Selasa, 06 Oktober 2009

Apakah Prasangka bakal Berakhir

Wajah Prasangka

Prasangka sungguh susah diusir, dikeluarkan lewat pintu, masuk lagi lewat jendela.”—Frederik Agung, Raja Prusia.

RAJESH tinggal di Paliyad, sebuah desa di India. Seperti orang lainnya dari golongan paria, ia harus berjalan 15 menit untuk mengangkut air ke rumah keluarganya. ”Kami tidak diperbolehkan menggunakan keran di desa yang digunakan oleh kasta yang lebih tinggi,” jelasnya. Semasa bersekolah, Rajesh dan teman-temannya bahkan tidak boleh menyentuh bola sepak anak-anak lain. ”Jadi, kami bermain dengan batu,” katanya.

Saya merasa orang-orang membenci saya, tetapi saya tidak tahu apa alasannya,” kata Christina, seorang remaja Asia yang tinggal di Eropa. ”Putus asa sekali rasanya,” ia melanjutkan. ”Biasanya saya langsung menyendiri, tetapi itu pun tidak membantu.”

Saya pertama kali mengenal prasangka pada usia 16 tahun,” kata Stanley, dari Afrika Barat. ”Orang-orang yang sama sekali tidak saya kenal menyuruh saya keluar dari kota. Rumah beberapa orang dari suku saya dibakar. Tabungan ayah saya di bank dibekukan. Akibatnya, saya mulai membenci suku yang mendiskriminasi kami.”

Rajesh, Christina, dan Stanley adalah korban prasangka, dan mereka tidak sendirian. ”Sampai hari ini, ratusan juta manusia masih menderita akibat rasisme, diskriminasi, xenofobia (takut yang berlebihan pada orang asing) dan pengucilan,” jelas Koichiro Matsuura, direktur jenderal Organisasi Pendidikan, Sains, dan Kebudayaan PBB (UNESCO). ”Perlakuan yang tidak manusiawi seperti itu, yang didukung oleh ketidaktahuan dan prasangka, telah memicu pertikaian dalam negeri di banyak negara dan menyebabkan penderitaan manusia yang sangat besar.”

Kalau Anda belum pernah menjadi korban prasangka, Anda mungkin sulit memahami betapa pedih rasanya. ”Ada yang diam saja. Ada juga yang membalas prasangka dengan prasangka,” kata buku Face to Face Against Prejudice (Berhadapan Muka dengan Prasangka). Dengan cara apa saja prasangka merusak kehidupan?

Jika Anda termasuk dalam suatu kelompok minoritas, Anda mungkin mendapati bahwa orang-orang menghindari Anda, melirik Anda dengan sikap bermusuhan, atau mengeluarkan kata-kata yang menjelek-jelekkan kebudayaan Anda. Peluang kerja mungkin langka kecuali Anda mau menerima pekerjaan rendahan yang tidak mau dikerjakan oleh siapa pun. Mungkin Anda sulit mendapatkan tempat tinggal yang layak huni. Anak-anak Anda mungkin merasa dikucilkan dan dijauhi oleh teman-teman sekolah.

Lebih parah lagi, prasangka dapat memicu orang untuk melakukan kekerasan atau bahkan pembunuhan. Benar, halaman-halaman sejarah sarat dengan contoh-contoh yang mengenaskan tentang kekerasan akibat prasangka—termasuk pembantaian massal, genosida, dan apa yang disebut sapu bersih etnik.


Prasangka dari Abad ke Abad

Orang-orang Kristen pernah menjadi sasaran utama prasangka. Misalnya, tak lama setelah kematian Yesus, mereka menjadi sasaran suatu gelombang penganiayaan yang kejam. (Kisah 8:3; 9:1, 2; 26:10, 11) Dua abad kemudian, orang-orang yang mengaku Kristen dianiaya dengan kejam. ”Jika timbul suatu wabah,” tulis Tertulian, penulis dari abad ketiga, ”semua orang serempak berteriak, ’Lemparkan orang-orang Kristen ke Singa.’”

Namun, sejak abad ke-11, dengan adanya Perang Salib, orang Yahudi menjadi kaum minoritas yang tidak disenangi di Eropa. Ketika wabah penyakit bubo melanda seluruh benua itu, membunuh sekitar seperempat populasi dalam waktu beberapa tahun saja, orang Yahudi langsung dipersalahkan, karena mereka sudah dibenci oleh banyak orang. ”Wabah tersebut menjadi dalih kebencian ini, dan kebencian ini menjadi dasar bagi orang-orang yang sedang ketakutan dengan wabah itu untuk mencari kambing hitam,” tulis Jeanette Farrell dalam bukunya Invisible Enemies (Musuh yang Tidak Kelihatan).

Akhirnya, seorang pria Yahudi di sebelah utara Prancis ”mengaku” di bawah penyiksaan bahwa orang Yahudilah penyebab wabah tersebut dengan cara meracuni sumur-sumur. Tentu saja, pengakuan ini tidak benar, tetapi keterangan itu disebarkan sebagai kebenaran. Segera, seluruh komunitas Yahudi dibantai di Spanyol, Prancis, dan Jerman. Tampaknya tidak seorang pun memperhatikan biang keladi sesungguhnya, yakni tikus. Dan, tidak banyak orang yang memperhatikan bahwa orang Yahudi juga mati akibat wabah ini!

Kalau api prasangka sudah dinyalakan, itu bisa membara selama berabad-abad. Pada pertengahan abad ke-20, Adolf Hitler mengobarkan sentimen anti-Yahudi dengan menyalahkan orang Yahudi sebagai penyebab kekalahan Jerman dalam Perang Dunia I. Pada akhir Perang Dunia II, Rudolf Hoess—komandan Nazi dari kamp konsentrasi Auschwitz—mengakui, ”Pelatihan militer dan ideologis kami menanamkan gagasan bahwa kami harus melindungi Jerman dari orang Yahudi.” Untuk ”melindungi Jerman”, Hoess mengawasi pemusnahan sekitar 2.000.000 orang, yang kebanyakan adalah orang Yahudi.

Sungguh menyedihkan, meski puluhan tahun telah berlalu, aksi kekejaman tak kunjung berakhir. Pada tahun 1994, misalnya, timbul kebencian antara suku Tutsi dan suku Hutu, yang menewaskan sedikitnya setengah juta orang. ”Tidak ada tempat berlindung,” lapor majalah Time. ”Darah membasahi lorong-lorong gereja, tempat banyak orang mencari perlindungan. . . . Pertikaian dilakukan dalam jarak dekat, sangat sadis, dan sangat mengerikan, sedemikian bergelimang darah sampai-sampai orang yang lolos hanya bisa menatap hampa dan membisu.” Anak-anak pun tidak luput dari kekerasan yang keji ini. ”Rwanda adalah daerah yang kecil,” komentar seorang penduduk. ”Tapi, di sinilah semua kebencian di dunia seolah-olah terkumpul.”

Konflik yang menyelimuti pecahnya bekas Yugoslavia mengakibatkan tewasnya lebih dari 200.000 orang. Para tetangga yang tadinya hidup dengan damai selama bertahun-tahun kini saling membunuh. Ribuan wanita diperkosa, dan jutaan orang diusir dari rumah mereka atas dasar kebijakan brutal sapu bersih etnik.

Meski kebanyakan prasangka tidak mengakibatkan pembunuhan, hal itu selalu memecah-belah orang dan menanamkan kebencian. Walaupun ada globalisasi, rasisme dan diskriminasi ras ”tampaknya kian meningkat di kebanyakan bagian dunia”, kata sebuah laporan UNESCO baru-baru ini.

Adakah yang dapat dilakukan untuk menyingkirkan prasangka? Untuk menjawab pertanyaan itu, kita harus mengetahui bagaimana prasangka bisa sampai berakar dalam pikiran dan hati.


Perilaku Orang yang Berprasangka

Dalam bukunya The Nature of Prejudice (Kodrat Prasangka), Gordon W. Allport menjabarkan lima jenis perilaku yang ditimbulkan oleh prasangka. Orang yang berprasangka biasanya memperlihatkan salah satu atau lebih perilaku di bawah ini.

1. Komentar negatif. Ia melontarkan kata-kata yang menghina kelompok yang ia tidak sukai.

2. Sikap menghindar. Ia menjauhi siapa pun yang termasuk dalam kelompok itu.

3. Diskriminasi. Ia membuat orang-orang dari kelompok yang dijelek-jelekkan itu tidak mendapatkan jenis pekerjaan, tempat tinggal, atau kegiatan sosial tertentu.

4. Serangan fisik. Ia ikut melakukan tindak kekerasan, yang dirancang untuk mengintimidasi orang-orang yang ia benci.

5. Pemusnahan. Ia berpartisipasi dalam program pembunuhan, pembantaian, atau pemusnahan massal.


Akar Prasangka

PRASANGKA dapat disebabkan oleh sejumlah faktor. Meskipun demikian, dua faktor yang sudah jelas adalah (1) keinginan untuk mencari kambing hitam dan (2) kebencian akibat ketidakadilan di masa lalu.

Sebagaimana dikomentari dalam artikel sebelumnya, sewaktu bencana melanda, orang biasanya mencari seseorang untuk dipersalahkan. Apabila orang-orang terkemuka sering mengulangi tuduhan terhadap kelompok minoritas, orang-orang akhirnya menerima hal itu dan lahirlah prasangka. Sebagai contoh umum, selama kemerosotan ekonomi di negeri-negeri Barat, para pekerja imigran sering kali disalahkan sebagai penyebab pengangguran—meskipun mereka sering melakukan pekerjaan yang tidak mau dilakukan sebagian besar penduduk setempat.

Tetapi, tidak semua prasangka timbul karena orang-orang mencari kambing hitam. Itu bisa juga disebabkan oleh sejarah. ”Tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa perdagangan budak menciptakan konsep rasisme terhadap kulit hitam dan penghinaan terhadap kebudayaan mereka,” kata laporan UNESCO Against Racism. Para pedagang budak berupaya membenarkan tindakan mereka yang memalukan berupa penjualan manusia ini dengan menyatakan bahwa orang Afrika lebih rendah. Prasangka yang tidak berdasar ini, yang belakangan diperluas lagi hingga mencakup bangsa-bangsa jajahan lain, masih ada hingga sekarang.

Di seluruh dunia, penindasan dan ketidakadilan di masa lalu terus menghidupkan api prasangka. Permusuhan antara orang Katolik dan Protestan di Irlandia berawal pada abad ke-16, sewaktu para penguasa Inggris menindas dan membuang orang Katolik. Kekejaman yang didalangi oleh orang-orang yang mengaku Kristen selama Perang Salib masih menimbulkan kemarahan di kalangan orang Islam di Timur Tengah. Permusuhan antara orang Serbia dan Kroasia di Semenanjung Balkan diperparah oleh pembantaian orang sipil selama perang dunia kedua. Sebagaimana diperlihatkan oleh contoh-contoh ini, sejarah permusuhan antara dua kelompok dapat memperkuat prasangka.

Bagaimana Ketidaktahuan Dipupuk

Anak balita tidak mempunyai prasangka. Sebaliknya, para peneliti mengatakan bahwa seorang anak biasanya ingin bermain dengan anak dari ras yang berbeda. Namun, pada usia 11 tahun, ia mungkin tidak mau bergaul dengan orang dari suku, ras, atau agama yang lain. Selama tahun-tahun pembentukan kepribadiannya, ia memperoleh sekumpulan sudut pandangan yang bisa mempengaruhinya seumur hidup.

Dari mana ia mempelajari semua itu? Seorang anak memungut sikap negatif—yang terucap maupun tidak—pertama dari orang tuanya, kemudian dari teman atau gurunya. Belakangan, tetangga, surat kabar, radio, atau televisi dapat mempengaruhinya lebih jauh. Meskipun ia mungkin hanya tahu sedikit atau malah tidak tahu sama sekali tentang kelompok yang tidak ia sukai, pada saat ia menjadi orang dewasa, ia telah menyimpulkan bahwa mereka lebih rendah dan tidak bisa dipercaya. Ia mungkin bahkan membenci mereka.

Dengan adanya kemajuan di bidang transportasi dan perdagangan, kontak antarkebudayaan dan antaretnik yang berlainan telah meningkat di banyak negeri. Meskipun demikian, orang yang sudah telanjur mengembangkan prasangka yang kuat biasanya terus berpaut pada gagasan yang sudah ia anut. Ia mungkin tetap menyamaratakan ribuan atau bahkan jutaan orang, menganggap bahwa mereka semua memiliki sifat buruk tertentu. Pengalaman buruk apa pun, sekalipun hanya dengan satu orang dari kelompok itu, akan semakin memperkuat prasangkanya. Sebaliknya, pengalaman positif biasanya diabaikan dan dipandang sebagai pengecualian.

Membebaskan Diri

Meskipun kebanyakan orang pada dasarnya mengutuk prasangka, tidak banyak yang bisa keluar dari pengaruhnya. Sesungguhnya, banyak orang yang sangat berprasangka berkeras bahwa mereka tidak demikian. Yang lain mengatakan bahwa prasangka bukan masalah besar, asalkan itu tidak dipertunjukkan. Namun, prasangka adalah masalah besar karena hal itu menyakiti dan memecah-belah orang-orang. Ketidaktahuan melahirkan prasangka, dan prasangka sering kali melahirkan kebencian. Penulis Charles Caleb Colton (1780?-1832) menandaskan, ”Kita membenci orang-orang tertentu karena kita tidak mengenal mereka; dan kita tidak akan mengenal mereka karena kita membenci mereka.” Meskipun begitu, kalau prasangka bisa dipelajari, itu juga bisa dilupakan. Caranya?

Solusi PermanenClick link ini: Akhir Prasangka

=================================================================================

Agama—Menghasilkan Toleransi atau Prasangka?

   Dalam bukunya The Nature of Prejudice, Gordon W. Allport menyatakan bahwa ”rata-rata, para anggota Gereja tampaknya lebih berprasangka daripada orang yang bukan anggota”. Ini tidaklah mengherankan, karena agama sering kali menyebabkan prasangka dan bukannya menghilangkannya. Misalnya, selama berabad-abad, para pemimpin agama mengipasi sentimen anti-Yahudi. Menurut A History of Christianity (Sejarah Kekristenan), Hitler pernah berkomentar, ”Sehubungan orang Yahudi, saya hanya meneruskan kebijakan yang sudah dianut gereja Katolik selama 1500 tahun.”

Selama aksi kekejaman di Semenanjung Balkan, ajaran Ortodoks dan Katolik tampaknya tidak sanggup menghasilkan toleransi dan respek terhadap penganut agama lain.

Demikian pula, di Rwanda, para anggota gereja membantai sesama penganut. National Catholic Reporter menunjukkan bahwa dalam pertikaian di sana terjadi ”genosida yang sesungguhnya yang, sayangnya, justru disebabkan oleh orang-orang Katolik”.

Gereja Katolik sendiri telah mengakui sejarah intoleransinya. Pada tahun 2000, Paus Yohanes Paulus II meminta maaf atas ”penyimpangan masa lalu” pada sebuah Misa publik di Roma. Selama upacara itu, ”intoleransi dan ketidakadilan agama terhadap orang Yahudi, wanita, penduduk asli, imigran, orang miskin, dan bayi-bayi yang tidak sempat lahir” disebutkan secara terperinci.

=================================================================================   

Disalin dari jurnal Awake! September 2004/by Official Web Site of Jehovah’s Witnesses