Jumat, 03 Juli 2009

"Child Abuse" Problem Global


Child abuse : handcuffed child hides behind toy &
Multiple personalities

Sekarang mari kita mengulas tentang "Child Abuse", penganiayaan atau pelecehan seksual yang bahwa dari hal ini para orang tua justru perlu melindungi anak-anak mereka!. Berikut ulasannya:

Karena ada begitu banyak pemangsa seksual yang mencari korban, para orang tua ingin tahu caranya melindungi anak-anak mereka. Artikel-artikel dari Jehovah's Witnesses Official Web Site ini bisa membantu Anda.

MONA dan Adin adalah pasangan yang bahagia dan energik. Mereka mempunyai anak lelaki berusia tiga tahun yang cerdas dan sehat yang mereka asuh dengan baik. Dalam dunia sekarang, hal itu tidak mudah. Ada berbagai kekhawatiran dan tanggung jawab yang tersangkut. Begitu banyak hal perlu diajarkan kepada anak-anak! Ada satu tanggung jawab yang khususnya menjadi perhatian utama Mona dan Adin: Mereka ingin melindungi anak mereka dari bahaya pelecehan seksual. Mengapa?

”Ayah saya pemabuk, pemarah, dan tak berperasaan,” kata Mona. ”Ia sering menghajar saya, dan mencabuli saya serta adik-adik perempuan saya.” Banyak yang sependapat bahwa pengalaman demikian bisa menimbulkan luka emosi yang dalam. Tidak heran jika Mona bertekad melindungi putranya! Dan, Adin pun demikian.

Pelecehan anak meresahkan banyak orang tua. Bisa jadi Anda pun demikian. Tidak seperti Adin dan Mona, Anda mungkin belum pernah mengalami sendiri pelecehan serta akibat-akibatnya, tetapi Anda pasti pernah mendengar laporan yang mengejutkan tentang maraknya praktek keji ini. Di seluruh dunia, para orang tua yang pengasih merasa ngeri mengetahui apa yang terjadi atas anak-anak di lingkungan mereka.
___________________________________________________________________________________
PELECEHAN SEKSUAL—PROBLEM GLOBAL
Hiding child
Pada tahun 2006, sekretaris jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa menyerahkan kepada Majelis Umum PBB sebuah laporan sedunia tentang kekerasan terhadap anak-anak yang telah disusun oleh seorang pakar independen untuk PBB. Menurut laporan tersebut, selama satu tahun belakangan diperkirakan ada 150 juta anak perempuan dan 73 juta anak lelaki di bawah usia 18 tahun yang mengalami ”hubungan seks yang dipaksakan atau bentuk kekerasan seksual lainnya”. Angka-angka itu mengejutkan, tetapi laporan tersebut menyatakan, ”Angka sebenarnya pasti lebih tinggi.” Sebuah kajian atas penelitian dari 21 negeri menunjukkan bahwa di beberapa tempat, sebanyak 36 persen wanita dan 29 persen pria pernah menjadi korban salah satu bentuk pelecehan seksual semasa kanak-kanak. Mayoritas pelakunya adalah sanak keluarga!
___________________________________________________________________________________

Tidak mengherankan, seorang peneliti dalam bidang pelecehan seksual menyebut angka pelecehan anak sebagai ”salah satu temuan paling menggelisahkan pada era kita”. Kabar itu memang menyedihkan, tetapi apakah perkembangan seperti itu mengejutkan? Tidak bagi orang-orang yang mempelajari Alkitab [buku panduan kehidupan. Dijelaskan] bahwa kita hidup pada masa penuh gejolak yang disebut ”hari-hari terakhir”, masa yang ditandai dengan meluasnya perilaku yang ”garang”, ketika orang-orang menjadi ”pencinta diri sendiri” dan tidak memiliki ”kasih sayang alami”.#*

Pelecehan seksual merupakan problem yang menakutkan. Malah, ada orang tua yang merasa tak berdaya sewaktu memikirkan betapa kejinya orang yang mengincar anak-anak untuk dieksploitasi secara seksual. Namun, apakah problem ini terlalu berat untuk ditanggulangi orang tua? Atau, adakah langkah-langkah praktis yang dapat diambil para orang tua agar anak-anak mereka tetap aman? Artikel berikut akan mengulas pertanyaan-pertanyaan ini.

Cara Melindungi Anak-Anak Anda

KEBANYAKAN dari kita tidak ingin berlama-lama memikirkan pelecehan seksual pada anak. Membayangkannya saja sudah membuat para orang tua bergidik! Namun, hal itu adalah kenyataan yang menakutkan dan tidak menyenangkan di dunia dewasa ini, dan pengaruhnya atas anak-anak bisa menghancurkan. Apakah ada gunanya membahas pokok ini? Coba pikirkan, seberapa besarkah pengorbanan yang rela Anda lakukan demi keselamatan anak Anda? Mencari tahu tentang kenyataan yang tidak menyenangkan mengenai pelecehan pastilah pengorbanan yang tidak seberapa. Pengetahuan ini justru dapat sangat bermanfaat.

Jangan biarkan masalah ini menjadi momok yang merampas keberanian Anda. Setidak-tidaknya, Anda memiliki kelebihan yang tidak dimiliki anak Anda—kesanggupan yang baru bisa diperoleh anak Anda setelah bertahun-tahun, atau bahkan puluhan tahun. Karena telah hidup lebih lama, Anda telah memiliki aset berupa pengetahuan, pengalaman, dan hikmat. Kuncinya adalah menambah aset tersebut serta menggunakannya untuk melindungi anak Anda. Kita akan membahas tiga langkah dasar yang dapat diambil setiap orang tua. Langkah-langkah itu adalah: (1) Jadilah garis pertahanan pertama bagi anak Anda, (2) beri anak Anda cukup informasi tentang seks dan (3) perlengkapi anak Anda dengan beberapa petunjuk dasar untuk melindungi diri.

Apakah Anda Menjadi Garis Pertahanan Pertama?

Tanggung jawab utama untuk melindungi anak-anak dari pelecehan ada pada orang tua, bukan pada anak-anak. Karena itu, orang tua harus terdidik sebelum bisa mendidik anak. Jika Anda orang tua, ada beberapa hal yang perlu Anda ketahui. Anda perlu mengetahui ciri-ciri pelaku dan bagaimana modusnya. Orang tua sering membayangkan pelaku sebagai orang tak dikenal yang mengintai di kegelapan, mencari-cari cara untuk menculik dan memperkosa anak-anak. Orang jahat seperti itu memang ada. Media berita sering kali melaporkan tentang mereka. Namun, secara relatif mereka jarang ada. Dalam sekitar 90 persen kasus pelecehan seksual anak, pelakunya adalah orang yang sudah dikenal dan dipercaya oleh si anak.

Sewajarnya, Anda tidak mau berpikir bahwa tetangga, guru, tenaga medis, pelatih olahraga, atau kerabat yang baik hati bisa bernafsu kepada anak Anda. Dan, kebanyakan orang memang tidak begitu. Anda tidak perlu mencurigai setiap orang di sekitar Anda. Namun, Anda dapat melindungi anak Anda dengan mengetahui taktik khas seorang pelaku pelecehan.—Lihat dalam garis dibawah ini
___________________________________________________________________________________
POLA RAYUAN
Seorang pemerkosa kemungkinan besar terlalu lihai sehingga tidak akan memaksa korbannya. Sebaliknya, ia mungkin lebih suka merayu anak-anak secara bertahap. Mula-mula, ia memilih calon korbannya, sering kali anak yang kelihatan tidak berdaya dan penurut, dengan demikian secara relatif mudah dikendalikan. Kemudian, ia memberikan perhatian khusus kepada anak itu. Ia mungkin juga mencoba mendapatkan kepercayaan orang tuanya. Para pemerkosa sering kali mahir berpura-pura menaruh minat yang tulus kepada si anak dan keluarganya.

Akhirnya, si pemerkosa akan mulai mempersiapkan si anak untuk dijadikan korban. Sedikit demi sedikit, ia mulai lebih banyak mengadakan kontak badan dengan si anak melalui pertunjukan kasih sayang, gulat-gulatan, dan gelitikan yang tampaknya polos. Ia mungkin menghujani si anak dengan hadiah dan mulai memisahkannya dari teman-teman, kakak adik, dan orang tua, supaya bisa berduaan saja dengan si anak. Pada suatu waktu, ia mungkin meminta si anak tidak menceritakan rahasia kecil kepada orang tua—mungkin tentang suatu hadiah atau rencana jalan-jalan. Taktik-taktik tersebut melicinkan jalan untuk rayuan. Sewaktu si pemerkosa telah mendapatkan kepercayaan si anak serta orang tuanya, ia siap beraksi.

Sekali lagi, caranya mungkin sekali tidak kentara, tidak kejam atau memaksa. Ia mungkin memanfaatkan keingintahuan wajar si anak tentang seks, menawarkan untuk menjadi ”guru”, atau ia mungkin mengajaknya mengadakan ”permainan istimewa” yang tidak boleh diketahui orang lain. Ia mungkin mencoba memperlihatkan pornografi kepada si anak supaya perilaku demikian tampak normal.

Jika ia berhasil memperkosa si anak, ia sekarang ingin sekali memastikan bahwa si anak tidak menceritakannya kepada siapa-siapa. Ia mungkin menggunakan berbagai taktik, misalnya dengan mengancam, memeras, dan menyalahkan, atau mungkin dengan mengkombinasikan cara-cara itu. Contohnya, ia mungkin mengatakan, ”Salah kamu sendiri. Kamu sih tidak menyuruh saya berhenti.” Ia mungkin menambahkan, ”Kalau kamu beri tahu Mama Papa, mereka akan memanggil polisi dan saya dipenjarakan untuk selamanya.” Atau, ia mungkin mengatakan, ”Ini rahasia kita berdua. Kalau kamu cerita, tidak ada yang bakal percaya. Awas kalau Mama Papa sampai tahu, akan saya hajar mereka.” Ada banyak sekali taktik licik dan jahat yang akan diupayakan orang-orang ini.
___________________________________________________________________________________

Dengan mengenali taktik-taktik tersebut, Anda sebagai orang tua dapat lebih siap untuk bertindak sebagai garis pertahanan pertama. Misalnya, jika seseorang, yang tampak lebih berminat pada anak-anak ketimbang orang dewasa, memberikan perhatian khusus dan hadiah-hadiah kepada anak Anda atau menawarkan untuk menjaganya tanpa bayaran atau bertamasya berduaan dengan anak Anda, apa yang akan Anda lakukan? Apakah Anda langsung menyimpulkan bahwa ia pasti seorang pemerkosa? Jangan cepat-cepat menarik kesimpulan. Ia mungkin tidak mempunyai maksud apa-apa. Meskipun demikian, hal itu bisa membuat Anda waspada. Buku panduan kehidupan, ”Orang yang kurang berpengalaman percaya pada setiap perkataan, tetapi orang yang cerdik mempertimbangkan langkah-langkahnya.”<

Beri Anak Anda Informasi tentang Seks

Jangan segan mengajarkan anak
Anda tentang seks

Sebuah karya referensi tentang pokok penganiayaan anak mengutip kata-kata seorang pelaku yang terbukti bersalah, ”Anak yang tidak tahu apa-apa tentang seks akan menjadi korban empuk berikutnya.” Kata-kata menyeramkan tersebut merupakan pengingat yang berguna bagi para orang tua. Anak-anak yang kurang pengetahuan tentang seks jauh lebih mudah dibodohi oleh para penganiaya. Buku panduan kehidupan mengatakan bahwa pengetahuan dan hikmat dapat melepaskan kita ”dari orang yang mengatakan hal-hal sesat”.> Pasti Anda ingin anak Anda memiliki pengetahuan dan hikmat demikian, bukan? Maka, sebagai langkah dasar kedua untuk melindunginya, jangan segan mengajarkan pokok penting ini kepadanya.

Namun, bagaimana caranya? Banyak orang tua merasa risi untuk membahas topik seks dengan anak-anak. Anak Anda mungkin lebih risi lagi, dan kemungkinan besar ia tidak akan memulainya. Jadi, ambillah prakarsa. Mimi mengatakan, ”Kami mulai sejak dini dengan menyebutkan bagian-bagian tubuh. Kami memakai bahasa yang benar, bukan bahasa anak-anak, untuk memperlihatkan kepada mereka bahwa tidak ada satu bagian pun dari tubuh mereka yang aneh atau memalukan.” Petunjuk untuk menghindari pelecehan menyusul dengan sendirinya. Banyak orang tua memberi tahu anak-anak bahwa bagian tubuh yang tertutup pakaian renang bersifat pribadi dan khusus.

Mona, yang disebutkan dalam artikel sebelumnya, mengatakan, ”Saya dan Adin memberi tahu anak kami bahwa penisnya adalah milik pribadi, dan bukan mainan. Tidak boleh dijadikan mainan oleh siapa pun—Mama, Papa, bahkan dokter. Sewaktu kami membawanya ke dokter, saya menjelaskan bahwa dokter hanya mau memeriksa dan karena itu boleh memegangnya.” Kedua orang tua ikut dalam pembicaraan singkat ini dari waktu ke waktu, dan meyakinkan si anak bahwa ia bisa memberi tahu mereka kapan saja jika ada yang menyentuhnya dengan cara yang tidak benar atau yang membuatnya merasa risi. Para pakar dalam bidang pengasuhan anak dan pencegahan penganiayaan menyarankan agar semua orang tua mengadakan percakapan serupa dengan anak-anak mereka.

Be involved in your child’s activities
Banyak yang mendapati bahwa buku Belajarlah dari sang Guru Agung** sangat berguna untuk mengajarkan pokok bahasan ini. Pasal 32, ”Bagaimana Yesus Dilindungi”, memuat pesan yang terus terang tetapi menghibur bagi anak-anak tentang bahaya penganiayaan dan pentingnya melindungi diri. ”Buku ini telah memberi kami cara yang tepat sekali untuk menegaskan apa yang telah kami sampaikan kepada anak-anak secara pribadi,” kata Mimi.

Di dunia dewasa ini, anak-anak perlu tahu bahwa ada yang suka meraba anak-anak atau menyuruh anak-anak meraba mereka dengan cara yang salah. Peringatan ini tidak perlu membuat anak-anak ketakutan atau mencurigai semua orang dewasa. ”Itu semacam petunjuk keamanan saja,” kata Mona. ”Dan, itu hanya satu di antara banyak petunjuk lain, yang sebagian besar tidak berkaitan dengan pelecehan. Anak saya sama sekali tidak ketakutan.”

Anak Anda juga harus diajar untuk memiliki pandangan yang seimbang tentang ketaatan. Mengajar anak untuk taat adalah pelajaran yang penting dan sulit.
Awake! terbitan October 2007 by Official Web Site of Jehovah’s Witnesses

Bagaimana Pandangan dari Buku Panduan Kehidupan tentang anak-anak yang stres dan perlakuan salah terhadap anak termasuk penganiayaan anak---> Disini

Gambar ilustrasi sebagian besar diluar sumber publikasi Awake yang diambil dari Photo Researchers dan DeviantArt.

____________________
[catatan kaki]
^ Berbeda dengan hipokondria (ketakutan yang berlebih-lebihan dan terus-menerus terhadap penyakit), yang melibatkan penyakit imajiner, penyakit psikosomatik adalah nyata. Akan tetapi, penyebabnya bersifat emosi sebaliknya daripada fisik.
% Para pakar mengatakan bahwa banyak korban pelecehan memberi petunjuk nonverbal bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Misalnya, jika seorang anak tiba-tiba kembali ke kebiasaan yang sudah ia tinggalkan beberapa waktu sebelumnya, seperti mengompol, tidak mau pisah dari orang tua, atau takut sendirian, ia mungkin mengisyaratkan adanya hal serius yang meresahkannya. Gejala-gejala seperti itu hendaknya tidak dianggap sebagai bukti bahwa pasti telah terjadi pelecehan. Dengan tenang, pancing anak Anda berbicara agar dapat mengetahui penyebab keresahannya sehingga ia dapat dihibur, ditenteramkan, dan dilindungi.
** Diterbitkan oleh Saksi-Saksi Yehuwa.
#* —2 Timotius 3:1-5.
<
Amsal 14:15.
> (Amsal 2:10-12)
<< (Kolose 3:20)