Jumat, 19 Februari 2010

Ada Apa dengan Cuaca?

POLA CUACA cuaca yang aneh telah memporak-porandakan tempat-tempat di seluruh dunia. Apakah ini berarti bahwa ada yang salah dengan cuaca?

What’s Happening to
THE WEATHER?


Cuaca—Apa Ada yang Salah?

"”APABILA dua orang Inggris bertemu, hal pertama yang mereka bicarakan ialah cuaca.” Demikianlah kelakar penulis kondang Samuel Johnson. Namun, dalam beberapa tahun belakangan ini, cuaca bukan lagi sekadar pembuka percakapan. Hal itu telah menjadi masalah yang sangat memprihatinkan bagi orang-orang di seluruh dunia. Mengapa? Karena cuaca—yang selama ini memang tidak terprediksi—tampaknya semakin tidak menentu.

Misalnya, selama musim panas 2002, Eropa dihantam hujan badai yang luar biasa hebat. Malah, badai itu mengakibatkan apa yang digambarkan sebagai ”banjir terparah di Eropa Tengah dalam kurun waktu lebih dari seabad”. Perhatikan laporan berita berikut ini:

AUSTRIA: ”Provinsi yang paling terimbas oleh hujan badai yang hebat adalah Salzburg, Carinthia, dan Tirol. Banyak jalan yang terendam lumpur, dengan timbunan lumpur dan puing setinggi 15 meter. Di stasiun Südbahnhof, Wina, sebuah badai guntur menyebabkan kecelakaan kereta yang mencederai beberapa orang.”

REPUBLIK CEKO: ”Peristiwa itu merupakan pengalaman yang mengerikan bagi Praha. Tetapi, di provinsi-provinsi, tragedi tersebut jauh lebih parah. Sebanyak 200.000 orang telah meninggalkan rumah mereka. Kota-kota seluruhnya ditenggelamkan oleh banjir.”

PRANCIS: ”Dua puluh tiga orang tewas, 9 hilang, dan ribuan sangat terimbas . . . Tiga orang tewas disambar petir selama badai pada hari Senin. . . . Seorang pemadam kebakaran tewas setelah menyelamatkan sepasang orang yang berada dalam keadaan gawat; mereka ada dalam mobil yang dihanyutkan oleh air."

Flooding in Germany

Flooding in GermanyPada


JERMAN: ”Sepanjang sejarah Republik Federal, belum pernah kota-kota dan desa-desa dievakuasi sedemikian rupa seperti yang sekarang mereka alami selama ’banjir abad’ ini. Puluhan ribu penduduk telah meninggalkan kampung halaman mereka. Kebanyakan orang melakukan hal itu sebagai tindakan pencegahan. Beberapa orang diselamatkan dari banjir pada menit-menit terakhir oleh perahu atau helikopter.”

RUMANIA: ”Sejak pertengahan Juli, sekitar selusin orang telah kehilangan nyawa mereka karena badai.”

RUSIA: ”Setidaknya 58 orang tewas di pesisir Laut Mati . . . Sekitar 30 mobil dan bus masih berada di dasar laut, tanpa ada kemungkinan untuk dicari semenjak dikeluarkan peringatan baru tentang badai."

Tidak Terbatas di Eropa

Pada bulan Agustus 2002, harian Jerman Süddeutsche Zeitung melaporkan, ”Musim baru berupa hujan dan badai hebat di Asia, Eropa, dan Amerika Selatan telah menimbulkan kerusakan yang luas. Pada hari Rabu, setidaknya 50 orang tewas dalam tanah longsor di Nepal. Sebuah taifun menewaskan delapan orang di Cina bagian selatan dan menimbulkan badai hujan yang hebat di Cina bagian tengah. Banjir-banjir di Cina mengakibatkan Sungai Mekong mencapai permukaan air tertinggi dalam 30 tahun, menenggelamkan lebih dari 100 rumah di Thailand bagian timur laut. . . . Di Argentina, setidaknya lima orang tenggelam setelah hujan lebat. . . . Lebih dari seribu orang telah tewas karena badai musim panas di Cina.”

Meskipun air menghantui banyak bagian dunia, Amerika Serikat mengalami kekeringan yang parah. Dilaporkan, ”Ada keprihatinan nasional menyangkut sumur-sumur yang airnya menyusut dan kering, aliran air terendah sepanjang sejarah yang terjadi di mana-mana, dan kebakaran besar yang jumlahnya dua kali lipat dari yang normal selama musim itu. Karena kerusakan padang rumput dan panenan, kekurangan pasokan air minum, kebakaran besar dan badai debu, para pakar memprediksikan bahwa dampak ekonomi yang merugikan akibat kekeringan pada tahun 2002 akan mencapai miliaran dolar.”

Sebagian Afrika sebelah utara telah mengalami kekeringan yang menghancurkan sejak tahun 1960-an. Menurut laporan, ”curah hujan dua puluh hingga empat puluh sembilan persen lebih rendah ketimbang pada paruh pertama abad ke-20, mengakibatkan kelaparan dan kematian di mana-mana”.

Pola cuaca El Niño—dipicu oleh menghangatnya perairan di Pasifik bagian timur—secara berkala menyebabkan banjir dan gangguan cuaca lainnya di Amerika Utara dan Selatan. Organisasi berita CNN melaporkan bahwa El Niño tahun 1983/84 ”bertanggung jawab atas lebih dari 1.000 kematian, menyebabkan bencana yang berkaitan dengan cuaca di hampir setiap benua dan mengakibatkan kerugian harta benda dan ternak senilai total 10 miliar dolar AS”. Fenomena ini telah terjadi secara teratur (kira-kira setiap empat tahun) semenjak hal itu pertama kali diidentifikasi pada abad ke-19. Tetapi, beberapa pakar yakin bahwa ”El Niño telah meningkatkan jadwalnya” dan bahwa ia akan ”lebih sering muncul” di masa depan.

Sebuah artikel yang diterbitkan oleh Badan Antariksa AS memberikan jaminan ini, ”Kebanyakan cuaca ’aneh’ yang telah kita rasakan—misalnya, musim gugur yang lebih hangat daripada biasanya atau musim dingin yang sangat basah—disebabkan oleh perubahan cuaca regional yang normal.” Meskipun demikian, terdapat tanda-tanda bahwa suatu problem serius mungkin ada. Organisasi aktivis lingkungan Greenpeace memprediksikan, ”Pola cuaca yang berbahaya yang mencakup hurikan (angin pusar dengan kecepatan luar biasa di daerah tropis) dan hujan lebat yang lebih dahsyat akan terus menimbulkan kerusakan hebat di seantero planet. Lebih banyak kekeringan dan banjir yang hebat akan secara harfiah mengubah wajah Bumi, menyebabkan hilangnya daerah pantai dan rusaknya hutan.” Apakah pendapat semacam itu beralasan? Jika demikian, apa penyebab ”pola cuaca yang berbahaya ini”?


* See the article "What Is El Niño?" in the March 22, 2000, issue of Awake!



    Ada Apa dengan Cuaca?

    “Banjir tragis dan badai hebat yang kini kita alami akan menjadi lebih sering.”

    —THOMAS LOSTER, A WEATHER RISKS SPECIALIST.

    APA ada yang benar-benar salah dengan cuaca? Banyak orang khawatir bahwa memang ada yang salah. Meteorolog Dr. Peter Werner dari Institut Penelitian Dampak Iklim Potsdam mengatakan, ”Apabila kita mengamati cuaca global—curah hujan, banjir, kemarau, badai yang ekstrem—dan memperhatikan perkembangannya, kita dapat dengan tepat mengatakan bahwa ekstrem ini telah meningkat empat kali lipat selama 50 tahun terakhir.”

    Banyak orang merasa bahwa pola cuaca yang tidak lazim ini adalah bukti pemanasan global—yakni efek rumah kaca yang meningkat tanpa terkendali. Lembaga Perlindungan Lingkungan AS menjelaskan, ”Efek rumah kaca adalah peningkatan temperatur yang dialami Bumi karena gas-gas tertentu di atmosfer (misalnya: uap air, karbon dioksida, nitrit oksida, dan metana) memerangkap energi dari matahari. Tanpa gas-gas ini, panas akan hilang kembali ke angkasa luar dan temperatur rata-rata Bumi menjadi sekitar 33°C lebih dingin.”

    Akan tetapi, banyak orang berpendapat bahwa manusia tanpa sengaja telah merusak proses alami ini. Sebuah artikel dalam Earth Observatory, publikasi on-line dari Badan Antariksa AS mengatakan, ”Selama puluhan tahun, banyak pabrik dan mobil buatan manusia telah memuntahkan miliaran ton gas rumah kaca ke atmosfer . . . Banyak ilmuwan waswas bahwa peningkatan konsentrasi gas rumah kaca telah menghambat keluarnya radiasi termal tambahan dari Bumi. Akibatnya, gas-gas ini memerangkap panas yang berlebihan dalam atmosfer Bumi seperti halnya kaca depan memerangkap energi matahari yang memasuki sebuah mobil.”

    Pihak yang skeptis menandaskan bahwa hanya persentase kecil emisi gas rumah kaca yang disebabkan manusia. Akan tetapi, Dewan Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim (IPPC), sebuah kelompok penelitian yang disponsori oleh Organisasi Meteorologi Dunia dan Program Lingkungan Hidup Perserikatan Bangsa-Bangsa, melaporkan, ”Ada bukti baru yang lebih kuat bahwa sebagian besar pemanasan yang diamati selama 50 tahun terakhir disebabkan oleh aktivitas manusia.”

    Klimatolog Pieter Tans dari Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional AS mengatakan, ”Jika saya harus menyebutkan angkanya, akan saya katakan bahwa 60 persen adalah kesalahan kita . . . Sisanya yang 40 persen berasal dari sebab-sebab alami."

    Ada bukti baru yang lebih kuat bahwa sebagian besar pemanasan yang diamati selama 50 tahun terakhir disebabkan oleh aktivitas manusia

    Konsekuensi yang Mungkin Timbul karena Pemanasan Global

    Kalau begitu, apa akibat mencolok penumpukan gas rumah kaca yang disebabkan manusia? Kebanyakan ilmuwan kini setuju bahwa bumi memang semakin hangat. Seberapa drastiskah peningkatan temperatur ini? Laporan IPCC 2001 mengatakan, ”Temperatur permukaan global telah meningkat antara 0,4 dan 0,8°C sejak akhir abad ke-19.” Banyak peneliti yakin bahwa peningkatan kecil ini dapat menjelaskan terjadinya perubahan dramatis dalam cuaca kita.

    Memang, sistem cuaca bumi luar biasa rumit, dan para ilmuwan tidak dapat menyatakan dengan pasti apa saja—jika ada—dampak pemanasan global. Akan tetapi, banyak orang yang percaya bahwa akibat pemanasan global, telah terjadi peningkatan curah hujan di Belahan Bumi Utara, kemarau di Asia dan Afrika, dan eskalasi peristiwa El Niño di Pasifik.

    “Apakah Pemanasan Global Membahayakan Kesehatan”

    Sebuah artikel dalam Scientific American mengemukakan pertanyaan yang menarik perhatian ini. Artikel itu memprediksikan bahwa pemanasan global ”akan meningkatkan jumlah kasus dan penyebaran banyak gangguan medis yang serius”. Contohnya, di beberapa tempat ”jumlah kematian yang berkaitan dengan gelombang panas diperkirakan akan berlipat ganda pada tahun 2020”.

    Yang lebih tersamar ialah peranan pemanasan global dalam penyakit menular. ”Penyakit yang ditularkan nyamuk diperkirakan semakin meluas”, karena nyamuk ”lebih cepat berproliferasi dan lebih sering menggigit seraya udara menjadi lebih hangat. . . . Kemudian, seraya seluruh wilayah memanas, nyamuk dapat berkembang ke wilayah yang sebelumnya tidak bisa ia tinggali, membawa penyakit bersamanya”.

    Akhirnya, ada dampak banjir dan kemarau—kedua-duanya dapat mengakibatkan pencemaran persediaan air. Jelaslah, ancaman pemanasan global harus ditanggapi dengan serius.

    NASA photo of the earth's atmosphere

    Efek rumah kaca menyebabkan panas tertimbun dalam atmosfer, bukannya lepas ke angkasa

    Dibutuhkan—Solusi Global

    Karena banyak orang memandang problem ini sebagai ulah manusia, tidak bisakah manusia memecahkan problem ini? Sejumlah komunitas bahkan telah memberlakukan hukum untuk membatasi emisi polusi dari mobil dan pabrik. Akan tetapi, upaya semacam itu—walaupun patut dipuji—sedikit atau tidak ada pengaruhnya. Polusi merupakan problem global, maka solusinya pun harus global! Pada tahun 1992, digelar Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Bumi di Rio de Janeiro. Sepuluh tahun kemudian, di Johannesburg, Afrika Selatan, KTT Dunia tentang Pembangunan secara Lestari diselenggarakan. Sekitar 40.000 delegasi menghadiri pertemuan pada tahun 2002 ini, termasuk sekitar 100 pemimpin nasional.

    Konferensi demikian banyak berperan untuk menghasilkan konsensus umum di kalangan ilmuwan. Surat kabar Jerman Der Tagesspiegel menjelaskan, ”Meskipun kebanyakan ilmuwan pada waktu itu [1992] meragukan efek rumah kaca, sekarang hal itu hampir tidak dipertanyakan lagi.” Meskipun begitu, menteri lingkungan hidup Jerman, Jürgen Trittin, mengingatkan kita bahwa solusi nyata atas problem ini masih belum ditemukan. ”Oleh karena itu, [KTT] di Johannesburg hendaknya bukan hanya KTT kata-kata,” tandasnya, ”melainkan juga KTT tindakan."

    Dapatkah Kerusakan Lingkungan Dihentikan?

    Pemanasan global hanyalah satu dari banyak tantangan lingkungan yang dihadapi umat manusia. Mengambil tindakan yang efektif mungkin lebih mudah dikatakan daripada dilakukan. ”Mengingat sekarang kita akhirnya menghadapi kerusakan mengerikan yang telah kita timbulkan atas lingkungan kita,” tulis etolog Inggris Jane Goodall, ”kita sedang mengerahkan semua sumber daya kita yang tersedia guna menemukan solusi teknologi.” Tetapi, ia memperingatkan, ”Teknologi saja tidak cukup. Kita harus melibatkan hati kita juga."

    Pertimbangkanlah kembali problem pemanasan global. Langkah-langkah antipolusi biayanya tinggi; sering kali, bangsa-bangsa yang miskin benar-benar tidak mampu membiayainya. Oleh karena itu, beberapa pakar khawatir bahwa pembatasan energi akan menyebabkan industri-industri pindah ke negeri yang lebih miskin agar pengoperasiannya lebih menguntungkan. Dengan demikian, bahkan para pemimpin yang memiliki niat terbaik mengalami dilema. Jika mereka melindungi keuntungan ekonomi bangsa mereka, lingkungan mengalami kerusakan. Jika mereka memprioritaskan perlindungan lingkungan, perekonomian mereka berada dalam bahaya.

    Oleh karena itu, Severn Cullis-Suzuki, dari dewan penasihat KTT Dunia, berpendapat bahwa perubahan harus datang melalui tindakan individual, dengan mengatakan, ”Perubahan lingkungan yang nyata bergantung pada kita. Kita tidak dapat bergantung pada para pemimpin kita. Kita harus berfokus pada apa tanggung jawab kita sendiri dan bagaimana kita mewujudkan perubahan ini.”

    Sangatlah masuk akal untuk mengharapkan orang-orang bertindak dengan merespek lingkungan. Tetapi, menggerakkan orang untuk mengadakan perubahan yang dibutuhkan dalam gaya hidup mereka tidaklah semudah itu. Sebagai gambaran: Kebanyakan orang setuju bahwa mobil turut menyebabkan pemanasan global. Oleh karena itu, seseorang mungkin ingin mengurangi frekuensi mengemudi atau sama sekali tidak menggunakan mobil. Tetapi, hal itu mungkin sangat tidak begitu mudah untuk dilakukan. Sebagaimana belum lama ini ditunjukkan oleh Wolfgang Sachs dari Institut Iklim, Lingkungan, dan Energi Wuppertal, ”semua tempat yang berperan dalam kehidupan sehari-hari (tempat kerja, taman kanak-kanak, sekolah, atau pusat perbelanjaan) letaknya begitu berjauhan sehingga Anda tidak dapat bepergian tanpa mobil. . . . Persoalannya bukan apakah saya secara pribadi menginginkan sebuah mobil atau tidak. Sebagian besar orang sama sekali tidak punya pilihan”.

    Beberapa ilmuwan, seperti Profesor Robert Dickinson dari Fakultas Sains Bumi dan Atmosfer di Georgia Institute of Technology, waswas bahwa mungkin sudah sangat terlambat untuk menyelamatkan bumi dari konsekuensi pemanasan global. Dickinson yakin bahwa bahkan sekalipun polusi tidak ada lagi hari ini juga, dampak penyalahgunaan atmosfer di masa lalu akan terus ada setidaknya selama 100 tahun lagi!

    Karena baik pemerintahan maupun individu tidak dapat menuntaskan problem lingkungan ini, siapa yang dapat? Sejak zaman dahulu, orang telah menengadah ke surga untuk mencari pertolongan dalam mengendalikan cuaca. Tidak soal betapa naifnya upaya semacam itu, mereka menyingkapkan sebuah kebenaran dasar: Umat manusia membutuhkan bantuan ilahi untuk memecahkan problem ini.

    Pollution caused by cars and factories

    Manusia telah melepaskan miliaran ton polutan ke udara, mempercepat efek rumah kaca


    Appeared in Awake! August 8, 2003

    Salinan © 2010 from Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania. All rights reserved.