Rabu, 02 November 2011

APAKAH ANDA BEKERJA TERLALU KERAS?



ARTIKEL ini membantu kita untuk menghindari kelelahan dan menjaga keseimbangan, jangan menukar kesehatan, kebugaran fisik, mental serta hubungan keluarga dengan bekerja terlalu keras!

A man working late

Are You Working
Too Hard?

Are You Stressed Out?

DI SELURUH dunia, konflik antara pekerjaan dan kehidupan keluarga telah menjadi masalah besar. Seperti diperlihatkan oleh sebuah sumber, ’globalisasi, teknologi baru, dan ekonomi 24/7 (bisnis yang dijalankan 24 jam nonstop selama 7 hari seminggu) yang sangat menuntut, telah mengaburkan batas-batas tradisional antara rumah dan pekerjaan’. Perubahan-perubahan ini telah menghasilkan kemakmuran yang luar biasa. Namun, keberhasilan ini bukannya tanpa tumbal. Menurut seorang penulis, ”Jutaan dari kita bekerja terlalu keras, dengan jadwal yang terlalu padat dan terlalu banyak. Kita benar-benar kelelahan.”


Kini, ditambah lagi dengan resesi ekonomi baru-baru ini, yang dampaknya amat mematahkan semangat. Para pekerja di seluruh dunia, baik buruh kasar maupun karyawan kantor, telah kehilangan pekerjaan dan rumah mereka. Mereka mungkin menyesal tidak bekerja lebih keras.
Mari kita perhatikan seberapa luas permasalahan ini:

  • Di Eropa, 6 dari 10 pekerja menderita stres karena pekerjaan.
  • Di Amerika Serikat, 1 diantara 3 karyawan sering merasa bekerja melewati batas.
  • Lebih di antara 2 di antara 3 orang Kanada merasa sulit menyeimbangkan kehidupan kelarga dengan pekerjaan.
  • It Diperkirakan bahwa lebih dari 600 juta pekerja, atau 22 persen dari tenaga kerja global, bekerja lebih dari 48 jam seminggu.
Angka statistik tersebut memperlihatkan betapa parahnya kesukaran manusia. Beberapa penelitian mengaitkan jam kerja yang panjang dan tidak teratur dengan kesehatan yang memburuk, hubungan yang tidak harmonis, pengasuhan anak yang buruk, perpisahan, dan perceraian.


THE “SECOND SHIFT”

A stressed mother
“Sepulang kerja,” kata seorang karyawati, ”saya harus menyiapkan makan malam, membersihkan rumah, mencuci pakaian, menjemput anak-anak, membantu mereka mengerjakan PR, dan memastikan bahwa mereka sudah mandi serta siap untuk tidur. Setelah itu, capeknya setengah mati.” Jutaan dari pekerja wanita di seluruh dunia yang diperkirakan banyaknya 1,2 miliar menghadapi ”dua pekerjaan” yang menciutkan hati ini, seperti yang juga dialami banyak kaum pria. Namun, survei memperlihatkan bahwa kaum pria sering menolak melakukan pekerjaan rumah tangga. Biasanya kaum wanita yang melakukan kebanyakan tugas ini, tidak soal mereka bekerja di luar rumah atau tidak.
Bagaimana dengan Anda? Apakah Anda bekerja terlalu keras? Atau, apakah Anda termasuk di antara jutaan orang yang sekarang menganggur? Apakah Anda ingin lebih seimbang dalam pekerjaan dan kehidupan keluarga? Jika demikian, bagaimana caranya?


Baca lebih lanjut klik disini.
Appeared in Awake!  January 2010 
  Salinan parafrasa untuk pembaca situs ini © 2011 @ Copyright © 2010 Watch Tower Bible and Tract Society 
  of Pennsylvania. All rights reserved.

Senin, 31 Oktober 2011

Uang dan Moral—Hikmah dari Sejarah

Sejarah masa lalu yang buruk jika di ambil hikmahnya untuk perubahan akan membangun suatu masyarakat adil dan makmur alih-alih masyarakat yang keos dan terdisintegrasi karena keburukan perilaku dan penyalahgunaan kekuasaan dan uang. Namun apakah itu bisa dicapai melalui penguasa manusia yang tidak sempurna? Bagaimana Uang dan Moral dapat dikendalikan? Bagaimana kita belajar dan mengambil hikmahnya? Pertimbangkan beberapa contoh sejarah di masa lampau dari orang-orang yang mempelopori suatu pengejaran kekuasaan dan kekayaan dengan menjalankan prinsip dunia: "manusia yang satu menguasai manusia yang lain ......." walaupun pencapaian mereka menjadi sejarah berdirinya negara besar dan berkuasa. Namun apakah esensi moralnya tercapai?

A scale balancing a Bible and money

Money and Morals—Can You Have Both?

A Lesson From History

PADA tanggal 7 April 1630, sekitar empat ratus orang berlayar dengan empat kapal dari Inggris ke Dunia Baru (sebutan untuk Benua Amerika kala itu). Banyak di antara mereka berpendidikan tinggi. Yang lain-lain adalah pengusaha yang sukses. Ada juga anggota parlemen. Keadaan ekonomi di Inggris sedang merosot, dan diperburuk oleh Perang Tiga Puluh Tahun yang sedang berkecamuk di Eropa (1618-48). Jadi, mereka mengambil risiko dengan meninggalkan rumah, usaha, dan kaum kerabat dan pergi demi mencari peluang yang lebih baik.

Sailing shipsNamun, rombongan yang penuh harap ini bukanlah sekadar para pedagang yang hanya mencari keuntungan. Mereka adalah orang Puritan, kelompok agama yang bergairah, yang melarikan diri dari penindasan.* Tujuan mereka yang sesungguhnya ialah membentuk masyarakat yang saleh agar mereka dan keturunan mereka dapat hidup makmur secara materi tanpa harus mengkompromikan standar Alkitab. Segera setelah berlabuh di Salem, Massachusetts, mereka mengklaim sebidang tanah di dekat pantai. Tempat tinggal mereka yang baru itu mereka namai Boston.


Sulit Menjaga Keseimbangan

John Winthrop, pemimpin dan gubernur mereka, berupaya sebisa-bisanya untuk memajukan kekayaan pribadi dan kesejahteraan umum di koloni yang baru ini. Dia ingin agar orang-orang memiliki uang sekaligus moral. Namun, menjaga keseimbangan terbukti sulit. Untuk mengantisipasi tantangan, ia berbicara panjang lebar kepada para rekannya tentang peranan kekayaan dalam suatu masyarakat yang saleh.

Seperti para gubernur Puritan lainnya, Winthrop percaya bahwa mengejar kekayaan itu sendiri tidaklah salah. Fungsi utama kekayaan, menurut pendapatnya, ialah untuk membantu orang-orang lain. Jadi, semakin kaya seseorang, semakin banyak hal baik yang dapat dilakukannya. ”Kekayaan adalah pokok yang paling meresahkan orang-orang Puritan,” komentar sejarawati Patricia O’Toole. ”Kekayaan bisa menjadi tanda berkat Allah dan godaan yang kuat untuk melakukan dosa kesombongan . . . dan dosa perbuatan daging.”

Untuk menghindari dosa-dosa yang ditimbulkan oleh kekayaan dan kemewahan, Winthrop menganjurkan kesahajaan dan pengekangan diri. Namun, tak lama kemudian, hasrat sesama warga koloni untuk mencari untung cenderung bertolak belakang dengan upayanya mendesak mereka untuk mempraktekkan kesalehan dan mengasihi satu sama lain. Timbullah perlawanan terhadap apa yang mereka anggap sebagai campur tangan Winthrop yang keterlaluan dalam urusan pribadi mereka. Beberapa orang mulai menghasut orang-orang untuk memilih majelis yang akan ikut membuat keputusan. Yang lain-lain lebih memilih hengkang ke Connecticut untuk mengejar kepentingan diri mereka sendiri.

”Kesempatan, kemakmuran, demokrasi,” kata O’Toole, ”semua merupakan daya pendorong yang kuat dalam kehidupan orang-orang Puritan Massachusetts, dan semua cenderung mengobarkan ambisi pribadi tanpa mempedulikan cita-cita Winthrop untuk menggunakan kekayaan demi kesejahteraan umum.” Pada tahun 1649, Winthrop meninggal pada usia 61 tahun, boleh dikata dengan kantong kosong. Meskipun koloni yang rapuh itu masih dapat bertahan di tengah banyak kesukaran, Winthrop tidak pernah melihat cita-citanya terwujud..


Pencarian Berlanjut

John Cita-cita John Winthrop yang idealistis untuk mewujudkan suatu dunia yang lebih baik tidak mati bersamanya. Setiap tahun, ratusan ribu orang pindah dari Afrika, Asia Tenggara, Eropa Timur, dan Amerika Latin, berharap mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Beberapa dari mereka terdorong melakukan hal ini karena pengaruh ratusan buku baru, seminar, dan situs Internet yang dihasilkan setiap tahun yang berjanji memberikan kunci untuk mendapatkan kekayaan. Jelaslah, banyak yang masih berupaya mendapatkan uang, dengan harapan tidak mengorbankan nilai-nilai moral.

Namun terus terang, hasilnya ternyata mengecewakan. Orang yang mencari kekayaan sering kali pada akhirnya mengorbankan prinsip-prinsip mereka dan kadang-kadang bahkan iman mereka pada mezbah Mamon. Oleh karena itu, sepatutnyalah Saudara bertanya, ”Dapatkah seseorang menjadi penyembah Allah yang sejati [karena rupanya Allah itu tergantikan dengan uang] dan sekaligus kaya? Bisakah tercipta suatu masyarakat yang saleh dan makmur secara materi maupun rohani?” [Selengkapnya di] artikel berikut.


*  Nama Puritan diberikan pada abad ke-16 kepada sekelompok orang Protestan dalam Gereja Inggris yang ingin memurnikan gereja mereka dari segala bentuk pengaruh Katolik Roma.
Appeared in The Watchtower  February 1, 2006

Sabtu, 15 Oktober 2011

Kehamilan Remaja~Tragedi Sedunia

Faktor Penyebab 

Sewaktu orang tua berpisah,
 risiko kehamilan meningkat
   Riset memperlihatkan bahwa banyak ibu yang masih remaja berasal dari keluarga yang berantakan. 
Suatu program penyuluhan untuk membantu para ibu remaja mendapati bahwa mereka seringkali tidak memiliki hubungan yang baik dengan ayah mereka".
    Gadis-gadis lain menjadi ibu yang tidak menikah sebagai akibat langsung pemerkosaan. Bagi beberapa diantara mereka, traumanya tampaknya memicu luka emosi yang mungkin baru menjadi nyata belakangan berupa prilaku yang merusak. Misalnya, Jasmine*, diperkosa pada usia 15 tahun. "setelah itu," ingatnya, "saya menjadi suka merusak diri, sewaktu saya berusia 19 tahun, saya hamil." Penganiayaan seksual juga dapat memicu perasan rendah diri. "Saya selalu merasa tidak berharga," Keluh Jasmine.
Anita mengalami pengalaman buruk yang serupa, "Antara usia 7 dan 11 tahun, saya dianiaya secara seksual oleh seorang remaja. Saya membenci diri saya. Saya terus mempersalahkan diri." Ia hamil pada usia 17 tahun.
   Sementara itu, beberapa remaja menjadi korban sikap terlalu percaya diri dan rasa ingin tahu. Nicole yang di kutip di artikel awal (artikel selengkapnya dapat dilihat dalam bahasa Inggris ini~majalah Awake!) mengakui, "Saya pikir saya tahu segalanya, saya bisa melakukan segalanya. Celakanya, saya juga bisa punya bayi." Carol, yang juga menjadi seorang ibu tanpa menikah pada usia yang sangat muda, bereksperimen dengan seks karena penasaran. Ia berkata,  "Rasanya ada sesuatu yang menarik yang belum sempat saya nikmati."

   Kurangnya pengetahuan tentang akibat-akibat kegiatan seksual juga menjadi faktor. Di Inggris, menurut (para) sosiolog ......., beberapa anak muda "kurang memiliki pengetahuan yang seksama tentang ... apa yang dapat diantisipasi dari suatu hubungan asmara dan apa yang menyebabkan kehamilan". Dalam suatu survei, para ibu remaja "sering kali melaporkan  sewaktu mengetahui bahwa mereka hamil bahkan sewaktu  mereka tidak menggunakan kontrasepsi".
   Meskipun begitu, perubahan sikap terhadap sekslah yang memiliki pengaruh terbesar atas kehamilan remaja. Kita hidup pada masa menakala orang-orang "mencitai kesenangan sebaliknya daripada mengasihi pencipta mereka. Dua peneliti asal Australia, Aisa Burns dan Cath Scot, mengatakan bahwa "sanksi sosial, agama,  dan ekonomi terhadap anak muda yang melakukan seks di luar nikah telah berkurang". Memilki anak diluar perkawiann tidak lagi di anggap  aib seperti pada zaman dahulu. (akibatnya beberapa kelompok orang dengan caranya sendiri bersikap serbasalah dalam tingkah karena frustasi mungkin tidak mengetahui jalan keluar yang masuk akal) Malah di beberapa daerah, para remaja menganggap bayi seperti semacam piala atau simbol status!


Luka Emosi
   Realiatas kehamilan remaja sangat berbeda dari khayalan remaja. Setelah tahu bahwa mereka hamil, para gadis sering dilanda badai emosi. Banyak orang mengaku terkejut atau terperangah. "Reaksi yang umum ialah kemarahan, rasa bersalah, dan penyangkalan," kata American Academy of Child and Adolescent Psychiatry. Namun penyangkalan dapat berbahaya, karena hal itu dapat menghalangi seorang gadis untuk mendapatakan perawatan medis yang dibutuhkan.
   "Sata takut," ingat Elvenia tentang saat ia dihadapkan pada hasil "petualangan" seksnya. Banyak gadis yang hamil tidak memiliki siapa pun untuk di ajak bicara atau terlalu malu untuk membicarakan keadaan mereka. Malah, tidak heran, beberapa remaja diliputi rasa bersalah dan takut. Banyak remaja yang hamil juga menderita depresi berat. "Saya tidak ingin hidup, mati juga tidak apa-apa," kata Jasmine.#
   Akan tetapi, apapun reaksi awal seorang gadis muda, ia pada akhirnya harus membuat sejumlah keputusan jangka panjang bagi dirinya dan anaknya. Bagaimana remaja putri dapat membuat keputusan dengan bijaksana merupakan topik di artikel berikut.
Nara sumber parafrasa Awake! Oktober 2004


Lihat dua statistik  (di Awake!, yang berjudul "Kehamilan Remajafakta yang Suram" & "Kehamilan Remaja di Seluruh Dunia" disini).


Artikel Terkait:
Sisi buruk seks pranikah! (Apakah Seks akan Memantapkan Hubungan/sampai pernikahan)
 "Bagaimana Menghadapi Tantangan Menjadi Ibu Remaja" dan "Bantuan dan Perlindungan bagi Kaum Remaja" [click judul-judul link tersebut]. Untuk mendapatkan  bantuan lebih lanjut contact dan submit di link ini



Selasa, 11 Oktober 2011

APA YANG MENENTUKAN NILAI-NILAI?

[Lihat artikel di situs sekuler] topik terkaitnya, APAKAH Anda  termasuk orang-orang yang Terombang-ambing di Lautan Nilai-Nilai Moral yang Terus Berubah? 

What Shapes Your Values?

Passengers on a subway train

Adrift in a Sea of
CHANGING VALUES

MENURUT sebuah legenda populer, ia berjalan di siang hari bolong sambil membawa lentera dalam upaya yang gigih tetapi sia-sia untuk mencari orang yang lurus hati. Ia bernama Diogenes, ia seorang filsuf yang tinggal di Athena pada abad keempat SM.

Tidak dapat dipastikan apakah legenda itu akurat atau tidak. Namun, andaikan Diogenes hidup sekarang, dapat dimaklumi jika ia harus berupaya lebih gigih untuk menemukan orang-orang yang bermoral. Banyak orang tampaknya menampik paham bahwa orang harus menganut nilai-nilai etika apa pun yang baku. Berulang kali, media massa menyoroti kebobrokan moral—dalam kehidupan pribadi, pemerintahan, profesi, olah raga, lingkungan bisnis, dan bidang-bidang lain. Banyak nilai yang dijunjung tinggi selama generasi-generasi sebelumnya tidak direspek lagi. Standar-standar yang baku dikaji ulang dan sering kali ditolak. Nilai-nilai lainnya dikagumi dalam teori tetapi tidak dalam praktek.


”Sudah bukan zamannya lagi standar-standar moral diterima umum,” kata sosiolog agama Alan Wolfe. Ia juga mengatakan, ”Dalam sejarah, belum pernah seperti sekarang ini, orang semakin merasa tidak bisa mengandalkan tradisi dan lembaga untuk membimbing mereka secara moral.” Mengenai apa yang terjadi 100 tahun belakangan ini, Los Angeles Times mengomentari pendapat filsuf Jonathan Glover bahwa kemerosotan agama dan hukum-hukum moral universal sangat berperan terhadap keruntuhan secara global menuju kekerasan.

Namun, kebingungan demikian mengenai nilai-nilai yang umum diterima, tidak membuat beberapa orang jera mencari suatu kaidah moral. Beberapa tahun yang lalu, Federico Mayor, mantan direktur jendral UNESCO, menyatakan bahwa ”lebih daripada sebelumnya, etika menjadi sesuatu yang sangat diperhatikan oleh dunia”. Tetapi, fakta bahwa dunia tidak mau menganut nilai-nilai yang positif bukanlah petunjuk bahwa tidak ada nilai-nilai yang baik yang dapat dan harus dianut.


Akan tetapi, bisakah semua orang sepakat mengenai standar yang harus dianut? Jelas tidak. Dan, jika tidak ada standar yang disepakati tentang apa yang benar dan salah, bagaimana orang bisa mengevaluasi nilai-nilai apa pun? 


Dewasa ini, relativisme moral demikian sudah populer. Namun, Saudara dapat melihat bahwa sikap ini tidak benar-benar memperbaiki keadaan moral secara umum.
Sejarawan Inggris bernama Paul Johnson berpendapat bahwa falsafah relativisme adalah salah satu faktor yang berperan dalam ”melemahkan . . . rasa tanggung jawab pribadi dan rasa wajib yang sudah terpancang kuat untuk menjalankan kaidah moral yang mapan dan secara objektif benar” yang tampaknya umum sebelum awal abad ke-20.


Maka, mungkinkah kita menemukan suatu ’kaidah moral yang secara objektif benar’ atau hidup selaras dengan ”hukum-hukum moral universal”? Adakah yang dapat menyediakan nilai-nilai yang tidak berubah dan abadi yang bisa membuat kehidupan kita lebih stabil serta memberi kita harapan untuk masa depan? Artikel berikut akan menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Appeared in The Watchtower  June 15, 2007

Selasa, 27 September 2011

Mengukur Kemiskinan yang Parah serta Upaya Mengakhirinya

 KEMISKINAN yang parah selalu dapat diartikan sebagai sesuatu hal yang mengancam kehidupan yang mencakup orang yang tidak mempunyai cukup makanan, air, bahan bakar dan tidak mendapat tempat tinggal, perawatan kesehatan, pendidikan yang memadai. Di dunia kemiskinan demikian menimpa 1.000.000.000 orang. Namun, sangat disesalkan kebanyakan orang-orang di negeri makmur, seperti di Eropa Barat dan Amerika Utara, tidak pernah tahu seperti apa kemiskinan yang parah itu.
Majalah Menara Pengawal edisi umum 1 Juni 2011, menemui beberapa orang yang mengalami kemikinan sedemikian, keterangan mereka sudah pasti mewakili orang-orang miskin lain termasuk di Indonesia yang jumlahnya mencapai 31.000.000 lebih yang tinggal di kota dan desa. (data dari Badan Pusat Statistik pada 2010).
Mbarushimana yang tinggal di Rwanda, Afrika bersama istri dan lima anaknya. Anak yang keenam meninggal akibat malaria. Ia mengatakan, “Tanah yang saya warisi begitu kecil sehingga saya dan keluarga harus pindah ke kota. Saya dan istri bekerja sebagai kuli angkut batu dan pasir. Tempat tinggal kami tidak ada jendelannya. Kami mengambil air dari sumur di kantor polisi. Kami biasanya makan sehari sekali, tapi kalau tidak ada pekerjaan, kami tidak makan. Kalau sudah begitu, saya keluar dari rumah˗˗saya tidak tahan mendengar anak-anak menangis minta makan.”
Victor dan Carmen adalah tukang sol sepatu. Mereka bersama lima orang anak tinggal di sebuah kota kecil di Bolivia. Mereka menyewa satu kamar di sebuah bangunan reyot yang atapnya bocor, dan tidak ada listrik. Agar putrinya bisa bersekolah, Victor harus membuatkan bangku untuk dia karena tidak ada tempat duduk lagi dikelas. Suami istri ini harus berjalan sepuluh kilometer mengambil kayu bakar untuk merebus air dan memasak. “Tidak ada WC,” kata Carmen, “jadi, kami harus pergi ke sungai, yang juga digunakan untuk mandi dan buang sampah. Anak-anak sering sakit.”
Fransisco dan Ilidia tinggal di pedesaan Mozambik. Mereka punya lima anak yang masih kecil, yang satu sudah meninggal akibat malaria karena rumah sakit menolak mengobatinya. Suami istri ini punya sebidang ladang kecil yang ditanami padi dan ubi, cukup untuk makanan selama tiga bulan, Fransisco mengatakan, “Tapi kadang-kadang, tidak ada hujan atau hasil ladang dicuri, maka saya mencari sedikit uang tambahan dengan memotong bambu dan menjualnya. Kami juga mencari kayu bakar dengan berjalan dua jam ke hutan. Saya dan istri masing-masing memikul satu ikat, yang satu untuk di pakai sendiri selama seminggu dan yang satu lagi untuk dijual.”
[Di Indonesia sekarang, kepala keluarga yang berusia 40 tahun keatas yang belajar dari sekolah dasar tiga puluhan tahun lalu sudah terbiasa membaca realitas dari 'cerita rakyat' dimana orang bekerja seharian mengumpulkan kayu bakar dari hutan seperti yang dilakukan keluarga dari Mozambik ini, kini di antara mereka ada yang berkecukupan namun ada juga yang kurang berkecukupan. Mereka yang kaya sudah mengakhiri kemiskinan─bagi diri mereka sendiri]
Namun, banyak orang merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres dan tidak adil jika 1 dari 7 orang di dunia ini hidup seperti tiga keluarga miskin tadi yang mengutarakan problem mereka, sedangkan miliaran orang lainnya menikmati kemakmuran yang luar biasa. Meskipun beberapa orang sudah mencoba berbuat sesuatu, tetapi berbagai upaya untuk membebaskan seluruh umat manusia dari kemiskinan selalu gagal. Mengapa? Karena orang kaya biasanya tidak mau siapa pun atau apa pun mengusik kekayaan mereka. Contohnya:
Ada yang berteori bahwa sosialisme atau komunisme bisa mewujudkan masyarakat Internasional tanpa perbedaan tingkat sosial, di mana kekayaan terbagi secara adil. Tentu saja kalangan orang kaya sangat tidak suka dengan gagasan ini. Tetapi, banyak orang setuju dengan slogan: “Setiap orang memberi dengan kemampuannnya, dan mendapat menurut kemampuannya.” Banyak yang berharap bahwa semua negara akan mengadopsi sosialisme agar dunia ini menjadi masyarakat yang sempurna. Beberapa negara makmur menerapkan aspek-aspek sosialisme dan membentuk sistem pemerintahan yang menjanjikan tunjangan kesejahteraan seumur hidup bagi semua warganya. Mereka mengaku telah menghapus kemiskinan yang mengancam kehidupan rakyat mereka.
Namun, sosialisme tidak pernah mencapai tujuannya untuk menciptakan masyarakat yang tidak mementingkan diri. Ternyata tidaklah realistis untuk mengharapkan para warga bekerja demi manfaat masyarakat dan bukan demi kepentingan pribadi. Ada yang tidak suka menunjang orang miskin; mereka mengatakan bahwa kemurahan hati terhadap orang miskin akan membuat beberapa di antara mereka enggan bekerja.
Selanjutnya majalah MP edisi ini juga mengulas soal Bantuan Luar Negeri sebagai bentuk upaya lain untuk memberikan solusi masalah kemiskinan, namun itu mengecewakan.
Membantu negara-negara miskin keluar dari kemiskinan ternyata lebih sulit daripada membantu negara-negara kaya pulih dari akibat peperangan. Eropa sudah memiliki industri, perdagangan dan transportasi. Ekonominya saja yang perlu diperbaiki. Di negara-negara miskin, sekalipun dana dari luar negeri membantu tersedianya jalan, sekolah dan klinik, orang-orang masih sangat miskin karena tidak adanya bisnis, sumber daya alam, dan akses ke jalur perdagangan.
Lingkaran kemiskinan itu rumit dan sulit diputus. Misalnya, penyakit menyebabkan kemiskinan, dan kemiskinan menyebabkan penyakit. Anak-anak yang kurang makan bisa sangat lemah fisik dan mentalnya sehingga sewaktu dewasa, mereka tidak bisa mengurus anak-anak mereka sendiri. Selain itu, negara-negara kaya membuang surplus makanan ke nagara-negara miskin dengan label “bantuan”,  para petani dan pedagang setempat bangkrut sehingga mengakibatkan lebih banyak kemiskinan. Dengan mengirimkan uang ke negara-negara miskin, munculah lingkaran problem lain: Bantuan gampang dikorupsi, dan selanjutnya korupsi mengakibatkan kemiskinan. Pada dasarnya, bantuan luar negeri gagal karena tidak mengatasi akar penyebab kemiskinan.
Penyebab kemiskinan. Kemiskinan yang parah diakibatkan karena negara, pemerintahan, dan orang-orang hanya berminat memajukan dan melindungi kepentingan sendiri. Misalnya, pemerintahan negara-negara kaya kurang memprioritaskan masalah kemiskinan dunia mengingat mereka dipilih secara demokratis dan harus membuat para pemilih mereka senang. Maka, mereka melarang petani negara miskin menjual hasil bumi di negara kaya agar petani negara kaya tidak kehilangan pekerjaan. Selain itu, penguasa negara kaya memberikan banyak sekali subsidi kepada petani mereka agar bisa menjual lebih banyak daripada petani negara miskin.
Jelaslah, penyebab kemiskinan─kecenderungan orang dan pemerintahan selalu melindungi kepentingan diri─adalah manusia. Salamo (raja Sulaiman), mengungkapkan sebagai berikut, “Manusia menguasai manusia sehingga ia celaka.”─Penghotbah 8:9.
Mengingat hal itu belum ada upaya manusia yang berhasil bahkan belum ada hukum manusia yang sungguh-sungguh bisa dijalankan, namun di masa lampau hukum Pencipta atau hukum adimanusia pernah diaplikasikan kepada kelompok bangsa dan itu menjadi petunjuk bahwa memang perlu adanya sebuah upaya adimanusia karena upaya manusia tidak akan pernah mengakhiri kemiskinan!


Carilah dan periksa link-link untuk artikel terkait. Masalah Kemiskinan Dapatkah Dibendung?
[terdapat pada format digital untuk majalah Menara Pengawal edisi 1 Juni 2011]




Senin, 05 September 2011

CARA BERHEMAT

[Kembali ke Artikel Sekuler]


KETIKA Anda dan keluarga mengalami resesi ekonomi, agar tidak sampai depresi ekonomi, pertimbangkan hal-hal berikut ini, sebenarnya ini juga bermanfaat bagi rumah tangga yang ekonominya sedang stabil, menyederhanakan gaya hidup sering kali tidak menyimpangkan Anda dari penyalahgunaan uang: 


Pertama, sebelum membeli barang yang mahal, pertimbangkan apakah itu memang perlu?


Kedua, jika Anda ingin membeli suatu barang, carilah yang didiskon atau yang bekas tetapi tetapi masih bagus.  Easpen dan Janne, orang tua di Norwegia, butuh kereta bayi untuk putra mereka. Daniel. Mereka membeli yang kondisinya relatif baru dengan hanya separuh harga. Kalau "Daniel sudah lebih besar," kata Espen, "saya yakin kami bisa menjualnya lagi dengan harga yang lumayan." Tetapi, ia memperingatkan, "Butuh waktu lama untuk memperoleh penawaran yang bagus." (Bertindaklah bijaksana dengan mencatat nama dan alamat penjual serta meminta tanda terima, agar Anda yakin bahwa Anda tidak membeli barang curian)


Ketiga, jangan ikuti dorongan hati; tunda saja dahulu. Jika Anda  merasa bahwa barang itu sangat dibutuhkan, Anda mungkin bisa mencari barang serupa yang sedang didiskon atau yang bekas. Juga, Anda bisa hemat jika Anda tidak merasa harus membeli barang-barang bermerek. Selain itu, alih-alih membeli baju anak model terkini di toko yang mahal, cobalah manfaatkan baju turunan.


Keempat, ingatlah bahwa membeli bahan makanan dan memasak sendiri selalu lebih hemat daripada makan di luar. Jika anak Anda usia sekolah, cobalah ajari mereka meyiapkan bekal ketimbang memberikan uang jajan untuk makanan yang lebih mahal. Dan, alih-alih membeli minuman yang mahal, menumlah air. Air lebih sehat dan tidak menguras dompet Anda.


Dahulu, keluarga-keluarga punya kebun sayur sendiri. Nah bagaimana kalau Anda menanam sendiri sayur-sayuran. Banyak orang termasuk..... (Klik croping majalah di bawah ini untuk kelanjutan artikel ini) Klik 2 X di crop gambar di bawah untuk original size.

Artikel parafrasa  dan croping dari majalah Sedarlah! edisi September 2011

Sabtu, 03 September 2011

Bagaimana Mengatur Uang (sinopsis)

Kembali ke Blog sekuler!
SUDAHKAH Anda merasakan ekonomi di negara Anda bahkan di tengah-tengah kehidupan Anda sendiri sedang di "Hantam RESESI BESAR"  begitulah sebuah judul kecil dalam artikel yang muncul di halaman ke-tiga di majalah peringatan kita yakni Sedarlah! atau majalah AWAKE! dalam bahasa kita.


Di awal artikel ini pertama-tama di buka dengan pengantar yang mengutip kalimat berita di Kompas.com: "Krisis ekonomi terburuk sejak Depresi Besar."  Yang menghubungkan dengan kejatuhan ekonomi dunia sejak tiga tahun terakhir mengulangi krisis depresi besar pada tahun 1933. Apa penyebabnya? Mengutip kata-kata majalah Newsweek yang dengan sederhana menjawab, "Meminjam secara gila-gilaan." adalah alasan utama mengapa orang sampai gila-gilaan meminjam uang untuk barang yang sebenarnya tidak sanggup mereka beli. 


Apa faktanya?  Banyak negara sempoyongan akibat hantaman Resesi Besar. Mengutip salah satu koran di Afrika Selatan yang melaporkan bahwa hampir 3.000.000 orang [di Afrika Selatan] sudah tiga bulan menunggak, dan sekitar 250.000 pekerja kelas menengah  di PHK selama dua tahun terakhir. Pada tahun-tahun belakangan ini jumlah orang yang kehilangan pekerjaan mencapai puluhan juta. Ketika mengamati tanda-tanda pemulihan di Amerika Serikat, Finansial Times, menyambutnya dengan guyonan, "Pemulihan itu.. sejak Juni 2009 boleh dinamai 'Kecewa Besar'." dan selanjutnya menambahkan, "Banyak ekonom menilai  bahwa utang yang harus dibayar akan menekan daya beli hingga beberapa tahun mendatang."  


Menarik, Jika Anda adalah salah satu orang yang dihantam Resesi Besar yang di sebut di atas, Anda mungkin setuju dengan kata-kata David Beart dalam esainya, "Tampaknya ada banyak ulasan tentang problem finansial dunia, tetapi hanya sedikit informasi tentang cara mengatasinya."


Ya! pernyataan itu mungkin benar, tetapi bagi pembaca setia majalah yang rata-rata pencetakannya mencapai 39.913.000 eksemplar dalamn 83 bahasa ini yakni Awake! atau Sedarlah! pasti tidak akan kekurangan informasi yang bermanfaat.


Pernakah Anda menemukan jawaban  atas pertanyaan-pertanyaan seperti: Apa manfaatnya berhemat? yang akan dijawab secara komprehensif dan tepat guna. Kemudian, Apa yang bisa Anda lakukan jika Anda terlilit hutang? Bagaimana Anda bisa belajar untuk mengatur uang dengan baik?


Bacalah majalah digital ini yang kami berikan khusus kepada pengunjung portal (blog) ini, klik judul besar ini: BAGAIMANA MENGATUR UANG powered by Docs.Google.Com.







Selasa, 09 Agustus 2011

APAKAH KEJAHATAN YANG PENUH KEKERASAN AKAN BERAKHIR?


Artikel dari Situs Web Resmi Saksi-Saksi Yehuwa

Damai di Bumi AKHIRNYA!

BEBERAPA percaya bahwa hanya melalui kekerasan mereka akan mencapai kebebasan politik dan spiritual kemurnian-yang hanya akan menghilangkan kekuatan destruktif penguasa yang tidak diinginkan. Juga, beberapa pemerintah menggunakan teror untuk menjaga ketertiban dan menjaga masyarakat subjek di bawah kontrol. Tetapi jika memang benar bahwa terorisme adalah alat yang efektif reformasi pemerintahan dan sosial, harus menghasilkan perdamaian, kemakmuran, dan stabilitas.Setelah beberapa saat, kekerasan dan ketakutan akan mereda. Apakah kita melihat hasil tersebut?

Yang benar adalah bahwa terorisme memecah menghormati kehidupan dan menyebabkan pertumpahan darah dan kekejaman. Karena rasa sakit, korban sering membalas, yang menyebabkan represi lebih lanjut dan, pada gilirannya, untuk pembalasan lebih.

SELENGKAPNYA



[DIGITAL ARTIKEL POWERED BY GOOGLE, PDF MAGAZINE BY WATCHTOWER.ORG]: 

DALANG DI BALIK SEMUA KEJAHATAN DISINGKAPKAN, Ia Tidak Kelihatan, Modus Kerjanya Seperti Gembong Mafia, atau Para Koruptor yang Sering Menyembunyikan Identitasnya.

PENGARUH TERSELUBUNG: Fakta tentang Hal Gaib


Selasa, 07 Juni 2011

Bagaimana Perasaan Banyak Orang? Apa Jawabannya?




Hukum manusia tidak menjamin keadilan dan pemerataan kesejahteraan sosial, misalnya di negeri ini masih belum menemukan solusi penegakan hukum, issue besarnya tentang kepastian hukum, ketika lembaga legislatif mendapati persoalan korupsi issue publisitas kemudian dilemparkan ke lembaga yudikatif  sementara penguasa ekskutif pun menemui jalan buntu karena terlilit kasus-kasus hukum yang tak kunjung tuntas, ternyata didapati tiga lembaga ini terus tersandera dalam siklus penyuapan. 

Secara emosi pun banyak orang tidak kunjung menemukan keamanan.  Sungguh menyedihkan, banyak orang yang berharap menemukan kedamaian dan kepuasan dalam perkawinan dan kehidupan keluarga akhirnya mengalami kekecewaan. Secara rohani, banyak orang yang pergi ke [tempat-tempat ibadat] malah menjadi bingung dan gundah. Mereka meragukan manfaat dari bimbingan yang mereka terima, apalagi sewaktu melihat tingkah laku yang tercela dan ajaran yang tidak berdasarkan Alkitab dari pemimpin agama mereka. Itu sebabnya, banyak orang merasa tidak punya pilihan kecuali berharap pada sains atau niat baik serta akal sehat sesama mereka. Tidak mengherankan, orang-orang di sekitar kita merasa sangat tidak aman atau memilih untuk tidak terlalu memusingkan masa depan mereka. Parafrasa dari w2011 6/15. gambar dari feelingfaces.com

Tentu kita tidak ingin generasi mendatang tambah rusak secara mental karena pendahulu mereka tidak mampu mengatasi persoalan diatas. Contohnya hakim: kehilangan panutan munusia, sehingga tidak sanggup memastikan penegakan hukum. Sebenarnya tidak salalu hakim tetapi semua unsur dalam kekuasaan perlu rukun dengan anutan tertinggi~ sesungguhnya anutan yang sangat dilupakan adalah Pencipta mereka sendiri yang kini di abaikan, rasa takut akan Penguasa Yang Mahatingggi (Mazmur 83:18) di alam semesta ini telah pudar.

 Maka apa yang dibutuhkan anak-anak kita atau generasi berikut? Semua Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas terjawab dalam majalah digital ini. Powered by GoogleDoc. Harap bersabar untuk menampilkannya docviever google membutuhkan waktu.







Bagaimana Perasaan Anda Melihat Orang-Orang Melakukan Apa yang Buruk?

Mengapa Orang Melakukan Hal-Hal yang Buruk?

A man being arrested

BANYAK orang akan menyetujui satu hal ini: Kita semua tidak sempurna dan karena itu berbuat salah dan melakukan hal-hal yang belakangan kita sesali. Sekalipun benar, apakah itu yang menjadi penyebab banyak perbuatan buruk, besar dan kecil, yang kita lihat atau dengar hampir setiap hari, secara langsung atau melalui media?

Meskipun tidak sempurna, manusia pada umumnya mengakui bahwa ada batasan moral yang tidak boleh dilanggar dan bahwa manusia sanggup menahan diri untuk tidak melakukan tindak kejahatan. Biasanya, orang-orang juga setuju bahwa ada perbedaan antara memfitnah dan mengatakan apa yang tidak benar karena khilaf, antara melakukan pembunuhan terencana dan mencederai orang secara tidak sengaja. Meskipun demikian, perbuatan yang mengejutkan sering kali dilakukan oleh orang yang tampak biasa-biasa saja di masyarakat. Mengapa? Mengapa orang melakukan hal-hal buruk?
A woman shoplifting
Alkitab membantu kita mengerti hal ini. Alkitab dengan tepat menunjukkan alasan-alasan utama mengapa orang melakukan hal-hal yang mereka tahu buruk. Perhatikan apa yang dikatakannya.
  • “Karena penindasan, orang berhikmat dapat bertindak gila.”—PENGHOTBAH 7:7.
    Alkitab mengakui bahwa adakalanya, karena dipaksa keadaan, orang melakukan hal-hal yang biasanya tidak akan mereka lakukan. Ada yang bahkan melakukan tindak kriminal dalam upaya mewujudkan apa yang mereka anggap sebagai solusi untuk penderitaan dan ketidakadilan. ”Dalam banyak kasus,” kata buku Urban Terrorism, ”motivasi utama seorang teroris adalah frustrasi murni terhadap kekuatan politik, sosial dan ekonomi yang tampaknya tidak dapat berubah.”
  • “Akar segala kejahatan ialah cinta uang.”—1 TIMOTIUS 6:10TERJEMAHAN BARU.
    Ada yang mengatakan bahwa semua orang bisa dibeli, yang menyiratkan bahwa bahkan orang baik mau melanggar peraturan dan prinsip moral jika disodori banyak uang. Orang yang kelihatannya ramah dan baik hati di bawah keadaan normal seakan-akan berubah total menjadi menyebalkan dan garang kalau sudah menyangkut uang. Bayangkan banyaknya kejahatan yang berakar pada ketamakan—pemerasan, penipuan, penculikan, dan bahkan pembunuhan.
  • “Karena hukuman atas perbuatan jahat tidak segera dilaksanakan, itulah sebabnya hati putra-putra manusia berkeras sepenuhnya untuk melakukan yang buruk”—PENGHOTBAH 8:11.
    Ayat tersebut menunjukkan kecenderungan manusia untuk berpikir bahwa orang dapat lolos dari hukuman jika tidak ketahuan oleh yang berwenang. Begitulah halnya dengan orang yang mengebut di jalan tol, menyontek saat ujian, menggelapkan uang rakyat, dan yang lebih buruk lagi. Jika hukum tidak diterapkan secara konsisten atau jika tidak ada lagi rasa takut ketahuan, orang yang biasanya taat hukum mungkin akan menjadi berani melakukan hal-hal yang biasanya tidak akan ia lakukan. ”Karena mudahnya penjahat lolos dari hukuman,” komentar majalah Arguments and Facts, ”warga biasa tampaknya terdorong untuk melakukan kejahatan yang paling brutal.”
  • “Masing-masing dicobai dengan ditarik dan dipikat oleh keinginannya sendiri. Kemudian apabila keinginan itu telah menjadi subur, ia akan melahirkan dosa.”—YAKUBUS 1:14, 15.
    Semua orang bisa memiliki pikiran yang salah. Setiap hari, kita dibombardir dengan banyak sekali ajakan dan godaan untuk berbuat salah. Alkitab memberi tahu orang Kristen masa awal, ”Godaan yang menimpa kamu hanyalah apa yang umum bagi manusia.” (1 Korintus 10:13) Sekalipun demikian, hasil akhirnya bergantung pada pilihan yang dibuat—segera menepis pikiran buruk atau terus memikirkannya dan membiarkannya berkembang. Ayat tadi, kutipan dari surat terilham Yakobus, memperingatkan bahwa jika seseorang membiarkan keinginan yang salah ”menjadi subur”, tindakan yang buruk pasti menyusul.
  • “Ia yang berjalan dengan orang-orang berhikmat akan menjadi berhikmat, tetapi ia yang berurusan dengan orang-orang bebal akan mengalami kemalangan.”—AMSAL 13:20.
    Jangan pernah meremehkan pengaruh teman atas diri kita—entah itu baik atau buruk. Sering sekali, orang melakukan hal-hal yang awalnya tidak mereka niatkan—semuanya mereka lakukan karena tekanan teman atau, seperti kata banyak orang, karena pergaulan buruk, dan bencanalah yang mereka tuai. Dalam bahasa Alkitab, ’orang bebal’ tidak memaksudkan orang yang bodoh secara intelektual, tetapi orang yang mengabaikan nasihat yang bijaksana dari Firman Allah. Tua atau muda, jika kita tidak memilih teman bergaul dengan bijaksana, yaitu, menurut standar yang baik dari Alkitab, kita bisa mengantisipasi ”kemalangan.”
Ayat-ayat tadi dan banyak ayat lain dalam Alkitab dengan tepat menjelaskan mengapa orang-orang—mungkin yang biasanya normal-normal saja—melakukan apa yang buruk, bahkan yang mengejutkan. Memang bermanfaat jika kita memahami kekuatan yang mendorong orang melakukan hal-hal yang mengerikan, tetapi adakah harapan bahwa keadaan akan membaik? Ya, karena Alkitab tidak hanya menjelaskan mengapa orang melakukan tindak kejahatan tetapi juga menjanjikan bahwa perbuatan seperti itu tidak akan ada lagi. Apa saja yang dijanjikannya? Apakah semua hal buruk di dunia ini akan benar-benar berakhir? Artikel berikut akan menjawabnya.


Selanjutnya: Bagaimana Orang-Orang yang Melakukan Hal-Hal Buruk Diubah?




Appeared in The Watchtower  September 1, 2010