Sumber Daya Kebudayaan dan Pariwisata, bagian Perlindungan Anak, Kementerian Pemberdayaan Perempuan tampaknya kebingungan melihat kenyataan ini seperti yang pernah diberitakan di KOMPAS (KOMPAS.COM)Mengapa harus melibatkan badan pariwisata segala? Rupanya di Indonesia sudah berkembang pariwisata seks. Apa penyebab dan akar permasalahan global ini? Mari kita lihat parabel yang terjadi dimana-mana.
Ilustrasi pelecehan sesual dari KOMPAS.COM
Ilustrasi pelecehan sesual dari KOMPAS.COM
Maria* menjadi pelacur anak sewaktu ia berusia 14 tahun. Ia mengikuti gaya hidup yang mengerikan ini atas desakan ibu kandungnya, yang mengatakan kepadanya bahwa ia cantik dan kaum pria akan sangat menyukainya. Selain itu ia akan memperoleh banyak uang. Pada malam hari, ibu Maria membawanya kesebuah motel untuk bertemu dengan pria-pria. Sang ibu tetap berada didekat situ untuk menerima pembayaran. Setiap malam, Maria melakukan hubungan seks dengan tiga atau empat pria.
Tidak jauh dari rumah Maria, Carina yang berusia 13 tahun juga dipaksa memasuki pelacuran. Seperti banyak keluarga lain yang hidup dalam komunitas pekerja tebu, keluarganya menjual tubuh Carina untuk menambah penghasilan mereka yang pas-pasan. DI daerah lain, Estela putus sekolah pada usia muda, ia bahkan tidak tahu caranya membaca dan menulis, dan mulai bekerja sebagai pelacur jalanan. Dan Daisy berusia kira-kira enam tahun sewaktu ia dianiaya secara seksual oleh salah seorang abang kandungnya—awal dari banyak tindakan inses yang dipaksakan terhadap dirinya. Ia menjadi pelacur pada usia 14 tahun.
Tidak jauh dari rumah Maria, Carina yang berusia 13 tahun juga dipaksa memasuki pelacuran. Seperti banyak keluarga lain yang hidup dalam komunitas pekerja tebu, keluarganya menjual tubuh Carina untuk menambah penghasilan mereka yang pas-pasan. DI daerah lain, Estela putus sekolah pada usia muda, ia bahkan tidak tahu caranya membaca dan menulis, dan mulai bekerja sebagai pelacur jalanan. Dan Daisy berusia kira-kira enam tahun sewaktu ia dianiaya secara seksual oleh salah seorang abang kandungnya—awal dari banyak tindakan inses yang dipaksakan terhadap dirinya. Ia menjadi pelacur pada usia 14 tahun.
"Segala bentuk eksploitasi seksual tidak sejalan dengan harkat manusia, dan dengan demikian, melanggar hak asasi manusia yang fundamental, tidak soal usia, jenis kelamin, ras, kelompok etnik, atau golongan sang korban"—UNESCO SOURCES
Dibanyak tempat di dunia ini, problem pelacuran anak merupakan sebuah kenyataan yang menakutkan. Akibatnya tragis. Seringkali, pelacur anak, entah yang sambil lalu, entah yang purna waktu, juga menjadi terlibat dalam kejahatan dan penyalahgunaan narkoba. Banyak diantara mereka merasa frustasi dan tidak berharga, melihat kecilnya atau tidak adanya prospek untuk lari dari kehidupan mereka yang sengsara.
Para tokoh berpengaruh mengakui dampak menghancurkan dari pelacuran anak. Mantan presidan Brasil Fernando Henrique Cardoso dengan tepat menyatakan, "Pelacuran anak adalah kejahatan yang biadab." Sebuah surat kabar Brasil menerbitkan ulasan serius sehubungan dengan pelacuran anak, "Negeri-negeri tempat praktek semacam ini lazim, ditoleransi, diterima, dan bahkan didukung karena menghasilkan [uang], setiap hari mengalami kehancuran yang diakibatkannya. Keuntungan finansial apa pun yang mungkin dihasilkan mau tidak mau pupus oleh bencana perorangan, keluarga, dan sosial yang diakibatkan oleh praktek semacam itu."
Namun, terlepas dari itikad mulia orang-orang yang ingin menghentikan pelacuran anak, problemnya terus bertambah. Apa penyebab situasi yang mengerikan ini? Mengapa begitu banyak orang mentoleransi atau bahkan mendukung kegiatan kriminal semacam itu?
Para tokoh berpengaruh mengakui dampak menghancurkan dari pelacuran anak. Mantan presidan Brasil Fernando Henrique Cardoso dengan tepat menyatakan, "Pelacuran anak adalah kejahatan yang biadab." Sebuah surat kabar Brasil menerbitkan ulasan serius sehubungan dengan pelacuran anak, "Negeri-negeri tempat praktek semacam ini lazim, ditoleransi, diterima, dan bahkan didukung karena menghasilkan [uang], setiap hari mengalami kehancuran yang diakibatkannya. Keuntungan finansial apa pun yang mungkin dihasilkan mau tidak mau pupus oleh bencana perorangan, keluarga, dan sosial yang diakibatkan oleh praktek semacam itu."
Namun, terlepas dari itikad mulia orang-orang yang ingin menghentikan pelacuran anak, problemnya terus bertambah. Apa penyebab situasi yang mengerikan ini? Mengapa begitu banyak orang mentoleransi atau bahkan mendukung kegiatan kriminal semacam itu?
MENGAPA PROBLEM INI TERUS BERTAMBAH
Tahukah Anda bahwa pelacuran merupakan kegiatan komersial ketiga terbesar di dunia, yang hanya diungguli oleh perdagangan narkoba dan senjata? Menurut organisasi pendidikan, Sains, dan kebudayaan PBB (UNESCO), ada peningkatan yang pasti dalam semua jenis pelacuran.
Di sebuah negeri di Amerika Latin, Komite Kongres Penyidikan negri itu melaporkan bahwa ada lebih dari 500.00o pelacur anak perempuan, kendati pelacur melanggar hukum.
Di negri lain, ada sekitar 300.000 pelacur anak di jalan-jalan, khususnya di kawasan pengedaran narkoba.
Di negeri-negri Asia, menurut laporan, kira-kira satu juta gadis muda dimanfaatkan sebagai pelacur dalam kondisi yang mirip dengan perbudakan.
Beberapa negeri memiliki reputasi sebagai pusat pelacuran anak dan wisata seks.#
Karena tingginya wabah penyakit lewat hubungan seks, seperti AIDS, para pelanggan bersedia membayar dengan harga yang lebih tinggi untuk anak-anak yang dianggap lebih cenderung perawan dan dengan demikian lebih kecil kemungkinan tertular. "Rasa takut akan AIDS telah menyebabkan kaum pria terus memburu anak perempuan dan anak laki-laki yang lebih muda, yang justru memperparah problemnya," kata Luiza Nagib Eluf dari Departemen Kehakiman Basil. Ia mengatakan, "Eksplorasi seksual terhadap anak-anak perempuan dan remaja adalah problem sosial yang paling serius di kalangan kaum wanita miskin di Brasil."
Dengan Harga Tinggi (lihat catatan kaki)**
Di sebuah negeri di Amerika Latin, Komite Kongres Penyidikan negri itu melaporkan bahwa ada lebih dari 500.00o pelacur anak perempuan, kendati pelacur melanggar hukum.
Di negri lain, ada sekitar 300.000 pelacur anak di jalan-jalan, khususnya di kawasan pengedaran narkoba.
Di negeri-negri Asia, menurut laporan, kira-kira satu juta gadis muda dimanfaatkan sebagai pelacur dalam kondisi yang mirip dengan perbudakan.
Beberapa negeri memiliki reputasi sebagai pusat pelacuran anak dan wisata seks.#
Karena tingginya wabah penyakit lewat hubungan seks, seperti AIDS, para pelanggan bersedia membayar dengan harga yang lebih tinggi untuk anak-anak yang dianggap lebih cenderung perawan dan dengan demikian lebih kecil kemungkinan tertular. "Rasa takut akan AIDS telah menyebabkan kaum pria terus memburu anak perempuan dan anak laki-laki yang lebih muda, yang justru memperparah problemnya," kata Luiza Nagib Eluf dari Departemen Kehakiman Basil. Ia mengatakan, "Eksplorasi seksual terhadap anak-anak perempuan dan remaja adalah problem sosial yang paling serius di kalangan kaum wanita miskin di Brasil."
Dengan Harga Tinggi (lihat catatan kaki)**
Kemiskinan dan Pelacuran Anak
Pelacuran anak tumbuh pesat dalam lingkungan yang menyengsarakan dan miskin. Menurut seorang pejabat pemerintah, eksploitasi anak dan pelacuran dinegrinya"jelas-jelas berkaitan dengan disintegrasi keluarga dan merupakan akibat dari kesengsaraan dan kelaparan". Beberapa orang tua mengaku bahwa kemiskinan mendorong mereka untuk menjual anak-anak mereka ke dalam pelacuran. Anak-anak jalanan berpaling kepada pelacuran karena mereka melihat hal itu sebagai satu-satunya sarana mereka untuk tetap hidup.
Surat kabar O Estado de S.Paulo menjelaskan bahwa seorang anak perempuan bisa menjadi pelacur karena bergabung dengan sebuah geng jalanan. Guna mendapatkan sesuatu untuk dimakan, ia mungkin mencuri dan hanya sewaktu-waktu menjual tubuhnya. Langkah berikutnya, ia menjadi pelacur profesional.
Kadang-kadang kaum remaja dikirim ke negeri lain untuk bekerja sebagai pelacur. "Uang yang dikirimkan para pelacur imigran kepada keluarga mereka sering kali dianggap jumlah yang sangat besar dari sudut pandang beberapa negeri Asia dan Afrika yang miskin," lapor UNESCO Sources.
Surat kabar O Estado de S.Paulo menjelaskan bahwa seorang anak perempuan bisa menjadi pelacur karena bergabung dengan sebuah geng jalanan. Guna mendapatkan sesuatu untuk dimakan, ia mungkin mencuri dan hanya sewaktu-waktu menjual tubuhnya. Langkah berikutnya, ia menjadi pelacur profesional.
Kadang-kadang kaum remaja dikirim ke negeri lain untuk bekerja sebagai pelacur. "Uang yang dikirimkan para pelacur imigran kepada keluarga mereka sering kali dianggap jumlah yang sangat besar dari sudut pandang beberapa negeri Asia dan Afrika yang miskin," lapor UNESCO Sources.
"Pelacuran di hegeri-negeri ini juga mendapat rangsangan, seraya wisatawan dari negeri-negeri kaya sengaja datang untuk memanfaatkan 'jasa' yang disediakan oleh kaum muda dan anak-anak."
Di bawah pengaruh narkoba, seorang pelacur anak mungkin mengalami penghinaan yang mungkin yang tidak akan pernah ia setujui dalam keadaan normal. Misalnya, menurut majalah veja, polisi menemukan 90 kaset video milik seorang dokter yang merekam babak-babak penyiksaan yang tidak berperikemanusiaan terhadap lebih dari 50 wanita, beberapa diantaranya masih dibawah umur.
Terlepas dari kenyataan yang mengerikan ini, seorang pelacur muda menyatakan, "Jika saya mencari pekerjaan tetap, penghasilan saya tidak akan cukup untuk membeli makanan sebab saya tidak memiliki ketrampilan. Keluarga saya mengetahui, dan saya tidak mau melepaskan kehidupan ini. Ini tubuh saya, dan saya bebas melakukan apa saja dengannya."
Namun, anak-anak perempuan ini tidak pernah bercita-cita menjadi pelacur. Menurut seorang pekerja sosial, banyak pelacur muda yang "ingin menikah" dan mengimpikan seorang "Pangeran Idaman". Meskipun ada situasi-situasi pelik yang mendorong mereka memulai kehidupan sebagai pelacur, seorang peneliti menyatakan, "Yang paling mengejutkan ialah, bahwa mayoritas diperkosa di rumah mereka sendiri."
Selengkapnya Solusi Global
Awake! & disadur kembali oleh iblogronnp.com
Seraya menguraikan bahaya yang dihadapi anak-anak jalanan yang adalah pelacur di sebuah kota di Amerika Latin, majalah Time melaporkan, "Beberapa pelacur baru berusia 12 tahun. Sering kali, anak-anak ini adalah produk keluarga yang berantakan, mereka tidur ditempat mana pun yang bisa mereka dapatkan pada siang hari, dan menjelajahi tempat-tempat disko, tempat para pelaut menghabiskan waktu, pada malam hari."
Di bawah pengaruh narkoba, seorang pelacur anak mungkin mengalami penghinaan yang mungkin yang tidak akan pernah ia setujui dalam keadaan normal. Misalnya, menurut majalah veja, polisi menemukan 90 kaset video milik seorang dokter yang merekam babak-babak penyiksaan yang tidak berperikemanusiaan terhadap lebih dari 50 wanita, beberapa diantaranya masih dibawah umur.Terlepas dari kenyataan yang mengerikan ini, seorang pelacur muda menyatakan, "Jika saya mencari pekerjaan tetap, penghasilan saya tidak akan cukup untuk membeli makanan sebab saya tidak memiliki ketrampilan. Keluarga saya mengetahui, dan saya tidak mau melepaskan kehidupan ini. Ini tubuh saya, dan saya bebas melakukan apa saja dengannya."
Namun, anak-anak perempuan ini tidak pernah bercita-cita menjadi pelacur. Menurut seorang pekerja sosial, banyak pelacur muda yang "ingin menikah" dan mengimpikan seorang "Pangeran Idaman". Meskipun ada situasi-situasi pelik yang mendorong mereka memulai kehidupan sebagai pelacur, seorang peneliti menyatakan, "Yang paling mengejutkan ialah, bahwa mayoritas diperkosa di rumah mereka sendiri."
Akhir Pelacuran Anak?
Akan tetapi, ada harapan bagi anak-anak yang tidak beruntung ini. Ada pelacur dari berbagai Usia yang telah mengubah haluan hidup mereka (Lihat catatan kaki, "Orang Bisa Berubah").Selengkapnya Solusi Global
Awake! & disadur kembali oleh iblogronnp.com
________
Catatan Kaki
* Nama-nama dalam seri utama ini telah diganti
# Silahkan pembaca iblog ini mengirim posting komentar negeri-negeri manasajalah itu?
** Pada waktu ia baru berusia enam tahun, Daisy dianiaya secara seksual oleh salah seorang abangnya. Akibatnya ia tinggal bersama abang nya yang lebih tua hingga pada usia 14 tahun, ia mulai bekerja di sebuah kelab malam. Setelah beberapa hari Daisy jatuh sakit. Ketika ia sembuh, si pemilik kelab membeberkan utangnya, memaksanya bekerja sebagai pelacur. Kira-kira setahun kemudian, utangnya belum lunas, dan kelihatannya ia tidak akan pernah bebas dari utang. Akan tetapi, seorang pelaut melunasi utangnya, membawanya ke kota lain, tempat ia diperlakukan bagaikan budak . Ia meninggalkan pria itu, dan belakangan hidup bersama pria lain selama tiga tahun, lalu mereka menikah. Karena banyak problem perkawinan yang serius, ia berupaya bunuh diri selama tiga kali. Pada waktunya ia dan suaminya belajar (buku panduan kehidupan). Tetapi Daisy merasa tidak layak menjadi salah seorang Saksi-Saksi Yehuwa (sebutan untuk kelompok pelajar buku panduan kehidupan). Pada waktu diperlihatkan kepadanya dari Alkitab bahwa Allah Yehuwa menerima orang-orang yang membuat perubahan yang dibutuhkan, ia membaktikan hidupnya kepada Dia (bentuk pengabdian yang saleh yang dilambangkan dengan baptisan) . Daisy mengerahkan upaya yang besar untuk melakukan apa yang benar, tetapi ia tidak merasa bahwa hal itu memadai sehingga adakalanya ia menghadapi depresi. Namun syukurlah, ia menerima bantuan untuk mengatasi trauma akibat penganiayaan seksual dan kehidupannya sebagai pelacur anak serta untuk mencapai dan mempertahankan keseimbangan emosi.
"Orang Bisa Berubah", Pada waktu Yesus Kristus di bumi, ia merasa kasihan terhadap orang yang menderita danberdosa. Ia paham bahwa para pelacur , tidak soal usia mereka, bisa mengubah gaya hidup mereka, Yesus bahkan mengatakan kepada para pemimpin agama, "Dengan sunguh-sungguh aku mengatakan kepadamu bahwa para pemungut pajak dan para sundal mendahului kamu masuk ke dalam kerajaan Allah." (Matius 21:31) Walaupun dipandang hina karena jalan hidup mereka, orang-orang yang berhati jujur semacam itu menerima pengampunan karena iman mereka kepada putra Allah. Para pedosa yang bertobat bersedia meninggalkan kehidupan mereka sebagai pelacur guna menerima berkat-berkat Kerajaan Allah. Setelah itu, mereka hidup selaras dengan (petunjuk panduan kehidupan) standar-standar Allah yang adil-benar. Demikian juga, dewasa ini, orang-orang dari berbagai macam latar belakang menerima kebenaran dari Firman Allah dan mengubah jalan hidup mereka. Perhatikan apa yang terjadi dengan Maria, Carina, dan Estela, yang disebutkan di artikel di awal. Selain melawan tekanan dari ibunya agar tetap menjadi pelacur, Maria harus berjuang keras untuk berhenti menyalahgunakan narkoba. Ia menjelaskan, "Saya memakai narkoba untuk menekan perasaan tidak berharga saya karena menjalani kehidupan sebagai pelacur." Maria menceritakan bagaimana ia diterima oleh sidang Kristen Saksi-Saksi Yehuwa (sebutan untuk tempat ibadat suatu kelompok agama). Semuanya anak-anak dan orang dewasa memperlakukan saya dengan respek. Saya memperhatikan bahwa kaum pria yang menikah setia kepada istri mereka. Saya sangat bahagia karena diterima sebagai sahabat mereka."
Pada waktu ia berusia 17 tahun, Carina dikunjungi oleh Saksi-Saksi Yehuwa. Ia mulai belajar (buku panduan kehidupan, sebutan untuk) Alkitab, kendati selama suatu waktu ia tetap bekerja sebagai pelacur. Lambat laun, ia mulai menghargai kebenaran-kebenaran Alkitab. Jadi, ia memutuskan untuk pindah ke sebuah kota yang jauh, dan di sana ia menjadi salah seorang Saksi-Saksi Yehuwa.
Estela, yang sejak usia dini terlibat dalam pelacuran, pesta pora, dan mabuk-mabukan, menjadi berminat kepada Alkitab. Akan tetapi, ia menyimpulkan bahwa Allah tidak akan pernah mengampuninya. Namun, pada waktunya, ia memahami bahwa Allah Yehuwa mengampuni orang-orang yang bertobat. Sekarang, sebagai seorang anggota sidang Kristen yang sudah menikah dan sedang membesarkan tiga orang anak, Estela mengatakan, "Saya sangat berbahagia dan bersyukur kepada Yehuwa karena ia mengangkat saya dari kubangan dan menerima saya dalam organisasi-Nya yang bersih."
Kisah-kisah ini mendukung pernyataan (buku panduan kehidupan, silahkan klick di sini dan buka: 1 Timothy 2:4), dikatakan bahwa Allah menghendaki agar "segala macam orang (pria dan wanita) diselamatkan dan memperoleh pengetahuan yang saksama tentang kebenaran".
Pada waktu ia berusia 17 tahun, Carina dikunjungi oleh Saksi-Saksi Yehuwa. Ia mulai belajar (buku panduan kehidupan, sebutan untuk) Alkitab, kendati selama suatu waktu ia tetap bekerja sebagai pelacur. Lambat laun, ia mulai menghargai kebenaran-kebenaran Alkitab. Jadi, ia memutuskan untuk pindah ke sebuah kota yang jauh, dan di sana ia menjadi salah seorang Saksi-Saksi Yehuwa.
Estela, yang sejak usia dini terlibat dalam pelacuran, pesta pora, dan mabuk-mabukan, menjadi berminat kepada Alkitab. Akan tetapi, ia menyimpulkan bahwa Allah tidak akan pernah mengampuninya. Namun, pada waktunya, ia memahami bahwa Allah Yehuwa mengampuni orang-orang yang bertobat. Sekarang, sebagai seorang anggota sidang Kristen yang sudah menikah dan sedang membesarkan tiga orang anak, Estela mengatakan, "Saya sangat berbahagia dan bersyukur kepada Yehuwa karena ia mengangkat saya dari kubangan dan menerima saya dalam organisasi-Nya yang bersih."
Kisah-kisah ini mendukung pernyataan (buku panduan kehidupan, silahkan klick di sini dan buka: 1 Timothy 2:4), dikatakan bahwa Allah menghendaki agar "segala macam orang (pria dan wanita) diselamatkan dan memperoleh pengetahuan yang saksama tentang kebenaran".