekerasan baru berupa demonstrasi-demonstrasi di jalan. . . . Agama Budha di Asia merupakan iman yang sedang bernyala.”

Karena kecewa dengan keadaan politik, ekonomi, sosial, dan moral yang tercela di dunia Barat, beberapa orang berpaling kepada agama-agama Timur, termasuk agama Budha, untuk mendapatkan penerangan. Namun dapatkah ”iman yang sedang bernyala” memberikan jawaban? Jika anda menerapkan kriteria Emerson bahwa ”batu uji suatu agama . . . adalah seberapa banyak hal yang dapat dijelaskannya”, bagaimana anda menilai penjelasan Gautama? Apakah ada agama Asia lain yang lebih baik dalam ”Mencari Jalan yang Benar”? Untuk jawabannya, silakan anda baca terbitan kami yang berikut.


Beberapa dari Orang, Tempat, dan Benda-bendanya

Puncak Adam, sebuah gunung di Sri Lanka yang dianggap suci; sebuah tanda yang terdapat di atas batu yang ada di sana menurut umat Budha adalah jejak kaki sang Budha, menurut umat Muslim jejak kaki Adam, dan menurut umat Hindu adalah jejak kaki Siwa.

Pohon Bodi, pohon ara yang di bawahnya Gautama menjadi sang Budha, ”bodi” berarti ”penerangan”; sebuah cabang dari pohon induk ini dikatakan masih ada dan dipuja di Anuradhapura, Sri Lanka.

Biarawan-Biarawan Budha, yang dikenal dari jubah khas mereka, merupakan unsur utama dari agama Budha; mereka berjanji untuk berlaku jujur, menyayangi manusia dan binatang, meminta-minta untuk nafkah mereka, menghindari hiburan, dan hidup dalam kesucian.

Dalai Lama, pemimpin sekuler dan agama di Tibet, dipandang oleh umat Budha sebagai inkarnasi dari sang Budha, yang pada tahun 1959 diasingkan; ”dalai”, dari kata Mongolia untuk ”samudra”, memaksudkan pengetahuan yang luas; ”lama” mengartikan seorang guru rohani (seperti guru dalam bahasa Sanskerta). Menurut laporan berita, selama demonstrasi-demonstrasi di Tibet pada tahun 1987, Dalai Lama ”memberikan berkatnya atas huru-hara sipil tetapi mengutuk kekerasan”, sehingga menyebabkan India, negara tuan rumahnya, mengingatkan dia bahwa pernyataan-pernyataan politik dapat membahayakan dia di sana.

Kuil Gigi, sebuah kuil Budha di Kandy, Sri Lanka, dianggap menjadi tempat disimpannya gigi-gigi sang Budha sebagai peninggalan suci.


Teh dan ”Doa” Budha

Sekalipun ada persamaannya, ”doa” Budha lebih tepat disebut ”meditasi”. Suatu bentuk yang khusus menekankan disiplin diri dan meditasi yang khusuk adalah agama Budha Zen. Dibawa ke Jepang pada abad ke-12 M., agama ini didasarkan atas bentuk agama Budha di Cina yang dikenal sebagai Ch’an, yang berasal dari seorang biarawan India bernama Bodhidharma. Ia pergi ke Cina pada abad keenam M. dan banyak meminjam dari Taoisme Cina dalam menciptakan Ch’an. Dikatakan bahwa ia pernah memotong kedua kelopak matanya sebagai pencetusan amarahnya karena tertidur pada waktu bermeditasi. Kelopak-kelopak mata tersebut jatuh ke tanah, berakar, dan tumbuh menjadi tanaman teh yang pertama. Legenda ini menjadi dasar tradisional dari biarawan-biarawan Zen untuk minum teh agar tidak tertidur sewaktu meditasi.

Artikel Salinan dari publikasi Awake!. No.32/1990

Bersambung: (C-link) Bagian ke-9