Minggu, 07 Maret 2010

Air—Problem Seluas Dunia


Mengapa ada krisis? Apa solusinya?
Lokasi yang Krisis Airnya Lebih Parah. MARY, yang tinggal di Amerika Serikat, mengawali harinya dengan mandi, menyikat gigi dengan air yang terus-menerus mengalir dari keran, membilas toilet, dan kemudian mencuci tangan. Bahkan sebelum mulai sarapan, boleh jadi ia telah menggunakan air sebanyak bak rendam ukuran biasa. Menjelang akhir hari itu, Mary, seperti kebanyakan orang yang tinggal di Amerika, telah menggunakan lebih dari 350 liter air, cukup untuk mengisi bak rendam sebanyak dua setengah kali. Bagi dia, cukup dengan membuka keran terdekat, air bersih yang berlimpah ruah sudah dapat diperoleh. Air selalu tersedia; itu bukan masalah baginya.

Dibawah terdapat gambar dari laporan Awake! Januari 2009, sebuah sumur raksasa setelah kekeringan yang parah di Gujarat, India.

Lain ceritanya dengan Dede, yang tinggal di Afrika Barat. Ia bangun pagi-pagi sekali sebelum fajar, berpakaian, meletakkan sebuah baskom besar di atas kepalanya, dan berjalan sejauh delapan kilometer menuju sungai terdekat. Di sana ia mandi, mengisi baskom dengan air, dan kemudian pulang. Dibutuhkan waktu sekitar empat jam untuk rutin sehari-hari ini. Dede membutuhkan waktu satu jam lagi untuk menyaring air guna menyingkirkan parasit dan kemudian ia membagi air itu ke dalam tiga wadah—satu untuk minum, satu untuk keperluan rumah tangga, dan satunya lagi untuk mandi sore. Urusan cuci-mencuci pakaian harus dilakukan di sungai.

”Kekurangan air sedang membunuh kami di sini,” kata Dede. ”Setelah menghabiskan hampir setengah dari waktu pagi untuk mengambil air, berapa banyak lagi waktu yang tersisa untuk bertani atau untuk kegiatan lain?”

Dede bukan satu-satunya yang mengalami situasi ini. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), jumlah waktu yang digunakan per tahunnya oleh sejumlah besar wanita dan anak-anak untuk mengambil dan membawa air dari sumber yang jauh dan sering kali tercemar, mencapai lebih dari sepuluh juta tahun!

Ada yang Memiliki Cukup Banyak Air, Ada Pula yang Tidak. Jadi walaupun ada cukup banyak air tawar di seluruh dunia, penyebarannya tidak merata. Itulah problem besar yang utama. Misalnya, para ilmuwan memperhitungkan bahwa meskipun 36 persen dari air danau dan sungai dunia
berada di Asia, benua ini menampung 60 persen penduduk dunia. Sebagai kontras, Sungai Amazon mengandung 15 persen air sungai dunia, tetapi hanya 0,4 persen penduduk dunia yang tinggal cukup dekat untuk memanfaatkannya. Penyebaran yang tidak merata juga berlaku untuk curah hujan. Beberapa kawasan di bumi nyaris kering sepanjang waktu; kawasan lainnya, meskipun tidak selalu kering, kadang-kadang mengalami musim kemarau.

Sejumlah pakar yakin bahwa boleh jadi manusialah yang menyebabkan beberapa perubahan iklim yang mempengaruhi curah hujan. Penggundulan hutan, penggarapan lahan secara berlebihan serta eksploitasi tanah penggembalaan mengakibatkan gundulnya tanah. Beberapa orang menyimpulkan bahwa bila itu terjadi, permukaan bumi memantulkan lebih banyak cahaya matahari ke atmosfer. Akibatnya: Atmosfer menjadi lebih hangat, awan-awan le,nyap, dan curah hujan berkurang.

Lahan tandus dapat juga mengakibatkan berkurangnya curah hujan, karena sebagian besar dari hujan yang mengguyuri hutan adalah air yang sebelumnya menguap dari tumbuh-tumbuhan itu sendiri—dari daun-daun pepohonan dan semak. Dengan kata lain, tumbuh-tumbuhan berfungsi seperti karet busa yang sangat besar yang menyerap dan menampung air hujan. Jika pohon dan semak disingkirkan, air yang tersedia untuk membentuk awan hujan menjadi lebih sedikit.

Seberapa seriusnya tindakan manusia mempengaruhi curah hujan masih diperdebatkan; dibutuhkan penelitian lebih lanjut. Tetapi satu hal yang pasti adalah: Kekurangan air terjadi di mana-mana. Ini telah mengancam perekonomian dan kesehatan dari 80 negeri, demikian Bank Dunia memperingatkan. Dan sekarang 40 persen dari penduduk bumi—dua miliar orang lebih—telah kehilangan akses untuk memperoleh air bersih atau sanitasi.

Sewaktu dihadapkan pada masalah kekurangan air, negara-negara kaya biasanya memiliki dana guna mengatasi masalah yang serius. Mereka membangun bendungan, menggunakan teknologi yang mahal untuk mendaur ulang air, atau bahkan memisahkan garam dari air laut. Negara-negara miskin tidak mempunyai pilihan semacam itu. Sering kali mereka harus memilih antara menjatahkan air bersih, yang dapat menghambat kemajuan ekonomi dan mengurangi produksi makanan, atau memanfaatkan air limbah yang belum diolah, yang mengakibatkan tersebarnya penyakit. Seraya permintaan air meningkat di mana-mana, kemungkinan besar akan timbul masalah kekurangan air yang serius di masa mendatang.

Dekade yang Penuh Harapan
Pada tanggal 10 November 1980, Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan yakin berbicara tentang ”Dekade Pasokan Air Minum dan Sanitasi Internasional” yang akan datang. Majelis itu mengumumkan bahwa tujuannya adalah untuk menyediakan akses air bersih dan sanitasi yang tidak dibatasi bagi semua orang yang tinggal di negara-negara berkembang menjelang tahun 1990. Menjelang akhir dekade itu, (data tahun 1997) kira-kira 134 miliar dolar AS telah dibelanjakan untuk menyediakan air bersih bagi lebih dari satu miliar orang dan fasilitas pembuangan limbah bagi lebih dari 750 juta orang—sebuah prestasi yang mengesankan.

Akan tetapi, hasil-hasil ini tidak seimbang dengan pertumbuhan penduduk sebanyak 800 juta orang di negara-negara berkembang. Dengan demikian, pada tahun 1990 masih ada satu miliar orang lebih yang kekurangan air bersih dan sanitasi yang memadai. Keadaan yang sulit ini tampaknya mengumandangkan kata-kata sang ratu kepada Alice dalam cerita anak-anak berjudul Through the Looking-Glass, ”Nah, kamu harus berlari secepat mungkin untuk mempertahankan kedudukanmu sekarang. Kalau kamu ingin menuju tempat lain, kamu harus lari paling tidak dua kali lebih cepat!”

Sejak tahun 1990, tingkat kemajuan dalam memperbaiki nasib orang-orang yang tidak memiliki air dan sanitasi, menurut WHO, secara keseluruhan ”tidak berarti”. Sandra Postel, yang pada waktu itu adalah wakil presiden riset dari Worldwatch Institute, menulis, ”Adalah kelemahan moral yang parah bahwa masih ada 1,2 miliar orang yang tidak dapat memperoleh air minum tanpa risiko penyakit atau kematian. Alasannya bukan sekadar langkanya air atau tidak memadainya teknologi tetapi tidak adanya komitmen sosial dan politik untuk memenuhi kebutuhan dasar orang-orang miskin. Dibutuhkan sekitar 36 miliar dolar AS per tahun, setara dengan sekitar 4 persen pembelanjaan militer dunia, untuk menyediakan bagi semua umat manusia apa yang diremehkan oleh kebanyakan dari antara kita sekarang—air minum yang bersih dan sarana sanitasi untuk pembuangan limbah.”

Meningkatnya Populasi, Meningkat Pula Permintaan
Penyebaran air yang tidak merata semakin diperumit oleh problem kedua: Seraya jumlah penduduk bertambah, bertambah pula permintaan akan air. Curah hujan di seluas dunia relatif konstan, sedangkan jumlah penduduk meningkat pesat. Konsumsi air berlipat ganda sekurang-kurangnya dua kali lipat pada abad ini, dan beberapa orang memperkirakan itu dapat berlipat ganda lagi dalam jangka waktu 20 tahun mendatang.

Tentu saja, bertambahnya jumlah penduduk tidak hanya membutuhkan lebih banyak air minum tetapi juga lebih banyak makanan. Selanjutnya, produksi makanan membutuhkan bahkan lebih banyak air. Akan tetapi, pertanian harus bersaing dengan permintaan air untuk industri dan penggunaan pribadi. Seraya kota-kota dan daerah-daerah industri berkembang, pertanian sering kali kalah bersaing. ”Dari mana lagi makanan akan diperoleh?” tanya seorang peneliti. ”Bagaimana mungkin kita dapat memenuhi kebutuhan 10 miliar orang kalau kita nyaris tidak dapat memenuhi kebutuhan 5 miliar orang dan bahkan mengalihkan air dari pertanian?”

Sebagian besar peningkatan penduduk justru terjadi di negara-negara berkembang yang sering kali sudah kekurangan air. Sungguh menyedihkan, negara-negara itu paling tidak berdaya secara finansial dan teknis dalam menghadapi masalah air.

Polusi
Selain masalah kekurangan air dan permintaan penduduk yang bertambah, terdapat problem ketiga yang berkaitan: Polusi. Alkitab berbicara tentang ”sungai air kehidupan”, tetapi banyak sungai dewasa ini adalah sungai kematian. (Penyingkapan 22:1) Menurut sebuah perkiraan, jumlah air limbah—dari rumah tangga dan industri—yang mengalir ke sungai-sungai dunia setiap tahun mencapai 450 kilometer kubik. Banyak sungai besar dan kecil tercemar mulai dari hulu hingga ke hilirnya.

Di negara-negara berkembang di dunia, limbah mentah mencemari hampir setiap sungai utama. Sebuah survei atas 200 sungai utama di Rusia memperlihatkan bahwa 8 dari antara 10 sungai memiliki tingkat bakteri dan virus yang sangat tinggi dan berbahaya. Sungai dan permukaan air tanah di negara-negara industri, meskipun tidak dibanjiri dengan limbah, sering kali diracuni oleh bahan-bahan kimia yang berbahaya, termasuk yang berasal dari pupuk pertanian. Di hampir semua bagian dunia, negara-negara pesisir memompakan limbah yang belum diolah ke perairan dangkal lepas pantai mereka, mengakibatkan pencemaran pantai yang serius.

Jadi, polusi air adalah masalah global. Sewaktu menyimpulkan situasinya, buku kecil Water: The Essential Resource dari Yayasan Audubon menyatakan, ”Sepertiga dari umat manusia bekerja keras dalam lingkaran setan berupa penyakit dan kelemahan fisik karena air yang tercemar; sepertiga lagi terancam oleh senyawa kimia yang dilepaskan ke dalam air dengan efek jangka panjang yang tidak diketahui.”

Air Buruk, Kesehatan Juga Buruk
Sewaktu Dede, yang disebutkan sebelumnya, mengatakan bahwa ”kekurangan air sedang membunuh kami”, ia sedang berbicara secara kiasan. Namun, kurangnya air tawar yang bersih memang membunuh, dalam arti harfiah juga. Bagi Dede dan jutaan orang seperti dia, nyaris tidak ada pilihan lain selain menggunakan air dari sungai besar dan kecil, yang sering kali hampir menyerupai comberan. Tidak heran, menurut WHO, setiap delapan detik satu anak meninggal akibat penyakit yang berkaitan dengan air!

Di negara-negara berkembang, menurut majalah World Watch, 80 persen dari semua penyakit ditularkan melalui konsumsi air yang tidak aman. Bibit penyakit yang ditularkan melalui air serta polusi menewaskan 25 juta orang setiap tahun.

Penyakit mematikan yang berkaitan dengan air—termasuk diare, kolera, dan tifus—menelan sebagian besar korbannya di kawasan Tropis. Namun, penyakit yang ditularkan melalui air tidak terbatas di negara-negara berkembang. Pada tahun 1993 di Amerika Serikat, 400.000 orang di Milwaukee, Wisconsin, jatuh sakit setelah minum air keran yang mengandung mikroba yang tahan terhadap klorin. Pada tahun itu juga, mikroba-mikroba yang berbahaya masuk ke dalam sistem air di kota-kota lain di Amerika Serikat—Washington, D.C.; New York City; dan Cabool, Missouri—memaksa penduduknya untuk merebus air yang keluar dari keran.

Berbagi Sungai
Masalah-masalah yang saling terkait berupa kekurangan air, permintaan dari penduduk yang bertambah, dan polusi yang mengarah pada kesehatan yang buruk adalah faktor-faktor yang seluruhnya dapat menimbulkan ketegangan dan konflik. Padahal, air adalah kebutuhan primer. Seorang politikus di Spanyol yang bergelut dengan krisis air mengatakan, ”Ini bukan lagi sekadar pergelutan ekonomi, namun perjuangan demi kelangsungan hidup.”

Bidang utama yang mengakibatkan ketegangan adalah penggunaan air sungai secara bersama. Menurut Peter Gleick, seorang peneliti di Amerika Serikat, 40 persen penduduk dunia tinggal di 250 lembah sungai yang airnya diperebutkan oleh lebih dari satu bangsa. Sungai Brahmaputra, Indus, Mekong, Niger, Nil, dan Tigris masing-masing mengalir melewati banyak negara—negara-negara yang ingin menguras air sebanyak mungkin dari sungai-sungai itu. Sekarang (data tahun 1997) saja sudah terjadi pertikaian.

Seraya permintaan akan air meningkat, meningkat pula ketegangan semacam itu. Wakil presiden Bank Dunia untuk Pembangunan yang Aman Lingkungan meramalkan, ”Banyak perang yang terjadi pada abad ini adalah demi minyak, tetapi perang pada abad mendatang adalah demi air.”

Perjalanan Sebutir Molekul
Marilah kita ikuti perjalanan sebutir molekul air yang tiada akhirnya. Rangkaian gambar ini, yang diberi nomor sesuai dengan teks tercetak (publikasi Awake! 22 Agustus 1997), menggambarkan hanya satu dari tak terhitung banyaknya jalur yang digunakan sebutir molekul air untuk kembali ke tempat asalnya.—Ayub 36:27; Pengkhotbah 1:7.

Kita akan mulai dengan sebutir molekul di permukaan samudra.(1) Seraya air diuapkan oleh tenaga matahari, molekul ini terangkat hingga ketinggian beberapa ribu meter di atas permukaan bumi.(2) Sekarang, ia bergabung dengan molekul-molekul air yang lain untuk membentuk titik air yang kecil. Titik air ini diterbangkan oleh angin sejauh ratusan kilometer. Pada waktunya, titik air ini menguap, dan molekulnya terangkat kembali hingga, akhirnya, ia bergabung dengan sebuah butiran air hujan yang cukup besar untuk jatuh ke tanah.
(3) Butiran air hujan tersebut jatuh di lereng gunung bersama miliaran butiran air hujan lainnya; air hujan itu kemudian mengalir ke bawah menuju sungai kecil.(4)

Kemudian seekor rusa (atau binatang lain) minum dari sungai kecil itu, meminum molekul air tadi.(5) Beberapa jam kemudian rusa (binatang lain) itu mengeluarkan air seni, dan molekul itu pun meresap ke dalam tanah untuk diambil oleh akar pohon.(6) Dari sana, molekul tersebut mengadakan perjalanan hingga ke puncak pohon dan akhirnya menguap ke udara melalui daun.
(7) Seperti sebelumnya, ia melayang ke atas untuk membentuk titik air kecil lainnya. Titik air tersebut melayang dibawa angin hingga ia bergabung dengan awan hujan yang berat dan kelabu.
(8) Molekul tersebut jatuh lagi bersama hujan, tetapi kali ini ia jatuh di sungai yang
membawanya ke samudra.(9) Di sana, mungkin dibutuhkan ribuan tahun sebelum ia mencapai permukaan, menguap, dan terbang sekali lagi.(10)

Siklus tersebut tidak pernah berakhir: Air menguap dari laut, menempuh perjalanan melewati daratan, jatuh sebagai hujan, dan mengalir kembali ke laut. Dalam proses ini, air menunjang semua kehidupan di atas bumi.

Cara yang Telah Diusulkan
Membangun pusat-pusat desalinasi. Proses ini memisahkan garam dari air laut. Biasanya ini dilakukan dengan memompakan air ke dalam ruangan bertekanan rendah untuk dipanaskan hingga mendidih. Airnya menguap dan diarahkan ke tempat lain, menyisakan kristal-kristal garam. Ini adalah proses yang mahal, di luar jangkauan banyak negara berkembang.

Mencairkan gunung es. Beberapa ilmuwan yakin bahwa gunung es yang pejal, yang mengandung air tawar yang murni, dapat ditarik dari Kutub Selatan dengan kapal tunda yang besar kemudian dicairkan untuk menyediakan air bagi negara-negara yang sangat kering di Belahan Bumi Selatan. Masalahnya: Kira-kira setengah bagian dari gunung es akan meleleh di laut sebelum mencapai tempat tujuan.

Menyadap Akuifer. Akuifer adalah lapisan batu yang mengandung air jauh di dalam bumi. Dari tempat ini, air dapat dipompa keluar, bahkan di gurun yang paling kering sekali pun. Tetapi proses menyadap air ini mahal dan menurunkan ketinggian permukaan air tanah. Kerugian lain: Kebanyakan akuifer sangat lambat pemulihannya—dan beberapa, sama sekali tidak mengalami pemulihan. 22 agustus 1997 Awake!

Tidak ada yang lebih sering dianggap remeh selain air—kecuali kalau air sudah mulai habis. Pelajarilah mengapa keadaan ini sudah terjadi di beberapa bagian dunia dan apa yang dapat dilakukan terhadap hal ini.

Apakah Dunia Kehabisan Air?
”Akses untuk mendapatkan sumber air tawar yang aman, bersih, dan cukup merupakan tuntutan fundamental agar semua manusia dapat terus hidup, sejahtera, serta berkembang secara sosial dan ekonomi. Namun, kita selalu bertindak seolah-olah air tawar akan berlimpah selamanya. Padahal tidak.”—Kata KOFI ANNAN, SEKRETARIS JENDERAL PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA satu dekade lalu.

SUDAH selama ribuan tahun setiap Kamis siang, sebuah persidangan unik diadakan di kota Valencia, Spanyol. Tujuannya adalah menyelesaikan perselisihan seputar air.

Para petani di dataran subur Valencia bergantung pada irigasi, dan irigasi membutuhkan banyak air—yang selalu kurang di daerah ini. Para petani dapat mengajukan gugatan ke persidangan air kapan pun mereka merasa tidak mendapat bagian secara adil. Perselisihan seputar air bukanlah hal baru, tetapi hal ini jarang diselesaikan dengan cara yang sedemikian adilnya seperti di Valencia ini.

Hampir 4.000 tahun yang lalu, sebuah perselisihan sengit terjadi di antara para gembala yang memperebutkan sebuah sumur dekat Beer-syeba di Israel. (Kejadian 21:25) Dan sejak saat itu, masalah air di Timur Tengah telah menjadi semakin buruk. Sedikitnya dua orang pemimpin terkemuka di daerah itu mengatakan bahwa air merupakan satu-satunya persoalan yang dapat membuat mereka menyatakan perang dengan negara tetangga.

Di negeri-negeri semikering di dunia ini, air selalu memicu ketegangan. Alasannya sederhana: Air sangat penting untuk kehidupan. Sebagaimana dikatakan Kofi Annan, ”air tawar sangat berharga: kita tidak dapat hidup tanpanya. Air tak tergantikan: tidak ada bahan lain yang dapat menggantikannya. Dan, air sifatnya sensitif: aktivitas manusia berpengaruh besar terhadap kuantitas dan kualitas persediaan air tawar”.

Terlebih parah lagi dewasa ini, baik kuantitas maupun kualitas air tawar di planet ini sedang terancam. Kita hendaknya tidak terbuai dengan cadangan air yang kelihatannya limpah di beberapa bagian dunia yang beruntung.

Reservoir yang Semakin Surut
”Salah satu kontradiksi terbesar dalam sifat manusia adalah bahwa kita menghargai sesuatu kalau sesuatu itu sudah tinggal sedikit,” kata Wakil Sekretaris Jenderal PBB Elizabeth Dowdeswell. ”Kita hanya menghargai air kalau sumur sudah mulai kering. Dan, sumur mengering tidak saja di daerah-daerah yang sering kekeringan tetapi juga di tempat-tempat yang tidak biasanya kekurangan air.”

Orang-orang yang menghadapi kekurangan air setiap hari benar-benar tahu bagaimana rasanya hal itu. Setiap hari, Asokan, seorang pekerja kantoran di Madras, India, harus bangun dua jam sebelum matahari terbit. Dengan menenteng lima ember, ia pergi ke keran air umum, yang jaraknya lima menit berjalan kaki dari rumahnya. Karena air hanya tersedia antara pukul empat sampai enam pagi, ia harus antre. Air yang ia bawa ke rumah dalam ember-embernya itu akan digunakan sehari penuh. Banyak orang India lainnya—dan satu miliar orang lain di planet ini—tidak seberuntung itu. Mereka tidak punya keran, sungai, atau sumur di dekat rumah.
DI MANA SEMUA AIR TAWAR ITU Sekitar 97 persen air berada di laut dan terlalu asin untuk air minum, pertanian, dan manufaktur. Hanya ada sekitar 3 persen air tawar di bumi ini. Akan tetapi, kebanyakan tidak mudah didapat, sebagaimana diperlihatkan oleh ilustrasi berikut. [Bagan ilustrasi diatas] Es dan Salju abadi 68,7% Air bawah tanah 30,1% Permafrost, es bawah tanah 0,9% Danau, sungai, dan rawa 0,3%

Abdullah, seorang anak lelaki yang tinggal di daerah Sahel, Afrika, adalah salah satu di antaranya. Tanda di jalan yang memampangkan nama desanya menyebutkan bahwa desanya adalah sebuah oasis; tetapi air di sana sudah lama lenyap, dan pohon-pohon pun sudah jarang terlihat. Abdullah bertugas mengambil air untuk keluarganya dari sebuah sumur yang jauhnya satu kilometer lebih.

Di beberapa bagian dunia, permintaan akan air tawar bersih sudah mulai melebihi persediaan yang ada. Alasannya sederhana: Banyak orang tinggal di daerah kering dan semikering, tempat air jarang ada sejak lama. (Lihat peta di atas.) Menurut Lembaga Lingkungan Hidup Stockholm, sepertiga populasi dunia tinggal di daerah-daerah kekurangan air pada level sedang hingga parah. Dan, permintaan akan air telah meningkat hingga lebih dari dua kali peningkatan jumlah penduduk.

Di pihak lain, persediaan air pada dasarnya tidak dapat berubah. Sumur-sumur yang lebih dalam dan reservoir-reservoir baru mungkin bisa memberikan kelegaan sementara, tetapi jumlah curah hujan dan jumlah air bawah tanah akan tetap sama. Oleh karena itu, para meteorolog mengkalkulasi bahwa dalam waktu 25 tahun, kuantitas air yang tersedia bagi setiap orang di bumi akan berkurang hingga 50 persen.


KRISIS AIR
▪ KONTAMINASI Di Polandia, hanya 5 persen dari air sungai yang layak minum, dan 75 persennya terlalu tercemar bahkan untuk industri.
▪ SUPLAI UNTUK KOTA Di Mexico City, metropolis terbesar kedua di dunia, permukaan air tanah, yang menyuplai 80 persen air untuk kota, terus tenggelam. Pemompaan melebihi pengisian kembali secara alami hingga lebih dari 50 persen. Beijing, ibu kota Cina, mengalami problem yang sama. Akuifernya menyusut lebih dari satu meter setiap tahun, dan sepertiga sumurnya telah mengering.
▪ IRIGASI Akuifer besar Ogallala di Amerika Serikat telah sangat terkuras sehingga tanah irigasi di barat laut Texas telah berkurang sampai sepertiganya akibat kekurangan air. Cina dan India, penghasil makanan terbesar kedua dan ketiga, sedang menghadapi krisis yang sama. Di negara bagian Tamil Nadu di India, irigasi telah menyebabkan permukaan air tanah tenggelam lebih dari 23 meter dalam sepuluh tahun.
▪ SUNGAI-SUNGAI YANG LENYAP Selama musim kering, sungai besar Gangga tidak bisa lagi mengalir sampai ke laut, karena semua airnya sudah dialirkan ke mana-mana. Keadaan ini juga terjadi pada Sungai Colorado di Amerika Utara.

Efek terhadap Kesehatan dan Makanan
Apa pengaruh kekurangan air terhadap manusia? Pertama-tama, kesehatan akan terganggu. Bukan berarti bahwa mereka akan mati kehausan, melainkan bahwa kualitas air yang buruk yang digunakan untuk memasak dan minum akan membuat mereka sakit. Elizabeth Dowdeswell menunjukkan bahwa ”sekitar 80 persen dari semua penyakit dan lebih dari sepertiga dari semua kematian di negara-negara berkembang disebabkan oleh air yang terkontaminasi”. Di negara-negara berkembang yang semikering, persediaan air sering tercemar limbah manusia atau binatang, pestisida, pupuk, atau bahan kimia pabrik. Keluarga miskin mungkin tidak punya pilihan selain mengkonsumsi air yang tercemar itu.

Sebagaimana tubuh kita membutuhkan air untuk membuang kotoran, air yang limpah juga dibutuhkan untuk sanitasi yang layak—air yang bagi banyak orang benar-benar tidak tersedia. Jumlah orang yang tidak memiliki sanitasi yang layak meningkat dari 2,6 miliar pada tahun 1990 menjadi 2,9 miliar pada tahun 1997. Jumlah itu hampir setengah jumlah manusia di planet ini. Dan, sanitasi sebenarnya merupakan masalah hidup dan mati. Dalam sebuah pernyataan bersama, pejabat Perserikatan Bangsa-Bangsa Carol Bellamy dan Nitin Desai memperingatkan, ”Jika anak-anak kekurangan air yang layak untuk minum dan sanitasi, hampir setiap aspek kesehatan dan perkembangan mereka terancam.”

Produksi makanan bergantung pada air. Banyak tanaman pangan, tentu saja, diairi oleh hujan, tetapi, akhir-akhir ini, irigasi telah menjadi faktor kunci dalam memberi makan penduduk dunia yang meningkat semakin pesat ini. Dewasa ini, 36 persen panenan dunia bergantung pada irigasi. Namun, jumlah tanah pertanian di dunia yang diberi irigasi mencapai puncaknya 20 tahun yang lalu, dan sejak saat itu terus menurun.

Jika air menyembur dengan limpah dari setiap keran di rumah kita dan jika kita memiliki toilet yang higienis, yang dapat dengan mudah mengalirkan kotoran, rasanya sulit untuk percaya bahwa persediaan air di dunia ini sudah mulai habis. Akan tetapi, ingatlah bahwa hanya 20 persen manusia yang bisa menikmati kemewahan ini. Di Afrika, banyak wanita menghabiskan waktu hingga enam jam sehari untuk mengambil air—sering kali air yang tercemar. Wanita-wanita itu mengetahui dengan lebih jelas kenyataan keras ini: Air yang bersih dan aman jarang ada, dan semakin jarang.

Mampukah teknologi memecahkan masalah ini? Dapatkah sumber-sumber air digunakan dengan lebih hemat? Ke mana perginya semua air itu? Artikel-artikel berikut akan berupaya menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.

Ke Mana Perginya Semua Air Itu?
Cherrapunji, India, adalah salah satu tempat terbasah di dunia. Selama musim monsun, 9.000 milimeter curah hujan menyirami bukit-bukitnya, yang terletak di kaki Pegunungan Himalaya. Akan tetapi, ironisnya, Cherrapunji juga menderita kekurangan air.*

KARENA hanya ada sedikit tanaman yang menyerap air, guyuran hujan itu langsung mengalir begitu saja. Dua bulan setelah hujan monsun berlalu, persediaan air menipis. Bertahun-tahun yang lalu, Robin Clarke, dalam bukunya yang berjudul Water: The International Crisis, melukiskan Cherrapunji sebagai ”gurun terbasah di bumi”.

Ke arah hilir, tidak jauh dari Cherrapunji, terdapat Bangladesh, sebuah negeri yang berpenduduk padat dan berdataran rendah, yang harus menerima aliran air monsun dari perbukitan gundul India dan Nepal. Dalam tahun-tahun tertentu, dua pertiga wilayah Bangladesh dilanda banjir. Namun, setelah banjirnya surut, air Sungai Gangga menjadi sedikit, dan tanah di sana menjadi gersang. Lebih dari 100 juta orang di Bangladesh harus menghadapi siklus banjir dan kekeringan tahunan yang kejam ini. Yang membuat keadaan bertambah parah, air sumur di sana sudah terkontaminasi arsenik, yang mungkin telah meracuni jutaan orang.

Di Nukus, Uzbekistan, tidak jauh dari Laut Aral, yang jadi masalah bukan arsenik melainkan garam. Garam dalam bentuk lapisan putih dan keras menutupi tanaman kapas dan menghambat pertumbuhannya. Garam ini berasal dari bawah permukaan tanah yang kepenuhan air. Masalah ini, yang disebut salinisasi, bukanlah hal baru. Empat ribu tahun yang lalu, pertanian Mesopotamia merosot akibat hal yang sama. Irigasi yang terlalu banyak dan penyaluran air yang buruk menyebabkan garam di dalam tanah berakumulasi di permukaan. Untuk mendapatkan panenan yang memuaskan, semakin banyak air tawar harus digunakan. Akan tetapi, akhirnya tanah menjadi tidak dapat digunakan lagi—oleh generasi-generasi berikutnya.

Ke Mana Perginya Semua Air Itu?
Sayangnya, sering kali hujan turun dengan deras. Hal itu tidak hanya mengakibatkan banjir tetapi juga menyebabkan air mengalir dengan cepat dari daratan ke laut. Dan, beberapa tempat mendapatkan banyak hujan, sedangkan tempat-tempat lainnya hanya sedikit. Cherrapunji diketahui mendapat 26.000 milimeter curah hujan dalam periode 12 bulan, sedangkan Gurun Atacama di sebelah utara Cile bisa tidak mendapatkan hujan sama sekali dalam beberapa tahun.
Selain itu, di planet kita, kebanyakan orang tinggal di tempat-tempat yang tidak banyak airnya.

Sebagai contoh, relatif sedikit orang yang tinggal di daerah tropis Afrika dan Amerika Selatan yang curah hujannya banyak. Air Sungai Amazon yang besar mengalir ke Samudra Atlantik sebanyak 15 persen aliran air global tahunan, tetapi karena penduduk di daerah itu sedikit, sedikit juga air yang dikonsumsi. Di pihak lain, sekitar 60 juta orang tinggal di Mesir, yang curah hujannya sedikit, dan semua kebutuhan mereka akan air harus dipuaskan oleh Sungai Nil yang sudah berkurang airnya.

Bertahun-tahun yang lalu, perbedaan mencolok dalam persediaan air demikian tidak begitu menjadi masalah. Menurut sebuah survei pada tahun 1950, tidak ada daerah di bumi ini yang sangat kekurangan air. Namun, saat-saatnya air masih melimpah itu sudah berlalu. Di kawasan kering Afrika Utara dan Asia Tengah, jumlah air yang tersedia bagi setiap orang telah menurun hingga sepersepuluh persediaan air pada tahun 1950.

Selain peningkatan populasi dan curah hujan yang rendah di banyak daerah padat penduduk, permintaan akan air telah meningkat karena alasan-alasan lain. Kini, kemajuan dan kemakmuran di dunia ini tidak terlepas dari persediaan air yang dapat diandalkan.


AIR DIBUTUHKAN DI MANA SAJA
Hampir semua proses industri mengkonsumsi sejumlah besar air.
▪ Pemroduksian satu ton baja dapat mengkonsumsi 280 ton air.
▪ Memproduksi 1 kilogram kertas dapat membutuhkan air sebanyak 700 kilogram (jika pabrik tidak mendaur ulang airnya).
▪ Untuk membuat sebuah mobil, pabrik menggunakan air sebanyak 50 kali berat mobil itu.
Pertanian juga membutuhkan banyak air, khususnya jika ternak dibiakkan di kawasan semikering bumi ini.
▪ Untuk menghasilkan 1 kilogram steik daging sapi Kalifornia, dibutuhkan 20.500 liter air.
▪ Memproses satu ayam beku saja membutuhkan sedikitnya 26 liter air.


Permintaan Air yang Kian Meningkat
Jika Anda tinggal di negara industri maju, Anda bisa melihat bahwa banyak pabrik pasti terletak di sekitar sungai-sungai penting. Alasannya sederhana. Industri membutuhkan air untuk menghasilkan barang, apa saja, dari komputer hingga penjepit kertas. Pengolahan makanan juga menggunakan air dalam jumlah yang mencengangkan. Pembangkit listrik selalu membutuhkan air, dan terletak di tepi danau atau sungai.

Kebutuhan akan air dalam bidang pertanian bahkan lebih besar lagi. Di banyak tempat, curah hujan terlalu sedikit atau sangat tidak dapat diandalkan untuk menjamin panenan yang baik, sehingga irigasi tampaknya merupakan solusi ideal untuk memberi makan planet yang lapar ini. Akibat bergantung pada irigasi, pertanian mengambil sebagian besar persediaan air tawar di planet ini.

Selain itu, konsumsi air untuk keperluan rumah tangga telah meningkat. Selama tahun 1990-an, suatu jumlah yang mengejutkan, yaitu 900 juta penghuni kota, membutuhkan sanitasi yang layak dan air yang aman. Sumber air tradisional, seperti sungai dan sumur, tidak lagi memadai bagi kota-kota besar. Mexico City, misalnya, sekarang harus mengambil air melalui pipa dari tempat sejauh 125 kilometer dan memompanya melewati rangkaian pegunungan yang tingginya 1.200 meter di atas ketinggian kota. Situasi ini, kata Dieter Kraemer dalam laporannya yang berjudul Water: The Life-Giving Source, ”bagaikan seekor gurita; lengan-lengan yang terulur keluar dari kota untuk menjangkau air”.

Jadi, industri, pertanian, dan perkotaan selalu membutuhkan air. Dan, banyak dari permintaan mereka sudah terpenuhi, untuk saat ini, dengan mengambil air dari cadangan planet ini—air bawah tanah. Akuifer merupakan salah satu deposit utama air tawar. Namun, air itu bukannya tidak akan pernah habis. Deposit air seperti ini bagaikan uang di bank. Anda tidak bisa terus mengambilnya jika simpanan Anda tinggal sedikit. Cepat atau lambat, itu akan habis.


DI MANA AIR DIGUNAKAN?
Rumah Tangga 10%
Industri 25%
Pertanian 65%


Penggunaan dan Penyalahgunaan Air Bawah Tanah
Air bawah tanah adalah persediaan air yang kita peroleh dari sumur. Laporan Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa berjudul Groundwater: The Invisible and Endangered Resource mengkalkulasi bahwa setengah dari air yang digunakan untuk keperluan rumah tangga dan untuk irigasi berasal dari sumber ini. Karena air bawah tanah biasanya lebih sedikit terkena polusi daripada air permukaan, air itu digunakan untuk minum, baik di kota maupun di desa. Jika diambil secara tidak berlebihan, persediaan air bawah tanah akan tetap konstan, karena secara teratur diperbarui oleh hujan yang perlahan-lahan meresap ke reservoir bawah tanah ini. Namun, selama puluhan tahun, manusia telah menyedot lebih banyak air daripada yang dapat diperbarui oleh siklus air alami.

Hasilnya, level air bawah tanah semakin menjauh dari permukaan, dan penggaliannya menjadi lebih mahal atau tidak praktis. Sewaktu sumur menjadi kering, akibatnya adalah bencana terhadap ekonomi dan manusia. Di India, tragedi semacam ini sudah mulai terjadi. Karena makanan bagi miliaran orang yang tinggal di dataran tengah Cina dan India bergantung pada air bawah tanah, prospeknya cukup memprihatinkan.

Pengurasan persediaan air bawah tanah diperburuk dengan adanya kontaminasi. Pupuk pertanian, limbah manusia dan binatang, serta bahan kimia industri meresap ke air bawah tanah. ”Begitu akuifer terkontaminasi, perbaikannya dapat berlangsung lama dan mahal, bahkan bisa jadi tidak mungkin dilakukan,” jelas sebuah laporan yang diterbitkan oleh Organisasi Meteorologi Dunia. ”Penetrasi polutan secara perlahan ke air bawah tanah sering disebut ’bom waktu kimia’. Proses itu mengancam umat manusia.”

Yang paling ironis adalah bahwa air yang dipompa ke luar dari akuifer bawah tanah malah akhirnya merusak tanah yang semestinya diairi. Sekarang, banyak tanah irigasi di negeri-negeri kering atau semikering di dunia menderita salinisasi. Di India dan Amerika Serikat—dua negara penghasil makanan terbesar dunia—25 persen tanah irigasinya telah menjadi sangat rusak.
Rata Penuh
Tidak Boros, Tidak Kekurangan
Tindakan-tindakan untuk melestarikan air membutuhkan kemauan maupun cara. Apakah ada alasan yang masuk akal untuk percaya bahwa air yang berharga di planet kita ini akan terus ada bagi generasi-generasi masa depan? Artikel terakhir kami akan menjawab pertanyaan ini.
Appeared in Awake! June 22, 2001




Jutaan galon air dibuang-buang
akibat bocornya pipa saluran air
dan dibiarkannya air mengalir
terus dari keran



________
[Catatan Kaki]
* Lihat artikel ”Cherrapunji—Salah Satu Tempat Terbasah di Dunia”, dalam Sedarlah! 8 Mei 2001.