Hari ini hidupku dimulai. Orang tua ku tidak tahu, tapi itu sudah pasti adalah aku. Dan aku tumbuh menjadi seorang gadis. Aku akan punya rambut pirang dan mata biru. Hanya segala sesuatunya belum tuntas walaupun demikian, bener lho! aku suka bunga.
Mulut ku sekarang baru mulai terbuka. Coba pikir, dalam satu tahun atau lebih, aku akan tertawa dan kemudian berbicara. Aku tahu apa yang akan ku katakan pertama kali adalah: MAMA.
Hari ini jantungku mulai berdetak dengan sendirinya. Mulai sekarang, hidupku yang lemah terus berlanjut tanpa henti dan beristirahat seraya tahun-tahun yang lelah terbayangkan. Hidupku begitu ringkih untuk berhenti dan berakhir.
Sedikit demi sedikit setiap hari. Lengan dan kaki saya mulai berbentuk. Tapi aku harus menunggu lama sebelum kaki-kaki kecil itu akan mengangkat saya ke pelukan ibuku, sebelum lengan kecil itu mampu mengumpulkan bunga-bunga dan memeluk ayahku.
Jari kecil mulai terbentuk pada tangan saya. Lucu betapa kecilnya mereka! Aku akan mampu membelai rambut ibuku dengannya.
Rambut saya tumbuh. Halus dan cerah dan mengkilat. Aku jadi ingin tahu, bagaimana ya! rambut ibu?
Saya baru saja dapat melihat. Namun gelap di sekeliling saya. Ketika ibu membawa saya ke Dunia yang penuh dengan sinar matahari dan bunga. Yang saya inginkan lebih dari apa pun adalah melihat ibuku. Bagaimana dengan kamu, ibu!
Aku ingin tahu apakah ibu mendengar bisikan hatiku? Beberapa anak yang lahir
Tidak lama setelah Stephen lahir, Florence mulai membacakan cerita dan berbicara kepada putranya itu pada setiap kesempatan. Seraya ia bertambah besar, mereka bermain, pergi berjalan-jalan, belajar berhitung, dan bernyanyi bersama. ”Bahkan sewaktu memandikannya, kami bermain,” kenangnya. Jerih payahnya ternyata tidak sia-sia.
Sewaktu masih berusia belasan tahun, Stephen lulus dengan pujian dari University of Miami. Dua tahun kemudian, pada usia 16 tahun, ia tamat dari sekolah hukum, dan menurut biografinya, ia kemudian menjadi pengacara termuda di Amerika Serikat. Ibunya, Dr. Florence Baccus—seorang mantan guru dan pensiunan guru pembimbing—telah mencurahkan banyak waktu untuk melakukan penelitian tentang pendidikan bagi anak-anak sejak dini. Ia yakin bahwa perhatian dan stimulasi, atau rangsangan, yang ia berikan kepada bayinya mengubah masa depan si anak.
dapat mempengaruhi perkemba-
ngan otak seorang anak
Yang sering diperdebatkan oleh para psikolog anak akhir-akhir ini adalah faktor apa yang berperan dalam perkembangan seorang anak, apakah itu tabiat bawaan ataukah cara ia diasuh dan dilatih. Kebanyakan peneliti yakin bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh perpaduan dua faktor itu.Bermain merangsang kreativitas
dan memperkembangkan keteram
pilan seorang anak
Menanggapi hasil riset tersebut, banyak orang tua tidak hanya berupaya keras untuk mendaftarkan anak-anak mereka ke kelompok bermain yang bagus tetapi juga rela menghabiskan banyak dana untuk kursus musik dan seni. Ada yang percaya bahwa jika seorang anak belajar segalanya, ia kelak dapat melakukan segalanya. Program pendidikan khusus dan kelompok bermain sedang menjamur. Beberapa orang tua rela berbuat apa saja sebisa mereka agar anak mereka lebih unggul daripada anak lain.
Apakah jerih lelah seperti ini benar-benar ada gunanya? Meskipun pola asuh seperti itu kelihatannya memberikan kesempatan yang tak terbatas kepada seorang anak, dalam banyak kasus, anak-anak ini kehilangan pengalaman belajar yang sangat penting dari permainan yang spontan. Permainan yang spontan, kata para pendidik, merangsang kreativitas dan memperkembangkan keterampilan sosial, mental, dan emosi seorang anak.
Beberapa pakar perkembangan anak percaya bahwa permainan yang diatur orang tua menciptakan anak-anak bermasalah model baru—anak-anak yang jadwalnya terlalu diatur secara ekstrem sehingga menjadi stres dan labil secara emosi, sulit tidur, dan mengeluh nyeri dan sakit. Seorang psikolog mengamati bahwa sewaktu anak-anak itu beranjak remaja, banyak yang belum belajar mengembangkan keterampilan mengatasi masalah dan ”lelah secara fisik dan emosi, antisosial dan suka memberontak”.
Oleh karena itu, banyak orang tua menghadapi dilema. Mereka ingin membantu anak-anak mereka mencapai potensi sepenuhnya. Namun, mereka dapat melihat bahwa tidak bijaksana untuk memaksa anak kecil dengan terlalu keras dan terlalu dini. Adakah cara untuk menemukan keseimbangan yang masuk akal? Apa kesanggupan yang anak-anak miliki untuk berkembang, dan bagaimana hal itu dapat ditingkatkan? Apa yang dapat orang tua lakukan untuk memastikan agar anak-anak berhasil? Artikel-artikel berikut akan membahas pertanyaan-pertanyaan ini.
Kemajuan dalam teknologi pemindaian otak memungkinkan para ilmuwan mempelajari perkembangan otak secara lebih terperinci dibandingkan dengan yang sudah-sudah. Penelitian seperti itu memperlihatkan bahwa tahun-tahun pertama dalam kehidupan seorang anak adalah saat yang penting untuk memperkembangkan fungsi otak yang diperlukan untuk menangani informasi, menyatakan emosi dengan wajar, dan mahir berbahasa. ”Sambungan-sambungan dalam otak terbentuk pada kecepatan yang sangat pesat pada tahun-tahun awal sewaktu susunan otak dibentuk melalui interaksi dari waktu ke waktu antara informasi genetis dan rangsangan dari lingkungan,” lapor majalah Nation. Para ilmuwan percaya bahwa kebanyakan sambungan ini, yang disebut sinapsis, dibuat pada beberapa tahun pertama dalam kehidupan. Itulah waktunya ”pembentukan bakal sambungan saraf bayi yang mempengaruhi kecerdasan, kesadaran diri, kesanggupan untuk percaya dan motivasi untuk belajar”, menurut Dr. T. Berry Brazelton, seorang pakar dalam bidang perkembangan anak.
Ukuran, struktur, dan fungsi otak bayi bertumbuh pesat selama beberapa tahun pertama. Dalam lingkungan yang penuh stimulasi dan pengalaman belajar, sambungan-sambungan sinapsis berlipat ganda, menciptakan jaringan jalur saraf yang luas dalam otak. Jalur-jalur ini memungkinkan seseorang berpikir, belajar, dan bernalar.
Ada kemungkinan bahwa semakin banyak rangsangan yang didapat otak bayi, semakin banyak sel saraf yang dirangsang dan semakin banyak sambungan yang terbentuk di antara sel-sel itu. Sungguh menarik, rangsangan ini tidak hanya diperoleh dengan belajar mengenal fakta, angka, atau bahasa. Para ilmuwan telah mendapati bahwa rangsangan emosi juga dibutuhkan. Penelitian menunjukkan bahwa bayi-bayi yang tidak digendong dan disentuh serta tidak diajak bermain-main atau tidak dirangsang secara emosi akan membentuk lebih sedikit sambungan sinapsis.
Apakah Melatih Anak Mempengaruhi Potensinya?
Jadi, tampaknya apa yang dialami seseorang sewaktu bayi memiliki pengaruh yang pasti pada kehidupannya setelah ia dewasa. Apakah orang itu tangguh atau ringkih, apakah ia memiliki kesanggupan berpikir abstrak atau kurang memiliki kesanggupan itu, dan apakah ia menjadi orang yang berempati atau tidak, dapat dipengaruhi oleh pengalaman masa kecilnya. Jadi, peranan orang tua khususnya penting. ”Salah satu aspek paling penting dalam pengalaman masa kecil ini,” kata seorang dokter spesialis anak, ”adalah figur orang tua yang tanggap.”
Hal itu mungkin terdengar sangat mudah. Cukup dengan mengasuh dan merawat anak Anda, maka mereka akan tumbuh sejahtera. Tetapi sayangnya, seperti yang dirasakan sendiri oleh para orang tua, memahami cara membesarkan anak tidak selalu mudah. Cara membesarkan anak dengan efektif tidak otomatis dapat dikuasai orang tua.
Menurut sebuah penelitian, 25 persen orang tua yang dimintai pendapatnya tidak tahu apakah yang mereka lakukan terhadap anak-anak mereka dapat meningkatkan atau menghambat kecerdasan, percaya diri, dan minatnya untuk belajar. Hal ini menimbulkan pertanyaan: Apa cara terbaik untuk memperkembangkan potensi anak Anda? Dan, bagaimana Anda dapat menyediakan suasana yang tepat? Mari kita lihat. C-link berikut "Peranan Anda sebagai Orang Tua"
