KEMISKINAN yang parah selalu dapat diartikan sebagai sesuatu hal yang mengancam kehidupan yang mencakup orang yang tidak mempunyai cukup makanan, air, bahan bakar dan tidak mendapat tempat tinggal, perawatan kesehatan, pendidikan yang memadai. Di dunia kemiskinan demikian menimpa 1.000.000.000 orang. Namun, sangat disesalkan kebanyakan orang-orang di negeri makmur, seperti di Eropa Barat dan Amerika Utara, tidak pernah tahu seperti apa kemiskinan yang parah itu.
Majalah Menara Pengawal edisi umum 1 Juni 2011, menemui beberapa orang yang mengalami kemikinan sedemikian, keterangan mereka sudah pasti mewakili orang-orang miskin lain termasuk di Indonesia yang jumlahnya mencapai 31.000.000 lebih yang tinggal di kota dan desa. (data dari Badan Pusat Statistik pada 2010).
Mbarushimana yang tinggal di Rwanda, Afrika bersama istri dan lima anaknya. Anak yang keenam meninggal akibat malaria. Ia mengatakan, “Tanah yang saya warisi begitu kecil sehingga saya dan keluarga harus pindah ke kota. Saya dan istri bekerja sebagai kuli angkut batu dan pasir. Tempat tinggal kami tidak ada jendelannya. Kami mengambil air dari sumur di kantor polisi. Kami biasanya makan sehari sekali, tapi kalau tidak ada pekerjaan, kami tidak makan. Kalau sudah begitu, saya keluar dari rumah˗˗saya tidak tahan mendengar anak-anak menangis minta makan.”Victor dan Carmen adalah tukang sol sepatu. Mereka bersama lima orang anak tinggal di sebuah kota kecil di Bolivia. Mereka menyewa satu kamar di sebuah bangunan reyot yang atapnya bocor, dan tidak ada listrik. Agar putrinya bisa bersekolah, Victor harus membuatkan bangku untuk dia karena tidak ada tempat duduk lagi dikelas. Suami istri ini harus berjalan sepuluh kilometer mengambil kayu bakar untuk merebus air dan memasak. “Tidak ada WC,” kata Carmen, “jadi, kami harus pergi ke sungai, yang juga digunakan untuk mandi dan buang sampah. Anak-anak sering sakit.”
Fransisco dan Ilidia tinggal di pedesaan Mozambik. Mereka punya lima anak yang masih kecil, yang satu sudah meninggal akibat malaria karena rumah sakit menolak mengobatinya. Suami istri ini punya sebidang ladang kecil yang ditanami padi dan ubi, cukup untuk makanan selama tiga bulan, Fransisco mengatakan, “Tapi kadang-kadang, tidak ada hujan atau hasil ladang dicuri, maka saya mencari sedikit uang tambahan dengan memotong bambu dan menjualnya. Kami juga mencari kayu bakar dengan berjalan dua jam ke hutan. Saya dan istri masing-masing memikul satu ikat, yang satu untuk di pakai sendiri selama seminggu dan yang satu lagi untuk dijual.”
[Di Indonesia sekarang, kepala keluarga yang berusia 40 tahun keatas yang belajar dari sekolah dasar tiga puluhan tahun lalu sudah terbiasa membaca realitas dari 'cerita rakyat' dimana orang bekerja seharian mengumpulkan kayu bakar dari hutan seperti yang dilakukan keluarga dari Mozambik ini, kini di antara mereka ada yang berkecukupan namun ada juga yang kurang berkecukupan. Mereka yang kaya sudah mengakhiri kemiskinan─bagi diri mereka sendiri]
Namun, banyak orang merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres dan tidak adil jika 1 dari 7 orang di dunia ini hidup seperti tiga keluarga miskin tadi yang mengutarakan problem mereka, sedangkan miliaran orang lainnya menikmati kemakmuran yang luar biasa. Meskipun beberapa orang sudah mencoba berbuat sesuatu, tetapi berbagai upaya untuk membebaskan seluruh umat manusia dari kemiskinan selalu gagal. Mengapa? Karena orang kaya biasanya tidak mau siapa pun atau apa pun mengusik kekayaan mereka. Contohnya:
Ada yang berteori bahwa sosialisme atau komunisme bisa mewujudkan masyarakat Internasional tanpa perbedaan tingkat sosial, di mana kekayaan terbagi secara adil. Tentu saja kalangan orang kaya sangat tidak suka dengan gagasan ini. Tetapi, banyak orang setuju dengan slogan: “Setiap orang memberi dengan kemampuannnya, dan mendapat menurut kemampuannya.” Banyak yang berharap bahwa semua negara akan mengadopsi sosialisme agar dunia ini menjadi masyarakat yang sempurna. Beberapa negara makmur menerapkan aspek-aspek sosialisme dan membentuk sistem pemerintahan yang menjanjikan tunjangan kesejahteraan seumur hidup bagi semua warganya. Mereka mengaku telah menghapus kemiskinan yang mengancam kehidupan rakyat mereka.
Namun, sosialisme tidak pernah mencapai tujuannya untuk menciptakan masyarakat yang tidak mementingkan diri. Ternyata tidaklah realistis untuk mengharapkan para warga bekerja demi manfaat masyarakat dan bukan demi kepentingan pribadi. Ada yang tidak suka menunjang orang miskin; mereka mengatakan bahwa kemurahan hati terhadap orang miskin akan membuat beberapa di antara mereka enggan bekerja.
Selanjutnya majalah MP edisi ini juga mengulas soal Bantuan Luar Negeri sebagai bentuk upaya lain untuk memberikan solusi masalah kemiskinan, namun itu mengecewakan.
Membantu negara-negara miskin keluar dari kemiskinan ternyata lebih sulit daripada membantu negara-negara kaya pulih dari akibat peperangan. Eropa sudah memiliki industri, perdagangan dan transportasi. Ekonominya saja yang perlu diperbaiki. Di negara-negara miskin, sekalipun dana dari luar negeri membantu tersedianya jalan, sekolah dan klinik, orang-orang masih sangat miskin karena tidak adanya bisnis, sumber daya alam, dan akses ke jalur perdagangan.
Lingkaran kemiskinan itu rumit dan sulit diputus. Misalnya, penyakit menyebabkan kemiskinan, dan kemiskinan menyebabkan penyakit. Anak-anak yang kurang makan bisa sangat lemah fisik dan mentalnya sehingga sewaktu dewasa, mereka tidak bisa mengurus anak-anak mereka sendiri. Selain itu, negara-negara kaya membuang surplus makanan ke nagara-negara miskin dengan label “bantuan”, para petani dan pedagang setempat bangkrut sehingga mengakibatkan lebih banyak kemiskinan. Dengan mengirimkan uang ke negara-negara miskin, munculah lingkaran problem lain: Bantuan gampang dikorupsi, dan selanjutnya korupsi mengakibatkan kemiskinan. Pada dasarnya, bantuan luar negeri gagal karena tidak mengatasi akar penyebab kemiskinan. Penyebab kemiskinan. Kemiskinan yang parah diakibatkan karena negara, pemerintahan, dan orang-orang hanya berminat memajukan dan melindungi kepentingan sendiri. Misalnya, pemerintahan negara-negara kaya kurang memprioritaskan masalah kemiskinan dunia mengingat mereka dipilih secara demokratis dan harus membuat para pemilih mereka senang. Maka, mereka melarang petani negara miskin menjual hasil bumi di negara kaya agar petani negara kaya tidak kehilangan pekerjaan. Selain itu, penguasa negara kaya memberikan banyak sekali subsidi kepada petani mereka agar bisa menjual lebih banyak daripada petani negara miskin.
Jelaslah, penyebab kemiskinan─kecenderungan orang dan pemerintahan selalu melindungi kepentingan diri─adalah manusia. Salamo (raja Sulaiman), mengungkapkan sebagai berikut, “Manusia menguasai manusia sehingga ia celaka.”─Penghotbah 8:9.
Mengingat hal itu belum ada upaya manusia yang berhasil bahkan belum ada hukum manusia yang sungguh-sungguh bisa dijalankan, namun di masa lampau hukum Pencipta atau hukum adimanusia pernah diaplikasikan kepada kelompok bangsa dan itu menjadi petunjuk bahwa memang perlu adanya sebuah upaya adimanusia karena upaya manusia tidak akan pernah mengakhiri kemiskinan!
Carilah dan periksa link-link untuk artikel terkait. Masalah Kemiskinan Dapatkah Dibendung?
[terdapat pada format digital untuk majalah Menara Pengawal edisi 1 Juni 2011]